
Bertempat di toko kue milik Aina, tepatnya di balkon lantai dua. Aina dan Yuna duduk sambil menikmati kopi dan cake. Meski baru beberapa hari namun rasanya sudah begitu lama mereka tidak mengobrol bersama.
Yuna memejamkan matanya saat menikmati kopi dari cangkir yang ada di genggaman tangannya. "Hm, sudah lama aku tidak sesantai ini. Sebagian waktuku habis untuk mencuci pakaian dan tidur, ck luar biasa bukan?"
"Kenapa kamu bicara seperti orang frustasi? Bukankah kamu sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu." Aina menyodorkan sepotong red Velvet cake kehadapan Yuna. "Makanlah."
Yuna hanya menghela napas panjang seraya memandangi cake tersebut. Dia kembali mengingat apa yang dia lihat pagi tadi dan hal itu membuatnya tidak tenang. "Sebenarnya aku ingin cerita sesuatu."
"Sebenarnya aku juga ingin cerita sesuatu ..." Aina kembali membayangkan apa yang terjadi antara dia dan El pagi ini, tentang bagaimana El mengungkapkan perasaan kepadanya tetapi dia sendiri merasa ragu untuk membalas. "Huuft, tidak jadi, nanti saja. Kamu mau cerita apa?"
"Ehm, baiklah jadi begini." Yuna menegapkan posisinya. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia harap keputusan memberitahu Aina tentang hal ini, sudah tepat.
Dia yakin sekali wanita yang dia lihat pagi tadi adalah Kakak ipar Aina. "Pagi tadi saat aku keluar dari unit apartemenku, aku tidak sengaja melihat Kak Lin keluar dari salah satu unit lain bersama seorang pria."
"Maksud kamu Kak Lin, istri Kak Rey?" Aina mulai terlihat serius sampai kesusahan menelan makanannya. "Kamu yakin tidak salah lihat Yu?"
__ADS_1
Brak!
Yuna menggebrak meja dengan raut wajah serius. "Itu dia, aku juga berharap aku hanya salah lihat, tapi ternyata ... saat aku mengikuti mereka, aku benar-benar melihat Kak Lin bermesra-mesraan dengan seorang lelaki, Ai. Sial aku tidak sempat memotret mereka."
"Tidak mungkin." Aina nampak tak percaya. Ya, dia cukup mengenal Kakak iparnya itu, meski Lin begitu kejam kepadanya tetapi Lin sangat mencintai Reynald. "Sepertinya ini hanya kesalahpahaman, sebelum ada bukti kuat atau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak akan percaya."
"Huft, ya aku tahu kamu tidak mungkin percaya. Tapi Kak Boril bilang akan menyelidiki masalah ini." Yuna menyondongkan tubuhnya, menatap Aina dengan dari jarak cukup dekat. "Jika terbukti dia selingkuh, Kak Rey harus lepas dari wanita itu."
Sejenak Aina terlihat berpikir. "Tunggu sebentar, Kak Boril ... sekretaris Boril? Kok bisa sama kamu Yu?" Mata Aina mulai memicing curiga.
Sial keceplosan, batin Yuna.
"Hah, kok bisa? Jangan-jangan kalian--" Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Yuna menyumpal mulutnya dengan kue.
"Tidak seperti yang kamu bayangkan. Jadi dia itu mabuk, sampai nyasar ke tempatku. Tapi sumpah tidak terjadi apa-apa, sudah jangan dibahas lagi. Intinya, sekarang kamu jangan ceritakan hal ini ke Kak Rey dulu, tunggu Kak Boril menemukan bukti kuat."
__ADS_1
"Ya aku tahu. Lagi pula sekarang Kak Rey sedang diluar kota mungkin bulan depan baru pulang. Kalau Kak Lin ...." Aina menggelengkan kepalanya. "Ah semoga saja tidak benar. Kak Rey sangat mencintai istrinya, tidak mungkin."
"Semoga saja yang aku lihat pagi tadi tidak benar." Yuna kembali menyeruput kopinya sebentar kemudian kembali melihat Aina. "Jadi tadi kamu mau cerita apa?"
"Ah itu, ti-tidak jadi, hanya hal sepele, sudahlah." Aina rasa tidak perlu bertukar pikiran dengan Yuna mengenai masalah hatinya. Cukup dia sendiri yang merasakan. "Aku ambil air mineral sebentar, kamu tunggu saja disini."
"Ya, jangan lama."
Saat, Aina melangkah pergi, Yuna memilih untuk melanjutkan melahap sepotong demi sepotong cake yang ada di piringnya. Setelah beberapa saat tiba-tiba saja pandangan Yuna teralihkan mendengar notifikasi dari yang datang dari ponsel Aina.
Sudah menjadi kebiasaan Yuna sejak dulu ketika ponsel sang sahabat berdering maka dia akan melihat isi pesan atau menjawab panggilan telepon, begitu juga sebaliknya Aina juga sering melakukan hal yang sama dengan ponsel Yuna. Ya, tidak ada privasi diantara mereka.
"Hm, pesan dari Tuan El." Merasa semakin penasaran Yuna pun tanpa ragu membuka isi pesan itu hingga detik selanjutnya matanya membulat. "Hah, apa-apaan ini?"
Bersambung 💕
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini...