
Jauh di negara berbeda, Albert beberapa kali menghela napas saat merasa bosan dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Andai bukan paman tercintanya yang meminta mungkin dia sudah angkat kaki sejak tadi.
Saat ini dihadapannya sudah ada seorang wanita cantik yang menjadi wanita ketiga yang dia temui hari ini. Bukan tanpa usaha, tapi dia terus mencoba bertanya dan mengobrol dengan para gadis yang dia temui namun satupun tidak ada yang membuatnya tertarik.
Ya, sepertinya cinta pertamanya masih begitu melekat didalam hati dan pikiran sampai semua wanita yang sodorkan kepadanya seolah tak terlihat. Setelah beberapa saat, dia melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu negara itu.
Albert segera berdiri dari posisi duduknya, padahal wanita itu belum selesai bicara. "Maaf, sepertinya sekarang saya harus pulang. Penerbangan saya sebentar lagi."
Wanita itu bediri dengan raut wajah tak percaya. "Tapi kita baru sebentar disini, kamu bahkan belum bertanya apapun tentang aku. You know, kita ini akan dijodohkan seharusnya kamu--"
"Maaf." Potong Albert. "Kita memang akan dijodohkan jika aku setuju. Namun sayangnya saya masih merasa kita tidak cocok untuk bersama. Kalau begitu saya permisi."
Tanpa memperdulikan wanita itu lagi, Albert melangkah keluar dari restoran bertema American clasic lalu segera masuk kedalam kedalam mobil yang sudah menunggunya. "Jalan, antar saya ke Bandara sekarang."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Sang supir yang ditugaskan oleh Antonio, segera tancap gas meninggalkan halaman restoran.
Sementara Albert menyadarkan tubuhnya seraya melihat ke luar jendela. Tatapannya terlihat kosong. Meski dia terlihat santai menghadapi semua masalah tetapi sungguh beban itu memenuhi pikirannya.
Baik tentang keluarga, bisnis, dan dirinya sendiri. Rasanya begitu aneh, kenapa sampai sekarang aku tidak juga bisa melupakan cinta pertamaku, aku merelakan dia bersama Kakakku tapi ... aku tidak bisa memulai hubungan baru, aku masih berdiri di satu titik dalam kesendirian, batinnya.
***
"Huuft, tempat ini memang paling cocok untuk menenangkan diri," ucap Merry seraya melihat kearah langit yang nampak cerah pagi ini.
Saat tengah asik menikmati pemandangan, Merry melirik ke sisi kirinya saat seorang pelayan mendekat perlahan. "Saya belum memanggil, kenapa kamu datang?"
"Maaf, Nyonya di depan ada ... ada Tuan Muda El," ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"El?" Merry menoleh melihat pelayan itu, kemudian kembali berpikir untuk apa keponakannya itu datang menghampirinya sampai ke Villa. "Dimana dia sekarang?"
"Tuan menunggu ada di ruang tengah nyonya," jawab pelayan itu lagi.
Tanpa menunda waktu, Merry segera beranjak melangkah masuk kedalam untuk menemui El-barack. Sebagai adik dari seorang pengusaha ternama, Merry selalu menganggap remeh orang lain, termaksud keponakannya sendiri.
Langkahnya terhenti saat hampir sampai ke lantai dasar. Dari kejauhan dia bisa melihat El-barack sedang berdiri sambil melihat beberapa figura foto yang terpajang di ruangan itu.
Merry kembali melanjutkan langkah dengan angkuhnya. "Tumben kamu mau menemui Tante? Jangan berbasa-basi dan katakan apa tujuan kamu."
Mendengar itu, El-barack segera berbalik, menatap Merry dengan mata elang yang menyorot tajam. Sejenak dia nampak terdiam, untuk mengatur emosi. Ya, dia harus tetap tenang dan mengikuti permainan yang dimulai oleh Merry. "Rasanya saya sudah begitu lama kita tidak bicara empat mata, Tante."
__ADS_1