
"Hey, kenapa kamu hanya berdiri disitu, kemarilah." Boril melambaikan tangannya kearah Yuna yang masih berdiri di depan pintu. Sementara itu dia juga mengeluarkan berbagai cemilan dan minuman kaleng dari kantong plastik.
Siapapun mungkin bisa menebak jika maksud kedatangan Boril pasti bukan hanya karena ingin membahas tentang perselingkuhan Lin, namun nyatanya dia telah jatuh hati kepada sahabat Nona mudanya itu.
Sudah begitu lama dia tidak dekat dengan wanita, dan hari ini dia seolah menghalalkan segala cara agar bisa bertemu dengan Yuna. Ya, Boril juga laki-laki biasa, dia bisa berjuang untuk wanita yang dia inginkan.
Namun sepertinya Yuna belum menyadari hal itu, apalagi merasakan hal yang sama. Perlahan Yuna mendekat, dan langsung duduk di samping Boril, ya karena memang disana hanya ada satu sofa panjang yang berhadapan langsung dengan lemari TV.
"Sekarang katakan, info apa yang Kakak punya tentang Kak Lin dan pria itu." Seolah tak mau berbasa-basi, Yuna meraih sekaleng minuman soda dan juga membuka keripik kentang.
"Hey, aku baru datang dan kamu langsung ke intinya?" Boril menunjuk lurus kearah televisi. "Apa kamu tidak bisa menyalakan televisi dulu, jam segini banyak drama ikan terbang."
"Huuft, pria macam apa yang suka menonton drama ku menangis." Meski protes dan terdengar kesal, Yuna tetap meraih remote dan menyalakan televisi. Tanpa aba-aba dia langsung membuka channel drama ikan terbang. "Tuh, sudah."
__ADS_1
"Ketus sekali. Kamu sebenarnya sedang kesal padaku ya?" Kali ini Boril yang mulai terlihat kesal, dia berdiri dari posisinya menatap Yuna dengan tajam. "Kalau begitu aku pulang saja."
"Ya sudah pulang saja, besok kita bisa bicarakan hal itu," ucap Yuna dengan santainya.
Sial dia bahkan tidak mencegahku, batin Boril.
Bukannya pergi, Boril malah kembali duduk meski terlihat malu.
"Ehm, besok aku tidak bisa menemuimu, karena aku ini orang sibuk." Boril mencoba untuk menormalkan dirinya, agar tetap terlihat tenang dihadapan Yuna.
Setelah lebih tenang, akhirnya dia memberanikan diri menatap Yuna, seraya menyodorkan selembar kertas. "Aku sudah mendapatkan identitas pria itu. Namanya, Alex Ferguson, dia adalah teman SMA Liliana dan ternyata juga rekan bisnis Tuan Reynald."
"Hah?" Yuna yang nampak tak percaya, segera meraih kertas tersebut. Matanya terlihat begitu fokus melihat foto dan informasi yang terpampang disana.
__ADS_1
Seolah tak ingin percaya, namun dia ingat betul jika pria yang ada di kertas itu adalah pria yang dia lihat bersama Boril beberapa hari yang lalu. "Aku tidak menyangka, bagaimana bisa dia menusuk Kak Reynald, mereka berdua benar-benar harus diberikan pelajaran."
"Tidak segampang itu." Boril menghentikan ucapannya sejenak, meneguk minuman soda beberapa kali lalu kembali melihat Yuna yang nampak penasaran. "Seperti yang Nona Aina katakan Tuan Reynald begitu mencintai istrinya dan jika hanya dengan bukti ini tidak akan membuat dia percaya jika istrinya berselingkuh. Sebenarnya aku datang kemari bukan hanya ingin menemui kamu tapi karena tadi aku membuntuti Kak Lin sampai ke sini, dan aku sudah menemukan nomor unik tempat pria itu tinggal."
Tiba-tiba saja Yuna menyesal karena sempat berpikir negatif tentang maksud kedatangan boril ke unit apartemennya. "Be-benarkah, nomor berapa? Apa tadi kamu melihat Kak Lin masuk kesana? Apa kamu melihat pria itu juga?"
"Ya, aku melihat mereka?" Boril menyadarkan tubuhnya sambil mengangkat kaki. "Untuk itu malam ini aku akan menginap dan mengintai mereka besok."
"Hah?" Yuna sampai terperangah mendengar ucapan Boril.
Bersambung 💕
__ADS_1