After One Night Mistake

After One Night Mistake
Tingkah El-barack


__ADS_3

"Kalau begitu ayo kita masuk. Waktu makan malam hampir terlewat," sahut Reynald sambil melihat jam dipergelangan tangannya. Sambil menggedong Al dia berbalik masuk bersama sang istri.


Sementara Aina dan El-barack masih berdiri disana. Saat memastikan sang Kakak sudah jauh, Aina segera menoleh menatap panik kearah sang suami. "Kenapa kamu membawa aku kemari?"


Sambil berpangku tangan, El malah semakin tersenyum jail. "Bukanlah seharusnya kamu berterima kasih kepadaku? Aku baru saja membuat Kakak ipar antagonis mu, terperangah tak percaya."


Helaan napas Aina terdengar berat. Dia merasa tidak siap dan ingin kabur tapi sudah terlambat. "Apa kita bisa pulang sekarang? Aku akan bilang kepada Kakak kalau aku sakit perut dan ha--"


"Ssstt." El meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Aina. "Apa dengan terus menghindar akan menyelesaikan masalah? Ikuti saja caraku dan lindungi harga dirimu. Aku sudah memikirkan cara menjatuhkan ego wanita kejam itu, percayakan semuanya padaku." diraihnya tangan Aina dan digenggam erat. "Ayo kita masuk."


***

__ADS_1


Pukul tujuh malam, Aina, El dan keluarganya sedang menikmati makan malam yang terlihat begitu lezat, namun Aina nampak tak bisa menelan makanannya karena terus dilirik oleh Lin.


El-Barack pun menyadari itu. Dia bisa merasakan ketakutan Aina setelah empat tahun tidak bertemu dengan Lin. "Sayang, apa kamu sudah menggunakan kartu yang aku berikan?"


"Huh?" Aina menoleh sambil mengerjap bingung, kenapa juga El tiba-tiba saja membahas hal itu di waktu makan malam bersama keluarganya. "I-itu, aku tidak ingin membeli apapun, jadi tidak aku gunakan."


"Hm..." El beralih melihat kearah Reynald dan Lin. "Padahal aku sudah memintanya untuk berbelanja perhiasan atau barang branded setiap hari. Apa Aina dan memang sesederhana ini? Dia tidak pernah meminta apapun dariku."


"Aina memang seperti itu," sahut Reynald yang sejak tadi sibuk menyuapi keponakannya. "Dia sudah terbiasa hidup sederhana, dulu saat kami tinggal berdua, dia selalu berpura-pura kenyang agar bisa membagi bekalnya denganku, saat sepatunya sudah robek hingga menganga pun dia tidak mengeluh. Sebagai Kakak aku sangat bangga padanya."


"Hm, sudah aku duga, istriku memang sosok malaikat." El mendekat dan langsung mencium pucuk kepala istrinya. "Mulai sekarang kamu tidak perlu merasa kesusahan lagi, apapun yang kamu inginkan akan aku berikan."

__ADS_1


"Hm, terima kasih suami ... ku." Aina akhirnya mulai mengerti jika El bertingkah selebay ini untuk membuat Lin semakin panas.Tapi sungguh dia benar-benar malu kepada sang Kakak.


Aina mencoba untuk kembali fokus ke makanannya tetapi El terus saja menatapnya sambil tersenyum. Hal itu membuat Aina merasa tidak nyaman, baginya sikap El ini berlebihan. "Ehm, Suamiku apa kamu akan terus melihatku seperti itu, ikan bakarnya enak sekali."


"Hanya melihatmu makan dengan lahap saja sudah membuat aku kenyang, Sayang," ucap El sambil mengedipkan matanya. "Kamu cantik sekali."


"Uhuk uhuk," Lin tiba-tiba saja tersedak makanan saat mendengar ucapan El. Sepertinya dia mulai terbakar, bagaimana bisa seorang adik ipar yang menurutnya jelek dan miskin kini menjadi seorang ratu yang di puja pria sempurna dan kaya raya.


"Kak, minumlah," ucap Aina sambil menyodorkan segelas air putih ke Kakak iparnya.


"Maaf, aku mau ke toilet sebentar," ucap Lin lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Bersambung 💕


Jangan lupa vote gaesss...


__ADS_2