
Pukul sembilan pagi, Yuna dan Boril keluar dari dalam unit apartemen bersama. Hari ini semua pegawai perusahaan masih diliburkan jadi Yuna memutuskan untuk mengunjungi toko kue Aina, sudah beberapa hari ini dia sibuk sampai tidak sempat mengunjungi sahabatnya.
"Kamu tidak mau aku antar ke toko kue Nona?" tanya Boril untuk kesekian kalinya. "Anggap saja aku balas budi karena kamu sudah menolongku malam tadi."
"Hm, tidak perlu. Lagi pula arahnya berlawanan. Kak Boril istirahat saja, besok haru kembali bekerja 'kan?"
"Ya, benar juga." Boril menghentikan langkahnya lalu diikuti Yuna yang juga berhenti melangkah. "Kalau begitu aku akan balas budi lain kali. Aku akan menghubungi kamu kalau sudah ada waktu luang."
"Haha, santai saja tidak perlu. Aku bersyukur bisa menolong Kakak, tidak perlu sungkan. Bisa dibilang kita inikan partner kerja, jangan sungkan."
Saat tengah asik mengobrol dengan Boril tiba-tiba pandangan Yuna menangkap sosok seorang wanita yang tidak asing. "I-itu bukannya Kak Lin?"
Merasa penasaran, Boril segera berbalik melihat kearah pandangan Yuna, namun dia tidak melihat siapapun disana. "Tidak ada siapa-siapa."
__ADS_1
"Tapi tadi aku lihat Kak Lin lewat dengan seorang pria." Yuna tidak bisa menahan diri, dia segera melangkah cepat menuju tempat dimana tadi dia melihat Kakak ipar sahabatnya.
Boril yang nampak bingung, segera menyusul Yuna. "Mana sih, kamu salah lihat kali." Dia terus mencoba menyeimbangkan langkahnya dan Yuna.
Yuna terus melangkah seraya menoleh kanan kiri. Setelah beberapa saat dia menghentikan langkahnya lalu menarik Boril bersembunyi dibalik tembok besar. "Sst jangan berisik."
Ya, akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Saat ini dia bisa melihat Lin sedang dirangkul seorang pria. "Astaga, jangan-jangan Kak Lin dan pria itu berselingkuh," cicitnya.
Boril yang juga mengetahui siapa Lin, terlihat tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. "Jangan gegabah. Kita tidak punya bukti kuat."
"Iya aku tahu, kamu terlalu banyak bicara! Lihatlah mereka sudah pergi, padahal aku baru saja mau memotret mereka diam-diam," sahut Boril kesal.
"Hah, benarkah?!" Yuna berbalik, kembali mengintip. Ternyata benar Lin Dan pria itu sudah pergi. "Yah, aku harus mencari mereka."
__ADS_1
Saat Yuna hendak melangkah, Boril segera mencegahnya. "Sudahlah, aku punya cara lain untuk menemukan pria itu. Kamu lupa saat Nona di bully oleh teman SMAnya, aku bisa dengan mudah mendapatkan data pribadi wanita itu. Dan kali ini aku akan melakukan hal yang sama, dan jika memang terbukti ada hubungan terlarang, kita serahkan semuanya kepada Tuan Reynald," ujar Boril panjang lebar.
Mata Yuna menatap kagum sekretaris Rich grup itu. "Waw, keren. Sekretaris boril benar-benar luar biasa." Senyum Yuna mendadak kembali luntur. "Tapi kasian Kak Rey, dia sangat mencintai istrinya."
"Cinta memang bisa membutakan mata hati seseorang. Apalagi yang sudah berumah tangga, sangat rawan mengkhianati atau dikhianati." Boril kembali menghela napas berat.
"Hm, ternyata ada untungnya juga aku tidak mau menikah sampai sekarang. Pernikahan itu sakral, tapi banyak orang yang menikah kilat hanya berdasarkan cinta tanpa visi misi. Anehnya, 70% pasangan suami istri sekarang masih sangat muda."
Boril menatap Yuna seraya terperangah. "Huh, bilang saja kamu jomblo tidak laku, haha. Dewasa itu bukan karena usia, tapi cara berpikir."
"Hey anda, bilang apa tadi, jomblo tidak laku? Terus Kak Boril disebut apa hah? Dasar jomblo karatan!"
"Aahkk!" pekik Boril saat Yuna menginjak kakinya sekuat tenaga. "Sakit sekali."
__ADS_1
"Bodo amat!" Yuna berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Boril sendiri.
Bersambung 💕🙏