
Siang berganti sore. Mobil yang dikendarai Albert memasuki halaman Mansion. Saat Aina dan Alvian turun, Albert masih duduk di kursi setir sambil memandangi Aina dari jendela mobil.
"Uncle Abet, kok gak tulun sih," keluh Alvian saat melihat Albert masih berada di dalam mobil. Wajahnya begitu cemberut seolah bad mood karena tidak punya teman bermain.
"Uncle ada urusan sebentar, nanti malam kita main lagi. Bye," sahut Albert sambil melambaikan tangannya lalu kembali tancap gas meninggalkan tempat itu.
Ya, hari ini dia harus pergi untuk membereskan unit apartemen milik El Barack yang akan dia tempati. Dia akan memulai kehidupan barunya, sebagai seorang pria dewasa yang mandiri.
Setelah kepergian Albert Aina dan Al berbalik masuk kebagian dalam Mansion, mereka sudah di sambut beberapa orang pelayan yang menunduk hormat saat menyadari kedatangannya.
"Selamat sore Nona. Tadi ada kurir yang mengantarkan paket untuk anda," ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk.
"Paket?" Aina nampak berpikir keras karena seingatnya dia tidak memesan barang apapun melalui aplikasi online. "Baiklah, terima kasih Bi. Sekarang paketnya di mana?"
"Saya masukkan kekamar anda, Nona," jawab pelayan itu lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya naik dulu." Aina menoleh melihat Alvian. "Al, ayo kita naik, kamu harus mandi."
"Tidak mau, Al mau ketemu Kakek," ucap Al dengan wajah masam, dia sepertinya masih kesal karena Albert pergi.
"Nona, Tuan Al biar sama saya saja. Kebetulan tadi tuan besar menunggunya, nanti biar saya cicil yang mandikan," sahut pelayan itu.
__ADS_1
"Ah begitu ya. Kalau begitu saya titip ya Bi." Aina melepaskan tangan sang putra dan membiarkannya mendekati sang pelayan. "Al, Mama naik dulu ya."
"Iya, Ma," ucap Al sambil menarik tangan sang pelayan agar segera pergi dari tempat itu. Sepertinya dia sudah begitu dekat dengan sang Kakek sampai-sampai tidak sabar untuk bertemu.
Sementara itu Aina pun melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua. Dia masih terlihat santai ketika melangkah menuju kamarnya, hingga saat sampai di dalam, matanya membulat melihat tumpukan paket di atas meja sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Apa ini?" perlahan dia melangkah mendekat melihat satu persatu paket dan membaca keterangan yang ada di sana. Dia bisa melihat bahwa paket itu dipesan atas namanya dan semua sudah dibayar.
"Banyak sekali, tapi ini dari ...." dia mencoba untuk berpikir dan mencari jawaban hingga akhirnya pikirannya tertuju kepada El Barack. Ya, siapa lagi yang akan membeli semua paket itu jika bukan seorang El Barack Alexander. "Ini sudah pasti dia."
"Aku pulang."
Aina berbalik melihat seorang pria yang sedang berdiri di ambang pintu kamar sambil melempar senyum kepadanya. Baru saja dia membahas tentang pria itu dan beberapa detik setelahnya pria itu benar-benar datang. "Apa kamu yang membeli semua ini?"
"Apa isi dari semua paket ini?" tanya Aina penasaran. dia mencoba untuk melepaskan rangkulan El Barack di bahunya tetapi ternyata lengan kekar itu tidak mau beranjak.
"Semuanya untuk kamu, aku juga lupa apa saja yang aku beli." El melepaskan terang bulannya lalu mengubah posisi menghadap sang istri. "Bagaimana? Aku yakin kamu pasti merasa terharu dan terpukau karenaku 'kan?"
"Hah, terpukau? Anda menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang yang harganya sangat di luar nalar." Aina melangkah mendekat mengambil satu paket diatas meja. "Bagaimana bisa anda membeli celana d*lam untuk saya dengan ukuran XL dan harganya 500 ribu."
"Apa itu terlalu besar?" El-barack mengalihkan pandangannya ke tubuh bagian bawah Aina. "Aku hanya membeli sesuai ukuran yang aku lihat saat ini. Oh iya, aku ingat celana itu, warna merah dan hitam dengan aksen renda."
__ADS_1
Aina menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala. "Suamiku yang terhormat, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku bisa membeli kebutuhanku sendiri, dan tentu saja secukupnya."
"Hm, aku hanya sedang mencoba membangun situasi yang nyata diantara kita." El Barack melangkah mendekati Aina, mengusap lembut pipi lembut sang istri dengan tangan kanannya. "Karena sampai saat ini, aku masih merasa kamu melihatku sebagai orang asing."
Aina menatap sang suami lekat dengan bibir membisu. Ya, dia sadar bahwa saat ini situasi antara dia dan El Barack masih begitu asing. mereka bahkan belum saling mengenal satu sama lain dengan baik.
Beberapa detik Aina nampak berpikir hingga akhirnya dia ingat sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada suaminya itu. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Hm, tanyakan saja." El-barack menuntun Aina agar duduk di sofa bersamanya.
"Aku ingin tahu, selama empat tahun kita tidak bertemu, apa saja yang sudah terjadi dalam hidup seorang El Barack Alexander?" tanya Aina yang nampak begitu penasaran.
Pertanyaan itu cukup untuk membuat El-Barack kaget sekaligus bingung. Entah kenapa dia merasa begitu malu untuk mengungkapkan tentang penyakit dan masa sulit yang dulu dia alami.
"I-itu, aku ... aku ...." Dengan wajah panik, El-barack berdiri dari posisi duduknya. "Kita bahas nanti. Aku mau bertemu Al dulu, dia bersama Papa 'kan?"
"Ta-tapi kita belum ...." Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya saat sang suami berlalu pergi dengan langkah cepat. Melihat sikap El-barack, membuat Aina merasa semakin penasaran. "Rasa sakit seperti apa yang dia lalui hingga membuatnya menutup diri seperti ini."
Bersambung ๐๐
Jangan lupa like+komen-vote n hadiahnya ya gaess๐น
__ADS_1
Jangan lupa mampir kenovel yang satu ini ya gaess..