
"Ck, haha." El-barack mulai terbahak dia sudah menduga Aina pasti akan lupa dan pagi ini dia akan membuat sang istri mengingat kejadian malam tadi. "Kamu benar-benar lupa?"
"Lupa apa? Aku merasa tidak melakukan apapun," ucap Aina percaya diri. Dia pikir saat ini sang suami pasti sedang mengerjainya.
El Barack menganggukkan kepalanya. "Baiklah tapi aku punya bukti." El-barack mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Malam tadi dia sempat merekam semua ucapan Aina. "Dengarkan ini baik-baik."
Aina mendekatkan telinganya ke speaker ponsel sang suami. Sesaat wajahnya nampak biasa saja, sampai beberapa saat kemudian wajahnya mulai memerah dengan mata membulat. "A-apa ini?"
"Kamu sudah menyukai aku sejak dulu, iya kan?"
Mati aku, kenapa aku bisa mengatakan semua itu, batin Aina.
"I-itu tidak benar," sanggahnya.
"Benarkah." El semakin mengeratkan lingkar tangannya di pinggang Aina. "Aku saja, kamu mencitaku sejak lama. Haha, aku memang sangat mempesona 'kan?"
Wajah Aina semaki merah, dia mendorong tubuh sang suami agar menjauh darinya. "Aku ... kenapa kamu percaya perkataan orang mabuk? Tidak hanya halusinasi saja."
__ADS_1
"Lalu apa kamu tidak mencintaiku? Apa hanya aku yang jatuh cinta disini?" tanya El-barack seraya memicingkan matanya. Dia kembali mendekat, mendorong tubuh Aina hingga membentur besi pembatas balkon. "Do you love me?"
Sejenak Aina terdiam menatap sang suami yang terlihat begitu serius saat bertanya kepadanya. Tidak Aina pungkiri dia memang sudah menyukai El-barack sejak lama, namun untuk mengakuinya begitu sulit.
Perlahan tangan Aina bergerak menyentuh bagian wajah sang suami dengan lembut. "Apa seorang pria juga membutuhkan pengakuan? Bahkan setelah seorang wanita telah menyerahkan tubuh, hati dan juga pikirannya?"
Sudut bibir El-barack kembali tertarik keatas, di tatapnya kedua netra sang istri seolah mencari jawaban, hingga detik selanjutnya dengan gerakan cepat dia menyatukan indra pengecap mereka.
Menyapu pelan, melilit penuh kehangatan. Jari jemari Aina mencengkram erat punggung sang suami, mungkin sudah meninggalkan luka namun sensasi yang tiba-tiba saja tercipta membuat tubuh kekar itu men*gang hingga tidak merasakan apapun secuali kehangatan bibir Aina.
Setelah beberapa saat El-barack melepaskan tautan mereka lalu beralih ke leher hingga menimbulkan bekas kemerahan disana, perlahan tangannya menyibak jubah yang dipakai sang istri.
"Oh s*it!" El Barack segera menjauh dari tubuh sang istri. "Ya, I know. Tapi kenapa jadi tanggung begini. Huuft, ya aku akan menunggu enam hari dari sekarang." Dia segera berbalik melangkah masuk kembali ke dalam kamar.
Aina segera menyusul masuk, namun tiba-tiba dia menarik tangan El-barack, menuntunnya duduk di tepi ranjang. "Aku bisa melakukan cara yang lain ... sepertinya ini akan berhasil."
"A-apa maksudmu?" tanya El-barack sambil mengerjap bingung.
__ADS_1
Sejenak Aina nampak terdiam, memandangi bagian bawah tubuh sang suami sambil menelan saliva sekuat tenaga. Entah apa yang ada dipikiran wanita 28 tahun itu sekarang.
Setelah beberapa saat dia mulai berlutut dihadapan suaminya, mengerakkan tangan membuka belt yang melilit di pinggang El-barack.
El Barack terlihat kaget hingga segera mencegah tangan Aina. "Aina, kamu ...."
"Shut up." Aina menyingkirkan tangan El-barack lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. "Kita sudah sama-sama dewasa. Aku tidak pernah melakukannya tapi kamu pasti tahu maksudku."
Aina kembali terdiam saat melihat bagian dalam yang membuatnya tertegun. Setelah beberapa saat dia memberanikan diri membuka lapisan kain terakhir dan mulai menenggelamkan wajahnya disana.
"A-Ai ...." El-barack mendogak seraya memejamkan matanya. "Da-dari mana kamu mempelajari semua ini?" tanya dengan suara bergetar.
Mendengar pertanyaan ***** suami, Aina menghentikan aktivitasnya sejenak, mengusap bibirnya yang terlihat basah. "Empat tahun lalu, kamu mungkin lupa apa yang sudah kamu lakukan bersamaku. Tapi aku mengingat semuanya. Saat itu kamu memaksaku melakukan ini, tapi hari ini aku melakukannya secara suka rela, apa kamu tidak suka?"
Oh s*it ternyata aku melakukan banyak hal bersamanya empat tahun lalu, kenapa satupun tidak ada yang bisa aku ingat, batin El-barack.
"Aku suka semua yang ada pada dirimu Aina," ucap El-barack dengan napas tersengal-sengal menahan gejolak hasrat yang mendominasi tubuhnya saat ini. "Lakukan lagi sayang."
__ADS_1
Aina kembali menenggelamkan wajahnya disana, memulai permainan solo meski tidak pro namun mampu membuat sang suami merasa puas.
Bersambung 💕🙏