After One Night Mistake

After One Night Mistake
Reuni Masalalu


__ADS_3

Aina menunggu dengan bosan, sang suami yang katanya akan datang menghampirinya ke toko. Namun sejak tadi dia duduk di balkon lantai atas, tidak juga ada tanda-tanda kedatangan El-barack.


"Huuft, seharusnya aku pulang sendiri saja kalau begini, kasihan Al pasti mencariku," ucap Aina seraya melihat jam di pergelangan tangannya.


Aina kembali berdiri dari posisinya memandang kearah halaman depan dari balkon lantai dua. Akhirnya dia bisa tersenyum, karena mobil sang suami baru saja memasuki halaman toko.


Aina segera melambaikan tangannya. "Sayang!" Dia nampak begitu antusias saat melihat El-barack keluar dari dalam mobil. "Ayo naik sini!"


El-barack tak menjawab dan memilih mengangkat jari jempolnya. Sudah beberapa hari terakhir, mereka sering menghabiskan berdua di luar, untuk sekedar makan bersama atau berbincang tentang banyak hal.


Saat di rumah, mereka memilih untuk fokus bermain bersama Al. Ya, begitulah kehidupan yang mereka jalani sekarang, lebih tertata rapi, mereka juga sudah saling mengerti diri masing-masing dan menurunkan ego.


Aina pun kini juga tak lagi malu-malu untuk menyampaikan rasa sayangnya kepada El-barack, sikapnya lebih manja, tidak segan seperti dulu. Saat ini saja, Aina tersenyum saat melihat sang suami, dia berlatih dan langsung memeluk dengan erat seolah rindunya begitu berat. "I miss you."


El-barack melepaskan pelukan mereka "Miss you to baby." Di ciumnya bibir sang istri dengan singkat. "Maaf, tadi jalanan macet sekali."

__ADS_1


"Tidak apa. Ayo kita minum kopi sebentar, lalu pulang," ucap Aina yang hendak pergi membuat kopi tetapi sang suami seolah enggan untuk melepaskan tangannya. "Kenapa?"


El-barack nampak terdiam sesaat, sejak menjalani komitmen serius dengan Aina, dia sudah menyakinkan dirinya, untuk tidak menyembunyikan satu hal pun tentang dirinya. "Aku ingin bicara sekarang, hari ini lumayan berat."


Melihat ekspresi wajah sang suami, Aina bisa merasakan sesuatu yang serius. "Ah begitu, baiklah. Ayo duduk di balkon saja, sebentar lagi senja." Ditariknya tangan El-barack dan di tuntun duduk di sebuah sofa panjang di balkon lantai dua.


Aina yang sudah merasa penasaran pun, segera duduk di samping sang suami. "Sekarang katakan, apa yang terjadi?"


El-barack kembali menatap istrinya dengan lekat. Dia sebenarnya takut Aina akan merasa cemburu atau sedih, tapi dia pikir Aina harus tahu. El-barack takut, Larisa datang dan meracuni pikiran Aina.


Senyum di bibir Aina mendadak lenyap begitu saja, dia kembali mengingat wajah wanita yang dulu selalu mondar mandir di gedung Rich Grup. Ya, Aina cukup mengenai wanita itu, karena dulu dia bekerja sebagai sekretaris El-barack.


"Jadi, ... kalian reuni Masalalu gitu?" tanya Aina penuh penekanan.


Pertanyaan itu membuat El-Barack berusaha menahan tawa, entah kenapa meski tidak suka membuat sang istri sedih, tapi wajah cemburu itu sangat menggemaskan bagi El-barack. "Menurut kamu?"

__ADS_1


Aina segera menarik tangannya dari genggaman El-barack. "Mana aku tau dan itu bukan urusanku. Lagi pula untuk apa dia datang, setelah membuat kekacauan empat tahun lalu, gara-gara wa--"


Cup.


Aina tak bisa melanjutkan ucapan saat tiba-tiba saja El Barack kembali mengecup singkat bibirnya.


El-barack menarik Aina kedalam dekapannya. "Dengarkan aku dulu. Dia sepertinya datang karena memang mempunyai maksud tertentu, aku sudah bisa membaca gerak geriknya. Tapi yakinlah aku bukan El-barack yang dulu lagi. Di hati dan pikiranku hanya ada kamu dan Al. Aku menceritakan hal ini, hanya untuk berjaga-jaga saja, siapa tau besok atau lusa di datang menemui kamu dan bicara hal buruk tentang masalalu kami, aku harap kamu tidak akan goyah dan tetap percaya kepadaku. Aku mencintaimu Sayang."


Mata Aina nampak berkaca-kaca, saat mendengar ucapan sang suami. Dia tidak menyangka El-Barack akan berpikir sampai sejauh itu. "Terima kasih, sayang. Aku merasa beruntung sekali, mendapatkan kamu sebagai suamiku. Kamu jangan khawatir, aku mencintai kamu, dan aku juga menerima masalalu kamu. Hal itu tak lagi penting, aku jadi penasaran, apa kamu punya nomor ponselnya, sepertinya kami butuh bicara empat mata."


"Hey untuk apa? Tidak penting sekali, paling sekarang dia sedang ketar ketir mau pulang ke negara tempat persembunyiannya selama ini."


Bersambung 💕


__ADS_1


__ADS_2