After One Night Mistake

After One Night Mistake
Rasa penasaran El-barack


__ADS_3

Mobil El-barack hampir sampai di toko kue milik sang istri dan sepanjang perjalanan itu pula dia terus mencoba menghubungi sekretarisnya Boril tetapi tidak ada jawaban.


Tiba-tiba saja El Barack menjadi khawatir. Karena tidak biasanya sang sekretaris mengabaikan panggilan telepon darinya. "Apa jangan-jangan terjadi sesuatu kepadanya. Kenapa tidak mengangkat teleponku sejak tadi."


Aina yang sejak tadi terdiam pun tiba-tiba ingat akan sesuatu. dia menoleh menatap sang suami yang sedang fokus melihat jalanan. "Jangan-jangan sekarang dia sedang bersama Yuna, karena beberapa waktu ini mereka terlihat dekat."


"Haha, dia tidak mungkin mengabaikan aku hanya karena seorang wanita. Boril sudah menjadi asistenku selama tujuh tahun, dia akan langsung mengangkat telepon begitu melihat namaku."


El-barack masih terlihat tidak percaya, hingga beberapa detik selanjutnya saat sampai didepan toko kue Aina, dia bisa melihat mobil Boril terparkir disana.


Aina pun berusaha menahan tawanya, dia yakin saat ini Boril datang kesana pasti bersama Yuna. Karena pagi tadi dia mendapatkan pesan chat bahwa Yuna akan datang untuk membicarakan sesuatu yang penting.

__ADS_1


"Tuh kan aku sudah bilang, pasti sekretaris Boril ada disini." Aina menoleh menatap sang suami yang masih terpaku di sampingnya. "Boril itu juga laki-laki normal, hidupnya bukan hanya tentang El-barack Alexander. Bisa jadi sekarang dia sedang menyusun rencana untuk masa depannya."


El-barack menoleh sambil menghela nafas. "Huuft, bisa jadi. Aku bisa menerima jika dia memang sedang tergila-gila kepada seorang wanita tapi, kenapa dia mengabaikan panggilan telepon dari ku?"


"Kalau mau tahu jawabannya, kita harus masuk. Ayo." Aina segera membuka sabuk pengaman lalu keluar dari dalam mobil diikuti El-barack setelahnya.


Sambil bergandengan tangan mereka melangkah masuk dalam area dalam toko, dan benar saja sesuai prediksi Aina, di dalam sana Yuna dan Boril sedang duduk menikmati secangkir kopi dan juga cake.


El-barack yang nampak tidak sabar, melepaskan genggaman tangannya dari Aina dan segera menghampiri Boril. "Hey kenapa kau tidak mengangkat teleponku?"


"Maaf, Tuan ponsel saya mode silent," ucap Boril saat memeriksa ponselnya di saku celana. "Rapat pagi ini diundur oleh pihak perusahaan ENG, jadi saya menemani Yuna kesini dulu."

__ADS_1


Dengan tatapan tajam seraya bercak pinggang, El-barack mencoba mengatur napas. Di satu sisi dia memang kesal, namun disisi lain dia lega karena ternyata Boril baik-baik saja. "Baiklah, aku akan mengampuni kamu kali ini."


"Sudah jangan marah." Aina menepuk pundak sang suami. "Yuna bilang ada hal penting yang akan dia sampaikan." Dia beralih menatap sang sahabat. "Benarkan?"


"I-ya benar," jawab Yuna gugup. Meski El-barack adalah suami sahabatnya, tetapi dia belum bisa membiasakan diri dan masih menganggap El-barack sebagai bos killer yang dia hormati dan segani.


Mendengar hal itu, El-barack yang belum tahu apapun tentang masalah yang diselidiki Boril dan Yuna, nampak bingung. "Memangnya kalian akan membicarakan apa, apa hanya aku yang tidak tahu apapun disini?"


Suasana tiba-tiba berubah hening, Boril dan Yuna nampak melepar pandangan ke Aina, seolah meminta agar Ain menjelaskan semua kepada El-barack.


Diberikan kode seperti itu, Aina pun menoleh menatap suaminya. "Ini tentang Kakakku, beberapa waktu yang lalu, Yuna dan sekretaris Boril memergoki Kak Lin berselingkuh tapi aku masih tidak percaya jik--"

__ADS_1


"Kami sudah punya bukti," sahut Boril, memotong ucapan Aina.



__ADS_2