After One Night Mistake

After One Night Mistake
Menjauhlah


__ADS_3

Larisa terpaku, teriakan El-barack membuat tubuhnya bergetar. Tatapan teduh itu tak terlihat lagi, di dalam mata seorang pria yang dulu sangat dia cintai.


Asing, sangat amat asing. Dulu sekali mereka adalah teman baik, namun ego Larisa yang jatuh cinta sepihak telah menghancurkan segalanya. Dia murka saat El-barack menolak cintanya, dan setelah itu drama skandal pelecehan Larisa jadikan senjata untuk balas dendam.


Menghilang bak ditelan bumi, dia pikir bisa datang begitu mudah tanpa rasa bersalah? Dia tak tahu jika selama empat tahun ini, El-barack telah menunggu mereka kembali dipertemukan.


Bukan untuk memperbaiki kisah, namun El-barack ingin menunjukkan jika dirinya pria yang punya pendirian, tidak akan goyah meski skandal empat tahun lalu sempat melenyapkan semangat hidupnya.


"Kamu datang demi uang? Iya 'kan!"


"El lepaskan aku, kamu membuat aku malu di lihat banyak orang." Larisa masih mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan El-barack pada lengannya.


El-barack terkekeh kecil saat menjadi ucapan Larisa. "Malu? Lalu apa yang kamu lakukan padaku empat tahun lalu, itu apa hah? Sekarang dengarkan aku baik-baik, aku sudah menikah, aku punya anak dan aku hidup bahagia. Jika kamu datang untuk mengambil peran orang ketiga, maaf tidak ada tempat untuk figuran didalam hatiku."

__ADS_1


Entah mengapa El-barack merasa begitu emosional. Ingatannya kembali berputar dimasa silam, semua kekacauan yang disebabkan Larisa bukan hanya menghancurkan hidupnya tetapi hidup Aina juga.


Sudah banyak hal yang El-barack lakukan untuk membayar rasa bersalahnya kepada Aina, namun sampai detik ini, dia belum merasa cukup. Dia ingin terus membahagiakan keluarga kecilnya dan saat melihat seorang wanita yang hendak menjadi parasit, tentu saja dia begerak cepat untuk membasminya.


Setelah sempat terdiam, El-barack menghela napas berat kemudian kembali menatap Larisa dan melepaskan cengkraman tangannya. "Aku sudah selesai disini, aku sudah melepaskan beban yang aku pendam selama empat tahun. Sekarang aku memberikan kamu kesempatan untuk memilih, kembalilah ke tempat asalmu dan jangan pernah kembali atau, kamu ingin tetap disini, itu berarti kita akan bertemu di hadapan pengadilan, melanjutkan kasus pencemaran nama baik."


Larisa mulai terlihat ketakutan, dia mundur perlahan, berbalik dan berlalu pergi dengan langkah cepat. El-barack masih bediri di sana, melihat kepergian Larisa hingga menghilang dari pandangannya.


"Ban**sat!"


Prank!


Larisa melempar satu cangkir hingga remuk membentur tembok. Dia terus mondar mandir tidak jelas, merasa gagal atas semua yang belum sempat dimulai. Ya, dia bahkan baru menyapa El-barack dengan beberapa kata dan dia dihempas begitu saja.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara Tante Merry. Dia sudah berbohong padaku, El-barack yang sekarang bukan pria bodoh seperti dulu, sial!"


Larisa meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah beberapa saat mencoba akhirnya terhubung juga.


"Halo, eh nenek sihir. Gara-gara kamu aku hampir masuk penjara! El-barack sekarang benar-benar asing, tidak seperti dulu."


[Eh kok salah saya, itu kan tugas kamu untuk meluluhkan dia, dasar wanita murahan! Berani kamu bentak-bentak saya hah?]


"Berani lah, lihat saja nanti. Akan aku bongkar semuanya, lihat saja! Ini sih aku buang-buang waktu datang cuma untuk mendapatkan penghinaan dari El-barack, gara-gara kamu dasar nenek sihir."


Larisa segera mematikan panggilan telepon itu, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang hotel. Mungkin malam ini dia tidak akan bisa tidur karena memikirkan ancaman El-barack.


__ADS_1


__ADS_2