After One Night Mistake

After One Night Mistake
Dengan Caraku


__ADS_3

El-barack keluar dari dalam Villa. Terlihat di samping badan mobil, Boril sedang berdiri menunggu dia selesai dengan urusannya. Dari gelagatnya, Boril bisa tahu jika sang atasan baru saja meluapkan emosi yang selama ini terpendam.


"Kita langsung pulang." El-barack tak pernah menghentikan langkahnya sampai masuk kedalam mobil. Dia masih mencoba untuk menormalkan dirinya.


Hari ini, adalah kali pertama dia menunjukkan sisi lain dirinya dihadapan sang Tante. Begitulah dia saat merasa terusik, tidak pandang bulu, tidak banyak yang tahu tentang sisi gelapnya itu kecuali sang sekretaris, Boril.


Boril sudah duduk di kursi kemudi, sekilas dia terlihat melirik sang atasan yang duduk bersandar di kursi belakang. "Tuan, anda tidak membuat Nyonya Merry sekarat 'kan?"


Tiba-tiba saja Boril menjadi takut, dia beberapa kali melihat ekspresi wajah El-Barack seperti hari ini, dan setiap orang yang berusan dengan bosnya itu berakhir dirumah sakit.


Terkadang Boril berpikir, kenapa El-barack tidak menjadi seorang mafia atau ketua gangster saja, karena saat kesal, El-barack seolah kehilangan kendali atas dirinya. Padahal semua itu hanyalah timbal balik atas apa yang dia dapatkan.

__ADS_1


El-barack memijat keningnya yang terasa pening. "Belum, tapi bisa terjadi. Aku harap peringatanku hari ini, akan membuatnya jera. Ayo jalan, aku harus sampai kerumah sebelum malam."


"Baik, Tuan." Boril segera menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas meninggalkan halaman Villa. "Tuan, apa anda mau mampir membeli sesuatu untuk Nona?"


"Membeli apa? Dia tidak pernah suka saat aku memberikannya hadiah." El-barack masih memijat-mijat keningnya seraya memejamkan mata. Padahal hari ini dia tidak datang ke perusahaan, namun entah mengapa dia begitu lelah.


"Apa Anda lupa, di dekat sini ada toko bunga langganan Nyonya Alana? Saya pikir Nona mungkin akan menyukai bunga mawar putih seperti yang disukai Nyonya dulu. Sederhana, namun begitu indah, sama seperti kepribadian Nona Aina."


"Ya benar, tapi Tuan besar sering bercerita kepada saya saat kami memancing bersama. Melihat betapa cintanya Tuan Antonio kepada Nyonya Alana, saya pikir begitulah cinta anda kepada Nona Aina sekarang." Boril kembali melirik El-barack dari cermin kecil yang tergantung dekatnya.


El-barack menoleh ke luar jendela, menatap nanar langit yang mulai menjingga, kembali ke wilayah itu membuat dia mengenang banyak hal tentang sosok sang Mama.

__ADS_1


"Ya, kamu benar, Mama dan Aina sama-sama sosok yang sederhana, baik, cerewet, dan susah dipahami. Ck, aku benar-benar sudah tergila-gila padanya. percepat laju mobil ini, aku harus membeli bunga dan sampai rumah sebelum gelap."


Boril akhirnya bisa bernapas lega, melihat sang atasan kembali tersenyum meski tipis. Sudah cukup lama dia mendampingi El-barack dan hari ini dia bisa kembali merasakan The magic of love.


Ya, tentang cinta yang bisa mengubah segalanya, bahkan untuk hati yang sudah membatu sekalipun. "Baiklah, saya akan sedikit ngebut. Lagi pula kenapa sih, anda ingin pulang cepat, rindu dengan Nona ya?"


"Hufft, malam ini malam Jum'at kamu tidak tahu ritual suami itu, hah?" sahut El-barack sambil melihat layar ponselnya. Sepertinya dia sedang mengetik pesan untuk seseorang.


Tidak ada tanggapan apapun dari Boril, wajahnya yang tadi full senyum kini mendadak datar. Huuft, untuk pertama kalinya aku menyesal bertanya kepadanya, batin Boril.


__ADS_1


__ADS_2