
Aina kembali menghela napas panjang saat melihat sang suami sejak tadi melihat kearahnya sambil tersenyum bahkan sesekali terkekeh. "Bisa tidak kamu fokus bekerja saja, kenapa terus melihat aku seperti itu."
Aina kembali menyadarkan tubuhnya seraya berpangku tangan. Sepertinya dia menyesal datang ke kantor El-barack. Sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa dia memang cemburu dan takut sang suami berpaling.
El-barack menutup laptopnya lalu kembali menatap sang istri yang saat ini duduk dihadapannya. "Hari ini aku merasa senang sekali melihat kamu datang dan berteriak karena cemburu. Sepertinya kita harus merayakan hari ini."
"Hey, apa menurutmu membuatku cemburu adalah sebuah prestasi sampai harus dirayakan?" Aina berdiri dari tempat duduknya seraya mengambil tas diatas meja. "Aku mau pulang saja, malam ini kamu akan lembur 'kan?"
"Eitts, tidak boleh. Duduklah malam ini kamu harus menemani aku." El-barack segera berdiri, mengambil alih tas tangan itu dan menuntun Aina kembali duduk di kursi.
Setelah memastikan Aina duduk dengan nyaman, El-barack tiba-tiba saja bersimpuh dihadapan Aina. Tatapannya terlihat penuh cinta dan kebahagiaan. "Ai, malam ini kita habiskan waktu bersama. Kita makan malam bersama, mau?"
__ADS_1
Aina kembali menghindari tatapan mata sang suami. Dia teramat grogi sekarang tapi mencoba untuk tetap bersikap normal. "Ehm, berdua? Bagaimana bisa, aku harus mengurus Al, kita harus tetap pulang, aku tidak punya persiapan."
El-barack kembali berdecak. Sepertinya sang istri benar-benar belum terbiasa dengan kehidupannya. Aina, adalah wanita sederhana, tidak seperti El-barack yang ketika menginginkan sesuatu hanya dengan menjetikkan jari maka semua akan tersedia.
"Hem, kamu boleh ragu kepadaku tapi jangan ragukan isi dompetku." El-barack kembali duduk di kursi kebesarannya. "Satu jam lagi kita berangkat, masalah Al kamu tidak perlu khawatir. Putraku sekarang sudah punya kehidupan baru yang lebih menyenangkan dari yang kamu bayangkan."
Tidak ada gunanya berdebat, dia selalu kekeh dengan keinginannya. Huuft, menghabiskan satu malam berdua dengan dia di luar apa kami akan ... ahk apa sih yang aku pikirkan, batin Aina.
"Ck, lihatlah sekarang sebenarnya siapa yang posesif dan cemburuan disini," ucap Aina lalu menggelengkan kepalanya.
***
__ADS_1
"Aahkk, Alex. Aku hampir!" Seorang wanita berteriak sekencang mungkin saat mencapai pelepasan untuk kesekian kalinya.
Seorang pria berbaring disampingnya, mengecup kening hingga ke bib*r wanita itu. "Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kejadian hari ini, apa ini artinya kita sudah me--"
Wanita itu menutup mulut pria yang saat ini memeluknya erat. Dia segera melepaskan diri dan turun dari atas tempat tidur. "Kau gila, seharusnya kita tidak melakukan ini. Aku mencintai suamiku. Aku harus pulang sekarang." Dipuguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai.
Saat melihat wanita yang begitu dia cintai hendak pergi, pria bernama Alex segera beranjak turun menarik tangan dan memeluknya dari belakang. "Aku tidak akan melepaskan kamu Lin. Kenapa kamu masih saja bertahan dengan Suami yang selalu tidak menghargai kehadiran kamu."
Pria itu mempererat pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan wanita pujaan untuk kesekian kali. Meski dia tahu yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
Bersambung 💕🙏
__ADS_1