
El-barack menarik Aina keluar dari hotel itu, mengabaikan beberapa orang yang datang dengan khawatir karena Aina menjadi satu-satunya orang didalam lift tersebut.
Jika tadi El-barack begitu syok, panik dan sedih maka saat ini rahangnya nampak menegang, mata elang itu menatap tajam kearah depan.
Sesampainya di samping badan mobil, dia segera melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Saat berbalik, dia terlihat menghela napas panjang sambil mendongakkan kepalanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir." Aina mulai tertunduk, dari raut wajah itu dia tahu jika El-barack pasti sedang marah dan kesal kepadanya.
"Kamu ...." El-barack seolah hendak meluapkan apa yang dia rasakan saat ini. "Aku membiarkan kamu merintis usaha itu bukan untuk bekerja mengantar kue seperti ini. Jika kamu tanya, aku ingin kamu seperti apa maka jawabannya adalah, aku mau kamu tetap dirumah, mau pergi ada supir, mau makan kita punya chef pribadi! Aku ingin meratukan kamu sebagai istriku, tapi kamu malah hampir mencelakai dirimu sendiri."
Aina nampak semakin tertunduk, dia tidak berani menatap mata sang suami sekarang. Ya, saat ini untuk pertama kalinya El-barack bicara begitu keras kepadanya.
Ya, hampir saja. El-barack mengira dia akan benar-benar kehilangan Aina. Padahal kebahagiaan mereka baru saja dimulai, membangun satu persatu pondasi pernikahan diatas kesalahan yang mereka lalui dimasalalu.
Aina mencoba menyeka air matanya, seraya mengangkat kepala memberanikan diri menatap sang suami. "Diam seperti ratu? Sejak dulu aku bukan wanita yang hidup seperti itu, aku tahu kita belum lama mengenal tapi seharusnya kamu tau aku melakukan semua ini karena aku suka dan aku mencintai pekerjaanku. Siapa yang mau terjebak di lift seperti tadi? Aku juga tidak mau."
"Hufft.." El-barack mencengkram kedua sisi pundak istrinya. "Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian seperti ini lagi, kalau perlu tutup saja toko itu, aku akan memberikan kamu bisnis baru, yang jauh lebih baik."
"Hah?" Aina menatap tajam sang suami. "Tidak, kenapa kamu berlebihan sekali, lihatlah aku baik-baik saja." Aina melepaskan kedua tangan sang suami dari pundaknya lalu melangkah pergi dari tempat itu.
"Hey kamu mau kemana!" seru El-barack saat melihat sang istri istri semakin melangkah jauh menuju jalan raya.
Aina berhenti sejenak, memandangi sang suami dengan raut wajah kesal. "Aku mau pulang, jangan ikuti aku, aku sedang kesal. Dasar suami tidak peka, pokoknya aku tidak mau bicara sama kamu malam ini!"
Aina menghentakkan kakinya lalu berbalik melanjutkan langkahnya menjauh dari El-barack. Entahlah, dia merasa El-barack berlebihan ingin menutup toko kue yang baru saja buka beberapa minggu lalu.
__ADS_1
Sementara itu El-barack segera masuk kedalam mobil, memutar arah untuk mengejar sang istri. Saat mobil semakin dekat, El memperlambat laju mobil membuka kaca jendela agar bisa bicara dengan Aina yang terus berjalan di trotoar.
"Hey kenapa kamu yang marah? Ayolah Aina, aku hanya khawatir padamu. Oh ya, tadi saat menelepon tadi kamu bilang sangat mencitaku, apa hanya sedangkal ini perasaanmu padaku?"
Aina yang melangkah sambil berpangku tangan, menoleh melihat sang suami yang sedang duduk sambil menyetir lambat. "Aku tarik lagi. Aku juga bingung kenapa aku mencintai pria yang begitu egois, seharusnya saat melihat istri selamat, kamu bersujud syukur atau apalah. Ini malah marah-marah."
