
Pagi ini, selesai sarapan bersama, Boril dan Yuna menjalankan aksi mereka mengumpulkan bukti tentang perselingkuhan Lin dan seorang pria bernama Alex.
Dengan memakai masker yang menutupi wajah, mereka bersembunyi dibalik tembok yang tak jauh dai unit apartemen milik selingkuhan Lin.
"Hey, apa tidak sebaik kita menunggu di lobby saja?" tegur Boril yang saat ini merasakan kakinya kesemutan parah karena sudah berdiri disana sejak setengah jam yang lalu.
"Ssstt, jangan berisik. Aku yakin sebentar lagi mereka akan keluar." Yuna yang nampak bersemangat tak pernah melepaskan pandangannya dari pintu unit itu, meski jauh.
Boril hanya bisa menghela nafas panjang, seharusnya dia sudah berada di kantor sekarang, tetapi demi menemani Yuna, dia mengabaikan tugasnya.
Dia pun yakin El-barack pasti akan mengerti jika dia melakukan semua ini bukan tanpa alasan yang jelas. Terlebih lagi dia juga ingin mengenal Yuna lebih dalam, karena wanita itu sangat menarik baginya.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba saja mata Yuna membulat sempurna saat melihat pintu unit itu terbuka. "I-itu mereka," ucapnya saat menoleh melihat Boril.
Tak ingin gegabah, mereka terus memperhatikan kedua sejoli itu dari jarak beberapa meter, kali ini Yuna sudah siap sedia dengan kamera ponselnya.
__ADS_1
"Kali ini, aku akan mendapatkan bukti yang kuat, dasar wanita kurang bersyukur." Yuna segera mengarahkan kameranya dan memotret Lin dan Alex yang sedang berangkulan mesra.
"Zoom, agar lebih jelas. Kamu ini tidak profesional sekali," sahut Boril yang terlihat geram.
"Iya, aku tahu. Diamlah." Yuna kembali berkonsentrasi agar bisa mendapatkan potret yang sempurna, bukan hanya itu dia juga merekam video saat Lin dan Alex sedang bicara.
***
Ditempat berbeda, El-barack terlihat begitu serius menatap layar ponselnya. "Tumben Boril tidak bisa dihubungi jam segini, jangan-jangan dia pergi ke klub lagi malam tadi."
Beberapa kali dia mencoba namun tidak ada jawaban, akhirnya El-barack pun menyerah. Dia berbalik masuk kedalam kamar untuk menghampiri Aina yang sedang bersiap untuk pergi ke toko. "Hari ini kamu akan membawa Al ke toko?"
"Boril tidak bisa dihubungi. Aku akan mengantarkan kamu ke toko saja." El-barack meraih dan langsung menggenggam tangan sang istri. "Kita sarapan dulu."
"Iya, ayo." Dengan senang hati Aina mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar.
__ADS_1
Semakin hari hubungan keduanya kian membaik, tidak ada lagi keraguan untuk sebuah kata komitmen. Mungkin ini adalah akhir yang sama-sama mereka harapkan untuk pernikahan yang diawali dengan keterpaksaan.
Percayalah, layaknya takdir, cinta juga datang dengan berbagai cara dan cobaan yang mengiringi. Terkadang seseorang harus terluka, menangis, bahkan mengalami trauma dulu. Ya, begitu lah keunikan dari cinta.
Sesampainya di ujung tangga, dari kejauhan Aina bisa melihat Albert sedang duduk di kursi meja makan bersama Antonio dan juga Alvian. "Akhirnya dia kembali lagi."
"Ck, memangnya dia tidak akan kembali? Dia hanya pergi satu hari untuk menemui tiga wanita yang akan dijodohkan dengannya, tapi aku yakin tidak ada yang dia sukai," ujar El-barack sambil memandangi Albert dari kejauhan.
Sementara Aina nampak kebingungan, "Hah, dijodohkan? Aku kok tidak tahu, tapi kenapa kamu begitu yakin kalau dia tidak menyukai satupun dari tiga wanita?" tanya Aina penasaran.
"Aku juga baru tahu dari Papa. Huuft, tentu saja dia itu tidak beda denganku, kamu sama-sama pemilih masalah pendamping hidup, dan sialnya kami juga menyukai wanita yang sama. Tapi, aku adalah pemenangnya, haha," jelas El-barack dengan bangganya.
Dengan raut wajah datar, Aina mengerakkan tangannya mencubit perut sang suami dengan gemas. "Jangan asal bicara ya."
"Aw sayang, sakit tau." El-barack meringis kesakitan sambil mengelus bagian perutnya.
__ADS_1
Aina tak lagi peduli dan memilih pergi menuju meja makan.