
Minggu pagi, Boril dan El-barack masih harus pergi kesebuah restoran untuk menghadiri pertemuan, sebelum siang nanti pergi ke acara pembukaan toko kue Aina.
Sepanjang perjalanan, El-barack mencoba menyibukkan diri dengan berkas di tangannya namun pikirannya tetap saja dipenuhi dengan Aina dan Aina. "Ril, apa menurutmu aku ini suami yang kurang peka?"
"Ya anda memang tidak peka dan suka bertindak sesuka hati," jawab Boril dengan lugas seraya terus fokus menyetir.
Sontak El-barack menoleh melihat sang sekretaris dengan tatapan tak percaya. "Kau benar-benar jujur, sampai tidak bisa berbohong sedikit saja, demi menjaga harga diriku."
"Maaf, Tuan. Saya memang orang yang jujur, karena itu bisa bertahan disamping anda sampai detik ini," ucap Boril dengan santai.
"Huuft, hentikan kau malah membuat aku semakin frustasi." Dia memijat-mijat keningnya yang terasa begitu pusing hingga bayangan wajah sendu Aina kembali memenuhi kepalanya.
***
Sementara itu di toko, Aina terlihat sibuk menata ruangan dengan berbagai dekorasi sederhana. Pembukaan hari ini hanya akan dihadiri oleh keluarga saja, meski begitu Albert memastikan Akane banyak pengunjung, karena dia juga membantu Aina mempromosikan toko melalui jejaring sosial.
"Kak Ai, minum dulu jangan terburu-buru," ucap Albert sambil membawa dua gelas kopi ditangannya. Yang satu dia berikan kepada Aina dan yang satu lagi dia berikan kepada Yuna.
"Terima kasih, Albert. Biarkan saja, kamu seperti tidak tahu Aina saja, dia sejak dulu gila kerja, apa lagi untuk sesuatu yang sangat dia inginkan," ujar Yuna.
__ADS_1
"Hey, apa kamu sedang meledekku," sahut Aina sambil menyenggol bahu Yuna.
"Haha, itu benar. Aku sangat merindukan Aina Caroline yang sangat bersemangat seperti ini, tapi kenapa juga Kakak harus mengundang Ibuku, aku malas bertemu dengannya," ujar Albert.
"Aku sudah bilang akan mengundang keluarga, sudah berdamailah dengan Ibumu," ucapnya sambil menepuk pundak Albert.
"Huuft, entahlah. Masalah keluarga kami tidak semudah yang Kakak bayangkan." Albert kembali membayangkan saat dimana sang Mama memaksanya untuk merebut posisi El Barack yang saat itu sedang menjalani pengobatan di Melbourne. Untung saja dia bukan pria yang gila kekuasaan.
"Oh iya, suami kamu kenapa tidak kesini?" tanya Yuna memecah keheningan.
"Oh, dia ada rapat dadakan pagi ini. Aku tahu dia orang yang sibuk, jadi aku tidak mau mengganggunya," jawab Aina. Dia sudah terlihat lebih ceria, jika di bandingkan tadi malam.
Setelah berpikir, dia akhirnya menyesal karena sempat mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu didramatisir. Yang terpenting saat ini mereka sudah menerima satu sama lain dan hidup bahagia.
***
"Tuan, sepertinya kita akan telat datang ke acara pembukaan toko Nona. Rapat hari ini semuanya sangat penting," ujar Boril yang saat ini kembali mengemudikan mobil menuju tempat pertemuan berikutnya.
"Huuft, mau bagaimana lagi. Aku akan menghubungi Aina nanti," ucap El-barack yang juga nampak gelisah.
__ADS_1
Sementara Aina di dampingi Antonio dan Al baru saja selesai memotong pita sebagai tanda peresmian. Riuh tepuk tangan terdengar menggema.
"Selamat ya, Ai. Akhirnya kamu bisa mempunyai bisnis sendiri," ucap Reynald sambil memeluk sang adik.
"Iya, Kak. Terima kasih, oh ya kak Lin mana?" tanyanya sambil menoleh kanan kiri.
"Ah dia ada urusan lain makanya tidak bisa datang.
"Oh begitu," ucapan Aina yang tetap mencoba untuk tersenyum meski hatinya diliputi kesedihan. Bagaimana tidak, tadi dia baru saja mendapatkan pesan kalau El-barack tidak bisa datang, dan sekarang kakak iparnya pun tidak hadir.
"Uncle, ikut Al yuk, di panggil sama Kakek," ucap Al sambil menarik-narik ujung kemeja Reynald.
Reynald melihat Al sambil mengusap pucuk kepalanya perlahan. "Benarkah?" Reynald kembali melihat Aina. "Ai, kalau begitu aku ke depan dulu ya."
"Iya Kak," ucapnya. Dia masih berdiri disana, diantara orang-orang yang terus berlalu lalang mengucapkan selamat kepadanya. Hari ini toko kuenya sangat ramai tapi entah kenapa dia merasa kesepian.
"Aina, selamat ya" ucap Merry, Ibu Albert. Dia baru saja tiba dan membawa bingkisan besar untuk Aina. "Wah toko ini lumayan besar juga."
"Terima kasih, Tante." Aina menoleh kanan kiri mencari keberadaan Albert. Sepertinya pria muda itu sengaja menghindari kedatangan Ibunya. "Tadi Albert ada disana, kenapa tiba-tiba saja hilang."
__ADS_1
"Hm, Albert? Haha, sudahlah biarkan saja. Sepertinya dia masih marah," ujar Merry. "Tante hanya sebentar disini, apa kita bisa bicara sebentar, ada sesuatu yang mau Tante sampaikan kepada kamu, bisa?"
Bersambung 💕