After One Night Mistake

After One Night Mistake
Tanpa Batas waktu


__ADS_3

El Barack nampak tidak tenang ketika selama perjalanan menuju pulang Aina hanya terus diam tanpa bicara sedikitpun. Dia tidak mengerti kenapa sang istri malah bersikap seperti ini padahal dia sudah mengungkapkan perasaannya. "Ai, apa kamu masih kesal kepadaku?"


Aina menoleh sebentar melihat sang suami lalu kembali menoleh ke luar jendela. "Tidak. Aku hanya bingung. Kenapa kamu selalu saja bersikap spontan dalam memutuskan sesuatu. Beberapa waktu lalu kamu membeli perusahaan atas namaku, membeli mobil mewah untuk Kakak dan sekarang tiba-tiba kamu menyatakan cinta."


"Jadi kamu tidak percaya jika aku mencintaimu?" tanya El-barack.


"Entahlah, kenapa aku ragu seperti ini," jawab Aina lirih.


Tiba-tiba El-barack menepikan mobilnya dipinggir jalan yang terlihat sepi dan gelap. Aina segera menoleh menatap sang suami dengan ekspresi bingung.


"Kenapa berhenti?" tanya Aina. Namun raut wajah sang suami membuat dia akhirnya mengerti. "Huuft. Sudah jangan marah, aku tidak lagi mempermasalahkan apa kamu mencintaiku ataupun tidak. Jadi ja--"


Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena El-barack telah membungkam mulutnya dengan satu ciuman. Bukan sekedar ciuman singkat namun begitu dalam hingga Aina tidak punya kekuatan untuk melepaskan diri.


Mereka kembali terhanyut dalam penyatuan indra pengecap yang saling menyapu pelan, hangat dan penuh tuntutan. Setelah beberapa saat tautan keduanya terlepas. El-barack menatap lekat sambil mengusap bibir Aina yang terlihat basah karena ulahnya.


"Aku memang orang yang spontan saat memutuskan sesuatu tapi ... tapi aku tidak pernah bercanda apalagi menyesali apa yang telah aku putuskan. Aku memang sempat tidak percaya tentang cinta tapi saat bersamamu, aku tahu hatiku tidak benar-benar mati rasa. Aku mencintai kamu, Aina. Aku tidak mendesak kamu untuk segera percaya dengan pernyataanku, setidaknya jangan bersikap dingin tersenyum dan cerialah seperti biasanya, bisa?"

__ADS_1


Terlihat kaget, tidak ada yang bisa Aina katakan kecuali mengangguk paham. El-barack pun kembali tancap gas meninggalkan tempat itu.


Setidaknya setelah ini, dia ingin Aina kembali bersikap seperti biasa. Aina yang selalu mengoceh, memukul dan memarahinya. Entahlah, El-barack menyukai Aina yang seperti itu, ketimbang diam seribu bahasa dan segala teka-tekinya.


***


Pukul delapan pagi, di gedung perusahaan Rich Grup.


"Apa! Anda sudah menyatakan perasaan kepada Nona Ai?" Boril nampak tak percaya, tapi itulah yang terjadi. "Lalu bagaimana tanggapan Nona?"


"Dia ... dia tidak percaya dan terlihat bingung. Tapi tidak masalah, aku yakin seiring berjalannya waktu dia akan merasakan hal yang sama dan ak--"


El-barack menghempaskan tangan Boril dari pundaknya. "Hey jaga bicaramu, siapa yang ditolak? Tidak ada satupun wanita yang berani menolakku, dia hanya sedang bimbang, karena aku tiba-tiba saja menyatakan perasaanku padanya."


"Hah, Tuan. Saya paham tapi tetap saja cara anda menyatakan perasaan itu tidak romantis. Anda datang ke toko saat Nona sedang lelah, anda tidak membawa hadiah dan tidak menyiapkan momen yang pas. Wajar jika Nona kaget."


El-barack nampak tertegun. Dia sadar telah melakukan kesalahan. "Huuftt benar juga. Seharusnya aku menyatakan perasaanku di tempat yang mewah dan romantis Cinta benar-benar membuatku kehilangan akal." Dia kembali menoleh melihat Boril. "Aku mulai takut kehilangan dia jadi aku terburu-buru seperti ini, tapi jujur aku penasaran apa dia juga takut kehilangan diriku?"

__ADS_1


Helaan napas El-barack terdengar lirih. Dia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang CEO. Sementara Boril masih disana, memandangi kepergian sang atasan dengan raut wajah sendu. "Huuft, aku kasihan juga Tuan El tapi apa yang harus aku lakukan ya ...."


***


Pukul sepuluh pagi Aina sudah sampai di toko kue bersama dengan Al. Terlihat para pegawainya sedang bersiap-siap untuk buka. "Al jangan lari-lari Nak!"


"Tidak apa-apa Nona, biar saya yang menjaga Tuan kecil," ucap seorang pelayan toko.


"Huuft, maaf ya. Kalau begitu saya minta tolong jaga Al sebentar. Saya mau naik keatas untuk mengambil bunga yang sudah saya rangkai kemarin," ucap Aina.


"Silakan, Nona. Kalau begitu saya kejar Tuan kecil dulu," ucap pelayan itu lalu melangkah pergi.


Aina pun melanjutkan langkahnya menaiki lantai dua. Tepat saat dia sampai di lantai dua, ponselnya berdering tanda pesan masuk namun dia terlihat bingung ketika melihat pesan yang dikirim oleh Boril. "Tidak biasanya sekretaris Boril mengirim pesan."


Karena penasaran dia langsung membuka foto yang dikirim Boril, dan betapa terkejutnya Aina melihat El Barack sedang bersama seorang wanita cantik.


[Nona, hari ini Tuan El akan sangat sibuk dan pulang telat.] Isi pesan Boril dengan mengunakan emoticon tersenyum.

__ADS_1


"Si-sibuk?" Rahang Aina nampak menegang seraya mencengkram erat ponsel ditangannya. "Sibuk dengan wanita lain maksudnya!"


Bersambung 💕


__ADS_2