
Aina tekekeh sendiri, sepertinya pengaruh alkohol yang dia minum tadi cukup kuat. Tak lama dia kembali menatap tajam kearah El-barack. "Seharusnya begitu 'kan? Saya seharusnya membenci orang yang telah menghancurkan hidup saya!"
Aina mendekatkan wajahnya, menatap El-barack dengan lekat. "Tapi anehnya saya tidak bisa. Saya tidak bisa membenci. Saya mencintai El-barack Alexander, sejak dulu dan sepertinya sampai sekarang."
Mata Aina terlihat semakin sayu dan sedetik kemudian dia kembali merebahkan kepalanya diatas pangkuan El Barack. "Kenapa saya seperti ini, kenapa saya kembali runtuh. Seharusnya saya menggunakan kesempatan ini untuk balas dendam kepada anda," lirih Aina.
El-barack memijat-mijat keningnya seraya berdecak tak percaya. Entahlah, dia merasa sedih dan senang disaat bersamaan. Pengakuan Aina malam ini benar-benar diluar dugaannya.
Dia merasa sedih karena kembali membayangkan betapa kejamnya dia dulu kepada Aina. Tetapi di sisi lain dia merasa bahagia, ternyata Aina sudah mencintainya lebih dulu.
Namun kala itu dia terlalu sibuk dengan kehidupan bebasnya, hingga tidak pernah melihat seorang wanita yang selalu berada disisinya, membantu dia saat kesulitan dengan pekerjaan.
El-barack mengerakkan tangannya mengelus pelan pucuk kepala sang istri. "Sekretaris Ai, wanita polos yang dulu selalu menunduk saat aku menatapnya. Kenapa dulu aku tidak sadar jika dia menyukaiku. Ck, Ya, aku memang terlalu mempesona wajar dia menyukaiku."
__ADS_1
Dia kembali terdiam menatap sang istri yang sudah tertidur pulas. "Kenapa aku bahagia sekali, astaga dia benar-benar membuatku gila. Kamu benar-benar menyukaiku, hem? Aku juga, meski terlambat tapi aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadamu, Aina Caroline."
Malam ini El Barack memang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi hal lain malah terungkap secara tiba-tiba dan hal itu cukup untuk membayar semua rasa kesal dia malam ini.
***
Di tempat berbeda mobil Albert baru saja sampai di halaman rumah sang mama. Sebenarnya dia tidak ingin pulang tetapi karena rasa penasarannya dia memutuskan untuk datang dan menginap malam ini.
"Albert!" Merry yang berdiri di ambang pintu utama segera berhambur memeluk sang putra. "Akhirnya kamu pulang juga. Lihatlah kamu sepertinya kurusan karena tinggal sendiri."
Albert dan sang mama melangkah beriringan masuk ke dalam rumah. sesampainya di ruang keluarga Albert langsung merebahkan tubuhnya di sofa sambil memainkan ponsel. "Aku dengar besok Mama ada acara arisan ya?"
"Ya, begitulah." Merry ikut duduk disamping sang putra. "Tumben kamu bertanya, kamu tau dari mana?"
__ADS_1
Dengan raut wajah serius, Albert menoleh menatap sang mama. "Aku juga tau Mama memesan kue dari toko kue milik Kak Ai. Aku tidak tahu apa maksud Mama tapi aku minta Mama jangan macam-macam, Kak Ai adalah orang baik dan aku tidak akan membiarkan Mama menyakitinya, paham?"
"Hey kamu curiga sama Mama?" tanya Merry tak percaya.
"Aku tahu watak Mama seperti apa. Semua sikap manis Mama di depan Kak Ai itu, palsu. Iya 'kan?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Merry berdiri dari posisi duduknya. "Mama tidak paham maksud kamu bicara seperti ini. Kalau kamu datang hanya untuk menuduh Mama lebih baik kamu keluar!"
Albert juga ikut berdiri dari posisi duduknya. "Aku hanya memperingatkan Mama saja." Albert kembali tersenyum. "Aku akan tidur dikamarku malam ini, selamat tahun baru, Ma."
Merry hanya bisa mencengkram kedua tangannya saat melihat Albert melangkah pergi meninggalkan dia sendiri. "Sial, kenapa dia begitu membela wanita itu. Sepertinya aku harus menunda rencanaku."
Bersambung 💕
__ADS_1
Jangan lupa berikan hadiah ya gaes, biar aku makin semangat terima kasih 🙏😊