
Hari ini adalah hari terakhir Larisa sebelum besok kembali ke Paris untuk melanjutkan kehidupannya yang dulu. Dikesempatan terakhir yang tersisa, dia memberanikan diri untuk datang toko kue milik Aina.
Langkah demi langkah dia tapaki hingga akhirnya masuk kedalam area toko. Pandangannya langsung mengarah ke seorang wanita yang berdiri di depan meja kasir. Wangi cantik berambut panjang yang masih dia ingat dengan samar-samar.
Perlahan dia memberanikan diri untuk mendekat, dan menepuk pundak wanita itu. Saat wanita itu berbalik, ternyata tebakan Larisa benar. "Kamu Aina 'kan?"
Aina sedikit terkejut, dia tidak menduga jika Larisa benar-benar akan datang menemuinya. Dia pun masih mengingat wajah wanita dihadapannya ini, wanita yang dulu selalu menemui suaminya, El-barack.
"Ya, saya Aina." Dia mengulurkan tangannya kedepan Larisa. "Lama tidak berjumpa, Nona. Saya sudah mengetahui kedatangan anda dari SUAMI SAYA," ucap Aina penuh penekanan.
Wajah Larisa nampak kesal, namun dia berusaha untuk tetap tenang. Ya, dia sadar kalah telak, namun dia masih tidak menyangka jika ternyata El-barack akan menikah dengan sekertarinya sendiri.
"Sepertinya dia sudah menceritakan semuanya kepadamu. Meski begitu, apa kita bisa bicara empat mata sebentar saja."
Aina menganggukkan kepalanya perlahan. "Silakan ikut saya."
__ADS_1
***
Di tempat berbeda, El-barack terdiam saat melihat surat pengunduran diri Albert. Dia tidak menyangka, tiba-tiba saja adik sepupunya itu ingin berhenti.
Tanpa membaca surat itu, El-barack kembali menegapkan kepalanya melihat Albert yang saat ini duduk dihadapannya. "Kenapa kamu berhenti? Bulan depan kamu akan naik jabatan, apa kamu tidak nyaman?"
Albert tersenyum konyol seperti biasa, seolah ingin memperlihatkan jika dia baik-baik saja. Padahal beban pikirannya begitu berat. "Hm, sebentar aku suka bekerja disini. Tapi aku sudah memutuskan untuk mengambil alih resort Mama di Bali dan beberapa kota lainnya. Aku pikir dengan pergi ke satu tempat ke tempat yang lain, akan membuat pikiranku lebih tenang."
El Barack bisa melihat jelas keraguan dimata sang adik. "Al, aku hanya ingin melindungi kamu. Tapi kamu ingin melepaskan diri? Bagaimana jika Mama kamu datang dan kembali mengacaukan hidup kamu."
El-barack menghela nafas panjang, meskipun tante Merry sudah keterlaluan, tapi lagi-lagi El-barack berbesar hati untuk memaafkan, meski baru-baru ini dia mengetahui bahwa kedatangan Larissa itu juga karena suruhan tante Merry.
Tapi dia yakin kali ini tantenya itu pasti sudah menyesali semuanya meski mungkin tidak akan berani lagi untuk melupakan wajahnya di hadapan keluarga Alexander.
"Ya, aku mengerti. Kalau begitu pergilah, aku tidak akan melarang kamu untuk memulai mimpi, tapi ingat sejauh apapun kamu pergi, keluarga Alexander adalah rumah tempat kamu pulang, paham?"
__ADS_1
Albert menunduk seraya mengangguk pelan. Dia sudah banyak menyusahkan sang Kakak, kali ini dia berjanji akan berusaha keras mewujudkan mimpinya agar bisa membanggakan orang-orang yang selama ini selalu mendukungnya.
Dia juga akan belajar membuka hati dan pikiran. Dia yakin di dunia ini pasti ada wanita yang lebih baik atau setidaknya sama baiknya dengan Aina, cinta pertamanya.
***
"Jadi apa maksud kedatangan kamu menemuiku?" tanya Aina, setelah sejak tadi dia menguap mendengarkan cerita masalalu yang di umbar Larisa tentang El-barack."
Larisa yang belum selesai dengan ceritanya terlihat kesal, namun lagi-lagi selalu berusaha bersikap anggun. "Ehm, ya aku hanya ingin pamit. Tolong sampaikan kepada suami kamu, bahwa aku tidak akan kembali lagi, mantan kekasihnya tidak akan mengganggu dia lagi."
Ucapan Larisa sepertinya lumayan mengusik Aina. "Mantan kekasih? Kalian bahkan memulai satu ikatan apapun. Nona Larisa yang terhormat, lebih baik kamu akui saja, bahwa sekarang kamu tidak akan bisa masuk kedalam hidupnya dengan cara apapun. He is my husband, jangan merendahkan diri kamu dibawah kaki seorang pria yang sudah mempunyai istri."
Lagi-lagi Larisa kehabisan kata-kata, dia pikir kali ini dia bisa membuat Aina goyah meski sedikit, namun ternyata pendirian suami istri itu sangatlah kokoh. "Ehm kalau begitu aku pamit. Aku tidak akan kembali lagi ke negara ini."
Larisa segera berdiri dan melenggang pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Bersambung 💕