"Maaf, aku benar-benar takut tadi. Apa lagi saat kamu bilang, mungkin kamu akan segera ma*i di dalam lift itu. Seolah kamu benar-benar siap menjadikan aku duda. Memangnya kamu mau aku menikah lagi dan Al punya Ibu tiri?"
Aina kembali menoleh dengan mata membulat. "Enak saja, tidak ya. Tadi itu aku hanya panik."
El-barack menghentikan laju mobilnya, melangkah turun dan langsung menghampiri Aina. Sejenak dia terdiam menatap wajah cemberut sang istri.
Hingga akhirnya lengkungan senyum mulai mendominasi wajah maskulin itu. Dari matanya terlihat cinta yang begitu besar, yang dulu tidak pernah dia perlihatkan kepada wanita manapun. "Kamu adalah wanitaku, dan selamanya hanya akan ada kamu. Maaf, untuk sikapku, tapi kamu pasti tahu aku sangat mencintaimu 'kan?"
"Hey, hanya Al? Pikirkan aku juga." El-barack melepaskan pelukan sang istri. "Sekarang kita jemput Al di Toko, terus pulang. Kamu pasti lelah."
Aina kembali mengangguk lalu mengikuti sang suami masuk kedalam mobil.
***
"Apa!" Merry berdiri dari posisi duduknya dengan tatapan kesal. Dia menunjuk lurus seorang pria yang duduk dihadapannya. "Bagaimana bisa gagal, saya sudah bilang, buat dia celaka!"
"Maaf, Nyonya tapi kami melakukan semuanya sesuai rencana, agar tidak tercium jejak kesengajaan, ini demi nama naik anda dan Nyonya Intan. Jika pertolongan datang lebih lama, saya yakin lift itu akan jatuh tapi ternyata tim keamanan hotel dan beberapa pengunjung lain, bergerak cepat. Ini diluar kendali kami."
"Sial!" Merry melemparkan cangkir tehnya hingga mengenai tembok. Tadinya dia begitu yakin, perempuan yang dia anggap sebagai sampah keluarga Alexander itu akan tamat namun nyatanya dia terlalu percaya diri.
__ADS_1
Keberuntungan masih berpihak kepada Aina. Akankah Merry menyerah? Tentu saja tidak, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, dan sekarang keinginan terbesarnya adalah menyingkirkan Aina, karena dia tahu Aina adalah kelemahan terbesar El-barack saat ini.
Keserakahan itu tak kunjung pupus diusia yang semakin tua. Ya, sejak lama dia ingin menduduki posisi Antonio sebagai pewaris utama keluarga Alexander, dia tidak pernah sadar posisinya sebagai seorang adik, Antonio.
"Kalian boleh pergi, saya Akane menemui Intan sekarang."
***
Pukul sepuluh malam, saat istri dan putranya tengah tertidur, El-barack bediri sendiri di balkon kamar. Meski Aina mengatakan jika kejadian tadi murni kecelakaan, tetapi bukan El-barack namanya jika percaya begitu saja.
Ya, dia yakin jika sang tante adalah dalang dibalik semua ini. Meski tidak mempunyai bukti kuat, tetapi dia tetap akan mengambil tindakan.
"Hallo, Boril kamu atur ulang semua jadwalku besok pagi. Aku harus pergi menyapa seseorang yang sepertinya membutuhkan sedikit perhatian lebih dariku."
[Baik, Tuan. Saya akan datang datang untuk menjemput anda besok.]
El-barack mengakhiri panggilan telepon itu lalu kembali menatap nanar kearah langit malam yang terlihat begitu pekat tanpa bintang dan bulan.
"Setidaknya aku ingin terus menyapanya dengan panggilan yang sama seperti dulu, tapi apa yang dia lakukan hari ini membuat aku harus berperilaku sedikit keras, agar dia tidak terus memandangku sebagai bocah ingusan," gumamnya.
Bersambung 💕🙏
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini...
__ADS_1