After One Night Mistake

After One Night Mistake
Cemas luar dalam


__ADS_3

Pukul dua siang, saat toko kue Aina sedang sibuk-sibuknya karena banyak pengunjung berdatangan. Aina pun ikut turun tangan melayani para pembeli.


Namun sepertinya pikirannya terbagi, meski dia sedang toko, di tengah keramaian orang banyak, tetapi pikirannya jauh terbang kesuatu tempat.


Ya, isi pesan singkat Boril benar-benar membuatnya tidak tenang. Dia mencoba untuk menyibukkan diri namun nyatanya tidak semudah itu.


Prank!


Aina terperanjat ketika tanpa sengaja menjatuhkan nampan donat. Semua orang pun kini menoleh melihat kearahnya. Ya, dia tidak bisa berkonsentrasi padahal pagi tadi dia amat bersemangat.


"Nona biar saya saja yang bersihkan." Seorang pelayan dengan cepat mencegah Aina yang hendak memunguti semua donat yang berserakan di lantai toko.


"Maaf, kalau begitu tolong ya. Saya mau ke atas sebentar." Aina segera bergegas menaiki tangga menuju lantai dua toko kue tersebut. Sesampainya di atas dia segera mengecek ponselnya dan tidak ada panggilan telepon ataupun pesan dari sang suami.

__ADS_1


"Huuft, kenapa hari ini tidak ada pesan masuk darinya ya. Biasanya dia akan menelpon meski sekedar menanyakan Al." Aina kembali mondar-mandir tidak jelas sambil mengotak-atik ponselnya.


Pikirannya mulai dipenuhi dengan bayangan El-barack yang sedang asik tertawa bersama seorang wanita cantik dan hal itu membuatnya semakin kesal. "Astaga, apa yang harus aku lakukan!"


Aina yang nampak kesal langsung menormalkan ekspresi wajahnya saat melihat kedatangan sang Papa mertua. "Eh, Pa. Kapan Papa datang?"


Antonio mendekati sang menantu sambil menggandeng sang cucu. "Baru saja, Papa datang untuk menjemput Al. Kamu kenapa kelihatan kesal sekali, ada masalah?"


"Ah ti-tidak." Aina mencoba untuk berkilah meski sebenarnya hatinya mulai gundah. "Oh ya, Pa. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Haha, Al sebentar ya, Mama kamu sepertinya sedang butuh bantuan Kakek." Antonio kembali melihat kearah Aina setelah memberi pengertian kepada sang cucu. "Aina, memangnya apa yang mau kamu tanyakan?"


Sekilas Aina nampak ragu hingga beberapa kali memainkan kukunya. Namun rasa penasaran itu amat besar hingga dengan segala keberanian, dia harus bertanya. "Pa, apa suami saya, hari ini benar ada meeting dengan klien wanita?"

__ADS_1


Mendadak mata Antonio memicing, hingga detik selanjutnya sudut bibirnya mulai tertarik keatas. "Hm, bisa jadi. Rich grup adalah perusahaan besar, banyak wanita genit yang mengelilinginya, dan bisa saja ... ah tidak, semoga semua baik-baik saja. Papa percaya El-barack yang sekarang bukan El-barack yang dulu lagi, haha. Kamu tahu kan dia yang dulu seperti apa?"


Mendadak mata Aina membulat sempurna. Dia bahkan tidak lagi menyadari jika Antonio dan sang putra pergi meninggalkannya sendiri. "Dia yang dulu ... seorang buaya, lalu bagaimana jika ...."


Aina bahkan tidak lagi melanjutkan ucapannya, dia segera bergegas mengambil tas dan melangkah turun dari lantai dua.


"Ai, kamu mau kemana!?" Antonio terlihat kaget saat Aina melangkah cepat melewatinya.


"Saya ada keperluan, Pa. Titip Al sebentar," jawaban Aina tanpa menoleh, dia terus melangkah hingga keluar dari toko.


Antonio dan Al sampai terperangah melihat Aina.


"Mama kenapa Kek?" tanya Al dengan polosnya.

__ADS_1


Sambil terkekeh, Antonio menoleh menatap sang cucu yang sedang menunggu jawaban darinya. "Mama kamu lagi mau pergi jagain Papa, Al sama Kakek saja ya."


Bersambung 💕🙏


__ADS_2