After One Night Mistake

After One Night Mistake
Hadiah untuk Kakak ipar


__ADS_3

"Ya aku percaya kamu bisa melindungi Aina dan Al tapi, diluar semua itu, aku penasaran, apa kamu sudah mencintai dia sebagai istrimu?" tanya Reynald tiba-tiba.


El Barack nampak begitu asing dengan kata cinta, dia pun tidak memikirkan hal itu saat memutuskan untuk memulai hubungan serius dengan Aina. Baginya yang terpenting adalah bagaimana cara dia membuktikan bahwa Aina begitu berarti.


"Maaf, tadi aku sakit perut." Lin yang tiba-tiba datang langsung duduk di samping sang suami. "Sepertinya serius sekali, apa yang kalian bicarakan?"


"Ah tidak apa, pembicaraan biasa seputar bisnis," Reynald kembali meraih minuman kalengnya diatas meja seraya melirik kearah El-barack.


Meski El tidak menjawab tapi Reynald bisa melihat keraguan itu. Dia berharap seiring berjalannya waktu pria itu bisa menerima dan mencintai adiknya sepenuh hati.


Ya setidaknya sekarang Aina bisa hidup tanpa tenang dan berkecukupan.


Tak lama, Aina kembali bergabung dengan suami dan juga Kakaknya. "Sepertinya kami harus pulang, Al sudah mulai rewel dan mengantuk," ucapannya sambil memangku Alvian yang nampak sangat mengantuk.


"Huuft, baiklah. Tapi sebelum itu aku punya hadiah kecil untuk Kakak ipar." El Barack merogoh koceknya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak seperti korek.

__ADS_1



Dia menyodorkan benda itu kehadapan Reynald. "Aku tidak tahu hadiah apa yang pantas aku berikan sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga Aina sejak kecil. Semoga pemberianku ini bisa bermanfaat."


"Sebentar." Sanggah Lin, dia mengerutkan keningnya melihat benda berbentuk kotak yang tergeletak diatas meja. "Maaf, tapi untuk apa kamu memberikan suamiku korek? Dia tidak merokok dan aku tidak akan membiarkan dia merokok."


Helaan napas Reynald terdengar berat. Dia hampir melewati acara keluarga malam ini dengan lancar tetapi tiba-tiba saja sang istri dengan sikap sok taunya, membuat dia sangat malu. "Diamlah itu bukan korek api tapi kunci mobil Ferrari."


"Hah Ferarri!" seru Lin tanpa sadar.


Sejak kapan dia merencanakan ini, dan kapan dia membeli mobil itu, batin Aina.


"Ya benar, mobil Ferarri keluaran terbaru. Mobilnya sudah ada didepan, sementara surat-suratnya akan sekretaris saya kirimkan ke mari besok," ujar El-barack merasa puas.


"Sudah di depan, bagaimana bisa, tadi kita kesini belum ada mobil Ferarri di halaman" tanya Aina penasaran.

__ADS_1


Lagi-lagi El-barack melempar senyum semanis mungkin. "Sudah aku bilang jangan meragukan kemampuan Suamimu." El segera berdiri dari posisi duduknya. "Kalau begitu kita pulang sekarang, sini biar aku yang menggedong Al."


Aina segera memberikan Al kepada sang suami, lalu beranjak dari posisi duduknya untuk berpamitan kepada sang kakak dan juga kakak iparnya.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya," ucap Aina. Dia melirik kearah Lin yang nampak membuang muka kesembarang arah,hal itu membuat Aina takut. "Kak Lin, aku pulang dulu ya."


"Ya, hati-hati," ucap Lin acuh.


"Iya, Ai. Kakak akan antar kalian kedepan, sekalian mau lihat mobil baru," ujar Reynald lalu melangkah keluar bersama Aina dan juga Reynald.


Sementara Lin hanya duduk lemas di sofa ruang keluarga sambil memijat keningnya. Dia kalah telak kali ini. "Sial, bisa-bisanya dia membeli Ferarri untuk Reynald. Sementara aku tidak diberikan apapun."


***


Jangan lupa berikan vote ya gess🙏

__ADS_1


__ADS_2