
"Baiklah, kami akan segera kesana." El-barack seolah sudah paham meski Aina tidak menjelaskan semuanya secara detail. Dia mengakhiri panggilan telepon itu lalu kembali melihat Reynald. "Jika kamu tidak percaya, aku bisa membuktikan semua secara langsung, tapi apa kamu siap?"
Reynald mulai memiliki feeling buruk tentang semua masalah yang sampai detik ini masih dia harapkan sebagai kesalahpahaman, dia berharap El-barack hanya salah sangka kepada Lin.
Namun untuk memastikan semua, dia harus mengambil resiko meski kemungkinan terburuk dia akan sakit hati. "Aku siap. Jika benar dia telah mengkhianatiku, maka aku harus membuktikan semua dengan mata kepalaku sendiri."
"Kalau begitu kita pergi sekarang." El-barack segera berdiri dari posisi duduknya, diikuti Boril dan juga Reynald.
***
Lin baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk kimono yang menutupi tubuh polosnya. Sementara Alex sudah menunggu diatas tempat tidur, seolah bersiap untuk melepas rindu.
Saat Reynald pergi, hampir setiap hari mereka bertemu dan menghabisi waktu bersama. Namun sudah dua hari ini dia di landa rasa cemburu, apalagi membayangi Lin disentuh oleh suaminya.
"Lex, kamu kenapa? Aku perhatikan sejak aku datang, kamu cemburu terus, apa kamu tidak suka aku datang?" tanya Lin sesaat setelah duduk ditepi ranjang.
Alex menoleh dengan malas. "Apa kamu sangat senang karena Suamimu pulang? Kamu tidak pernah membalas pesanku. Apa kalian saling melepas rindu kemarin malam?"
__ADS_1
Lin menghela napas pelan saat menyadari kekasih gelapnya itu sedang dilanda cemburu. Dia bergerak naik dan langsung duduk diatas tubuh Alex. "Lex, saat memulai semua ini, kamu sudah siap untuk menerima konsekuensinya 'kan? Aku melayani dia sebagai suamiku tapi kamu tetap tempat ternyaman."
Alex memalingkan wajahnya, saat tangan letik Lin mulai menyentuh bagian da*a bidangnya. "Aku masih kesal jika membayangkan kamu tidur dengan dia kemarin malam."
"Jangan kesal sayang, sekarang aku datang untuk melayani kamu, ayolah kita nikmati saat saat ini, kamu tahu aku tidak bisa berlama-lama."
Alex yang sudah mulai terbuai, langsung bergerak mengubah posisi tubuhnya, hingga kini dia yang berada diatas tubuh Lin. "Kamu milikku Lin." Tanpa menunda waktu, dia menyibak jubah itu dan segera menjelajah pelan dari leher hingga telinga Lin.
"Owh Lex, kamu memang luar biasa sayang." Lin memejamkan matanya, menikmatinya segala sensasi yang ditawarkan pria lain, yang tidak seharusnya melihat apalagi menyentuh tubuhnya.
"Pergi dan lihatlah sebentar, aku akan menunggu disini," ucap Lin sambil membetulkan pakainya.
Alex yang nampak kesal segera turun dari ranjang, memakai baju lalu segera keluar dari kamar. Tidak biasanya ada yang datang bertamu malam hari, kecuali petugas keamanan yang datang mengantar paket.
Sesampainya didepan pintu, dengan santai Alex langsung membuka pintu. Keningnya megerut saat melihat seorang wanita memakai masker sedang berdiri disana. "Ada perlu apa ya?"
Wanita itu adalah Aina, dia menegapkan kepalanya menatap tajam pria yang saat ini berdiri di ambang pintu. Tanpa ragu dia mendekat, mengangkat lututnya dan--
__ADS_1
Bug!
Satu serangan dari lutut Aina mendarat tepat di pusaka Alex, hingga membuat pria itu jatuh tersungkur sambil meringis kesakitan. "Se-sebenarnya siapa kamu?"
Bukannya menjawab, Aina malah menoleh ke sisi kiri dimana Reynald sedang melangkah mendekatinya.
Alex mendogak dan langsung terkejut melihat kedatangan rekan bisnis sekaligus suami dari selingkuhannya. "R-rey, aku bi--"
Bug.
Reynald yang sudah diselimuti kabut amarah, kembali menghantamkan perut Alex dengan satu tendangan.
Lagi-lagi Alex hanya bisa meringis kesakitan.
Reynald segera berlutut, mencengkram erat rahang Alex dengan tangan kanannya. "Sekarang katakan, di mana istriku?"
Bersambung 💕
__ADS_1