
El-barack yang baru saja selesai menidurkan sang putra, turun dari tempat tidurnya, menghampiri sang istri yang sejak tadi termenung di balkon kamar.
Padahal malam semakin larut, seharusnya Aina juga sudah tidur sekarang. "Ai." El mendekat dan langsung berdiri disamping Aina. "Kamu tadi menerima telepon dari Kak Rey?"
"Hm, sekarang aku benar-benar bingung bagaimana cara memberitahu semua ini kepada Kakak." Aina menoleh menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. "Kak Rey sudah banyak menderita dalam hidupnya. Menjadi tulang punggung keluarga, menyekolahkan aku, dan juga berjuang demi membahagiakan Kak Lin. Apa sekarang dia juga harus menerima kenyataan pahit itu?"
Helaan napas El-barack terdengar lirih. "Hm, aku tahu ini berat tapi jika tidak diungkapkan, Kakak kamu akan semakin menderita, hidup dalam sandiwara yang dimainkan istrinya sendiri."
Aina menyeka air matanya seraya mengangguk perlahan. "Kamu benar. Penuhi jani kamu untuk bicara dengan Kak Rey tentang masalah itu, aku tidak sanggup." Aina mengangkat kaki hendak kembali masuk namun lagi-lagi sang suami memeluknya, kali ini dari belakang. "Kenapa lagi?"
"Aku tidak suka kamu pergi dari hadapan ku dengan raut wajah cemberut. Tersenyumlah, tugas kita hanyalah menyampaikan fakta, untuk keputusan pisah atau tidaknya biar Kak Rey yang memutuskan. Jangan terlalu dipikirkan ya."
__ADS_1
Aina mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, kamu memang yang paling bisa aku andalkan."
***
"Aku mau kembali ke negaraku."
Ucapan seorang wanita bernama Larisa, membuat pria bule bertubuh kekar nan tampan berdiri dari posisinya. "Why, kenapa tiba-tiba sekali? Apa kamu ingin mengunjungi keluargamu, atau aku ikut saja ya, aku ak--"
"Aku mau kita pisah saja." Larisa melempar selembar kertas kehadapan pria yang masih sah sebagai suaminya. "Aku sudah muak, sejak kamu bangkrut, hampir setiap hari aku menjual barang-barang mewahku untuk makanan!"
"Ya aku memang pernah berjanji seperti itu, tapi tidak untuk hidup miskin tanpa harapan! Aku punya karier yang ingin kembali aku bangun, terperangkap disini hanya akan membuat aku kehilangan harapan terakhir ku untuk mengembalikan kehidupan ku seperti dulu."
__ADS_1
"Apa harus dengan berpisah?" Pria itu mencengkram erat lengan Larisa. "Aku tidak pernah melarang kamu memulai karir lagi. Tapi sekarang ... berpisah? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"
Larisa diam tertegun dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. "Cinta? Sejak kapan aku bilang aku mencintaimu, haha. Tidak pernah, aku hanya menjadikan kamu pelarian setelah skandal ku empat tahun lalu."
Dia menarik lengannya dari cengkraman pria itu, pakaiannya pun sudah dia masukkan kedalam koper, bersiap untuk pergi dari tempat yang menurutnya adalah sebuah neraka. "Lepaskan aku, cari saja wanita lain yang bisa hidup di ruangan kecil ini."
Larisa menarik kopernya keluar dari ruangan apartemen itu. Sementara pria tadi hanya bisa tertunduk, ya mungkin baginya tidak ada guna mempertahankan wanita yang tidak ingin bersamanya.
~
Di depan gedung apartemen, dibantu oleh seorang supir taksi, Larisa segera memasukkan barang-barangnya ke bagasi lalu meraih ponsel di dalam tas untuk menelpon seseorang.
__ADS_1
"Hallo, Tante. Sebentar lagi aku akan sampai ke Bandara, segera kirim uang muka sesuai perjanjian, menghadapi dia setelah empat tahun bukan sesuatu yang mudah," ucapannya lewat telepon.