After One Night Mistake

After One Night Mistake
Sudah Begitu Lama


__ADS_3

Cukup lama El-barack menunggu dengan rasa bosan yang mulai menghinggapi. Beberapa kali dia terlihat melihat jam dipergelangan tangan sampai akhirnya seorang wanita keluar dari ruangan tadi.


"Nona Ai sudah selesai, Tuan. Silakan masuk, Nona menunggu didalam." Pelayan butik itu menunduk hormat kepada El-barack. "Kalau begitu saya permisi." Dia berbalik pergi.


Sementara El-barack berdiri dari posisinya lalu melangkah santai menuju ruangan dimana Aina tadi bersiap-siap. Saat membuka pintu dia masih terlihat santai dan biasa saja sampai pandangannya tertuju kepada sang istri yang duduk di depan meja rias. Disaat itulah, El-barack terpaku.


Dia bahkan tak bisa melanjutkan langkahnya saat melihat betapa cantiknya sang istri dalam balutan gaun merah maroon, riasan make up dan rambut panjang yang dibiarkan terurai.


Lamunan El-barack buyar seketika saat mendengar suara dering ponsel disaku celananya. Langsung saja dia menerima panggilan telepon itu tanpa melepaskan pandangannya dari sang istri.


"Hallo, Pa?"


[Apa malam ini kamu akan menghabiskan wanita bernama Aina diluar?]

__ADS_1


"Ya sepertinya begitu. Hari ini dia membuatku tidak ingin pulang kerumah."


[Haha, kamu terdengar seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta Nak. Apa dia sudah mulai mencuri hatimu?]


"Ya, sudah lama sakali, Pa. Hari ini aku merasa telah menemukan kebahagiaanku kembali didalam dirinya. Hatiku ternyata tidak mati rasa."


[Nak, kamu berhak bahagia. Dapatkan dia, bahagiakan dia, karena sejatinya kalian memang sudah digariskan untuk saling melengkapi satu sama lain dan saling mencintai. Al aman bersama Papa, perbaiki hubungan kamu dan Aina, meski kalian memulai semua ini karena kesalahan.]


El-barack terus memandangi Aina dari jarak beberapa meter. Dia mulai berkaca-kaca, tatapan mata yang sudah lama menghilang bersamaan saat dia kehilangan kepercayaan terhadap wanita.


Namun hari ini dia menyesal telah berikrar untuk menyendiri selamanya. Karena seorang wanita yang baru saja dia temukan belum lama ini, sudah menguasai hati dan pikirannya.


Saat menoleh melihat sang suami, Aina segera berdiri. Langsung saja dia melangkah mendekati El-barack. "Bagaimana, ini berlebihan 'kan? Bagian punggungnya saja terbuka seperti ini, apa yang ada gaun lain."

__ADS_1


Sesaat El-barack masih mematung hingga dia mencoba untuk menormalkan diri. Saat ini detak jantungnya semakin berpacu cepat, dia tidak tahu kenapa tapi malam ini Aina terlihat lebih sempurna. "Ehm, kamu sangat ... cantik ya sangat cantik."


"Heh, cantik? Aku?" Aina mengerjap bingung lalu mulai salah tingkah sendiri saat di puji oleh sang suami. "Ehm, kamu jangan gombal. Kita pergi sekarang saja." Aina menoleh melihat jam di dinding ruangan. "Sudah jam tujuh, ayo."


Saat Aina hendak melangkah melewatinya, El-barack segera mencekal pergelangan tangan Aina. Didorongnya tubuh Aina hingga bertumpu di dinding ruangan. Saat ini ada satu perasaan yang membuat El-Barack hampir tidak bisa menahan diri.


"Ai, you so beautiful. Semakin hari aku terus menggila karenamu." El-barack meraih tekuk leher sang istri, terus mendekat hingga hampir tak berjarak namun tiba-tiba--


Aina mendorong perlahan tubuh sang suami agar menjauh darinya. Dia terlalu gugup, hingga merasa jantungnya sebentar lagi akan meledak. "Kita berangkat sekarang, aku la-lapar."


Melihat Aina bergegas meninggalkannya, El-barack malah teekekeh seraya menggelengkan kepala. "Hufft, kenapa aku tidak bisa menahan diri seperti ini. Apa aku bawa dia langsung ke hotel saja, astaga. Aku pasti sudah g"la."


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2