
Sekitar pukul tujuh malam, mobil yang di kendarai El melaju dengan kecepatan sedang keluar dari area mansion. Terlihat Aina memangku sang putra sambil bersenda gurau bersama.
Malam ini adalah pertama kalinya mereka pergi bertiga untuk menghabiskan waktu bersama dan sejak tadi Al terus bertanya kemana dia akan dibawa tapi sang Papa enggan untuk memberitahu.
"Pokoknya malam ini kita akan berkunjung kerumah orang yang spesial. Al tenang saja, Papa janji kalau Al tidak nakal, nanti kita mampir beli mainan baru," ujar El-barack.
"Tapi beli mainannya nanti pas pulang ya," sambung Aina yang tidak ingin anaknya salah paham. Setelah membuat sang putra tenang, Aina menoleh melihat sang suami. "Apa dia rekan bisnis kamu?"
"Hm, begitulah. Kamu pasti juga penasaran." El memperdalam pijakannya pada pedal gas, agar segera sampai ketempat tujuan. Beberapa detik dia mencoba melirik Aina yang tidak terlihat curiga.
Bagaimana tidak, sekarang Reynald dan sang istri sudah pindah rumah. Jadi Aina tidak akan tahu jika rumah yang akan mereka tuju adalah rumah sang Kakak.
***
Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mobil El-barack sudah sampai di tempat tujuan. Dengan cepat dia turun dan membukakan pintu untuk Aina. "Ayo jagoan, sini Papa gendong."
Sementara Aina yang baru saja turun, menggedarkan pandangannya melihat rumah dua tingkat yang nampak mewah meski dengan desain minimalis. "Rumahnya bagus, aku seperti pernah melihat desain rumah seperti ini di laptop kak Rey."
__ADS_1
Mendengar ucapan Aina, membuat El-Barack tak bisa berkata-kata selain melempar senyum. Mereka melangkah beriringan menuju teras.
Sementara dari dalam rumah, Reynald segera berdiri cepat saat mendengar bunyi bel. "Itu pasti mereka. Lin ayo." Dia menarik paksa tangan sang istri agar mengikuti langkahnya.
Klek
Saat pintu terbuka, Lin yang awalnya nampak acuh kini mendadak fokus melihat ketiga tamunya yang berpenampilan sangat mewah dan elegan malam ini.
Tadinya dia berpikir dia akan menyambut seorang adik ipar yang kembali pulang dengan penampilan sederhana bersama seorang suami yang juga biasa-biasa saja.
Aina masih nampak mematung ketika melihat Kakak dan juga kakak iparnya ternyata adalah pemilik rumah tersebut, pantas saja ketika melihat rumah itu dia seolah melihat desain rumah milik sang kakak.
Sementara itu Renault segera mengambil alih Al dari gendongan El Barack. "Akhirnya jagoan uncle datang juga. Rindu tidak sama uncle?"
"Oh ini lumah uncle ya," ucap Al dengan polosnya.
"Maaf, tadi aku merahasiakan acara malam ini kepada mereka,"sahut El-barack.
__ADS_1
"Sudah aku duga. Terima kasih ya karena kalian sudah mau datang." Reynald menyenggol pundak sang istri yang terlihat bengong sejak tadi. "Lin, kenapa diam saja."
"Oh i-iya." Lin memeluk Aina dengan ekspresi wajah terpaksa. "Selamat datang kembali Aina."
"Iya kak, terima kasih." Aina tetap mencoba untuk tersenyum meski dia tahu sang kakak ipar pasti tidak senang melihat kedatangannya ke rumah itu. Dia pun masih sempat melirik ke arah sang suami dia tahu ini semua pasti adalah rencana El-barack.
Mata El-barack memicing saat melihat wanita bernama Lin. Tanpa basa-basi dia segera mengulurkan tangannya. "Perkenalkan saya El-barack Alexander, suami Aina."
"El-barack Alexander," ucap Lin terbata-bata sambil meraih uluran tangan El-barack. Dia benar-benar tidak asing dengan nama itu. sekujur tubuhnya mulai terasa bergetar namun dia berusaha untuk terlihat normal "Apakah Anda ini berasal dari keluarga Alexander yang terkenal itu?"
"Ya, lebih tepatnya saya penerus tunggal keluarga Alexsander," ucap El-barack dengan lugas.
Kena kau, jangan pernah meremehkan Aina, batin El-barack.
bersambung 💕
jangan lupa berikan dukungan kepada otot dengan cara memberikan vote+komen+like.
__ADS_1