
Setengah jam setelah mendengar penjelasan dokter tadi, El-barack dan Aina duduk termenung di depan panggung musik, seolah tak mendengar suara musik yang berdentum keras.
"Tuan, Nona. Kok melamun disini?" tanya Boril yang tiba-tiba datang bersama Yuna.
"Ai, kamu kenapa pucat begitu" tanya Yuna.
Aina yang masih tak percaya, nampak ragu untuk mengatakan kepada Yuna, apa yang baru saja dia ketahui tentang kondisinya. "Aku, itu tadi ... aku me--"
"Aina hamil," sahut El-barack memotong ucapan sang istri.
"Apa, hamil!" ucap Yuna dan Boril secara bersamaan.
"Siapa yang hamil?" tanya Papa Antonio yang juga tiba-tiba saja datang.
Aina hanya bisa menutup wajahnya dengan wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak bisa berkata-kata, antara percaya atau tidak, dia sangat takut jika diagnosa itu tidak benar dan akhirnya El-barack akan kecewa.
"Dokter di stand donor darah tadi bilang Aina hamil," ucap El-barack yang juga masih tak percaya. Ya, kondisinya yang sempat dinyatakan tidak akan bisa mendapatkan keturunan, membuat El-Barack ragu dan tidak ingin terlalu berharap.
"Benarkah, kalau begitu cepat bawa Aina ke dokter SPog," ucap Papa antusias.
Alvian yang tidak mengerti apa, hanya bisa mengerjap bingung.
"Benar juga." El-barack menoleh menatap sang istri. "Ai, ayo kita pergi sekarang."
Aina menghela nafas panjang karena tidak percaya diri. "Huuft, tapi bagaimana jika aku tidak hamil, apa kamu akan kecewa?"
El-barack kembali menggenggam tangan sang istri dengan erat. "Tidak sayang, setidaknya kita harus memastikan."
"Baiklah kalau begitu, ayo."
__ADS_1
***
Pukul tujuh malam, di kediaman keluarga Alexander. Antonio, Boril, Yuna, Albert dan si kecil Alvian, berkumpul di ruang keluarga. Mereka menunggu dengan gelisah.
"Uncle, kenapa mereka lama sekali?" tanya Albert yang terlihat tak sabar sekaligus deg-degan.
"Kita tunggu saja, mungkin jalanan macet," jawab Antonio.
"Apa saya telepon saja," sahut Boril.
"Jangan, tunggu saja," cegah Yuna.
"Huuft, masih lama ya, Al lapel nih," sahut Alvian.
"Al mau makan, sama Bibi dulu ya," ucap Antonio yang masih tidak tenang.
"Mau makan sama Mama aja, Kek," ucap Al kesal.
"Sepertinya itu mereka," ucapa Boril yang sudah berdiri dari posisi duduknya.
Antonio dan yang lainnya pun ikut berdiri. Tak lama Aina dan El Barack muncul dari balik pintu utama hati mereka pun semakin deg-degan untuk menunggu hasil dari pemeriksaan apakah benar Aina hamil atau tidak.
"El bagaimana?" tanya Antonio sesaat setelah El-barack dan Aina sampai di hadapannya.
Kedua pasutri itu saling menatap sebentar kemudian kembali beralih ke Antonio.
"It's a miracle Pa. Kemungkinan kecil yang dulu didiagnosa kepadaku, sekarang terjadi. Aku selalu berharap meskipun tidak mungkin tapi hari ini semuanya terjadi, Aina benar-benar hamil," ungkap El-barack.
Sesaat setelah mendengar kabar itu Antonio dan yang lain, nampak diselimuti rasa haru. Begitu juga dengan Aina yang langsung memeluk putra kecilnya Alvian.
__ADS_1
"Selamat ya Ai, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan hamil," ucap Yuna sambil menyeka air matanya.
"Iya, Yu Akun bahagia sekali," ucap Aina.
"Wah, sepertinya aku harus mendapatkan pendamping hidup secepatnya. Tidak mau kalah saing," ucap Albert sambil menyeka air mata haru.
"Sudah saya bilang, anda tidak mungkin man*ul. El-barack Alexander adalah seorang pria sejati!" tegas Boril yang juga berlinang air mata.
Ya, Boril lah yang menemani El-barack di masa-masa sulit saat di diagnosa menderita kanker perut. Melihat El-barack sekarang, membuat dia merasa perjuangan itu tidak sia-sia.
"Terima kasih, Ril." Dia menepuk pundak Boril lalu ikut duduk disamping Aina dan Alvian. Di ciumnya sang istri dan putra secara bergantian. "Sekarang keluarga kita akan semakin lengkap, terima kasih karena membuat aku merasakan kebahagiaan luar biasa ini, Aina."
"Iya sayang. Terima kasih juga karena sudah menjadi pelindung terbaik untuk aku dan Al, I love you so much," ucap Aina dengan mata berkaca-kaca.
"Wait!" Seru Alvian tiba-tiba. "Ada apa ci ini, Aal gak ngelti."
"Sayang, kamu tidak kecil lagi," ucap Antonio.
"Al, kamu akan jadi Kakak," sahut Yuna
"Di perut Mama ada baby," ucap Albert.
Mata Alvian membulat, dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "What, baby!?"
"Yes, are you happy?" tanya El-barack.
"Oh yeaah," ucap Al terdengar lemas, seolah bisa merasakan bahwa kelak perhatian semua orang di sekelilingnya akan terbagi.
Melihat ekspresi lucu Alvian, semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa tertawa.
__ADS_1
End.