After One Night Mistake

After One Night Mistake
Pelajaran Keras


__ADS_3

"A-apa?" Mata Sisil membulat sempurna, tubuhnya pun bergetar hebat saat mendengar pria dihadapannya itu menyebut nama Aina. "Aina Caroline?"


"Menurutmu bagaimana?" El Barack mulai terlihat serius, dia menegapkan posisinya sambil berpangku tangan. "Dalam waktu dua puluh empat jam, sekretaris saya sudah mendapatkan beberapa bukti tentang kasus perundungan yang kamu lakukan, baik itu di lingkungan perusahaan ataupun diluar."


Brakk!


Sisil menghentak meja dengan mata memerah karena gejolak emosi yang menyesakkan dada. "Sebenarnya apa yang anda bicarakan, saya tidak punya waktu untuk omong kosong ini!"


Boril mengeluarkan sebuah map dan langsung diletakkan di atas meja. Sementara El Barack masih terlihat bisa mengontrol emosinya. "Saya bicara berdasarkan fakta. Kamu sangat sering melakukan kekerasan ke para pegawai lain dan juga menyebarkan berita hoax termaksud kepada Aina. Dengan bukti ini, saya bisa saja menjerumuskan kamu kedalam penjara."


Sisil mulai terlihat ketakutan saat membaca beberapa bukti kejahatan yang pernah dilakukannya, dia kembali menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas duduk di kursi. "Ini semua tidak benar dan ... bagaimana bisa anda mendapatkan semua ini?"

__ADS_1


"Ck, itu sangat mudah." Kedua mata El Barack memicing tajam. "Kamu berhasil lolos dari jeratan hukum karena Ayahmu seorang aparat kepolisian. Namun sayangnya, kamu bertemu saya. Tidak akan ada yang bisa lolos saat berhadapan dengan El-barack Alexander."


Sekujur tubuh Sisil bergetar hebat saat mata elang El-barack menatapnya dengan tajam. Secepat kilat dia langsung menundukkan pandangannya. "Maafkan saya, Tuan. Tolong berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Saya tidak akan mengganggu Aina lagi."


"Ck, anda memalukan sekali, Nona. Apa anda pernah berpikir, saat menghujat dan merendahkan orang lain itu sama saja anda telah menyakiti perasaannya," sahut Boril dengan nada datar.


Sementara El Barack segera berdiri dari posisinya. "Pengacara saya akan segera menemui kamu. Sekarang, silakan kembali ke kantor untuk membereskan barang-barangmu." Dia segera berbalik melangkah menuju pintu keluar, diikuti oleh Boril.


Kali ini kesabaran El-barack benar-benar di uji. Kedua tangannya tercengkram erat. Andai wanita itu tahu, anak siapa yang telah dia sebut sebagai anak haram.


Saat ini, dia bisa merasakan apa yang beberapa hari lalu Aina rasakan saat wanita asing itu secara terang-terangan menghina dan merendahkan status Alvian sebagai anak diluar pernikahan.

__ADS_1


El Barack kembali berbalik memandangi Sisil yang baru saja meluapkan emosinya. "Kau sudah mengusik ketenangan orang yang sangat berarti untukku. Anak yang kau sebut anak haram itu adalah darah dagingku! ... Calon penerus tunggal keluarga Alexsander."


Gejolak emosi memenuhi kepala dan hati El-barack, namun dia masih mempertahankan kaki dan tangannya untuk tidak bertindak kasar. Dia menoleh menatap Boril yang berdiri di sana. "Pastikan wanita sampah ini membusuk dipenjara."


"I-iya, Tuan." Boril hanya bisa tertunduk patuh. Sudah begitu lama dia tidak melihat El-barack semarah itu kepada seorang wanita.


"Tuan, tolong jangan penjarakan saya!" Sisil yang semakin panik, mencoba untuk menyusul El namun dengan cepat Boril menghadangnya.


"Eitts, stop. Anda sudah tamat, Nona."


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2