
El-barack terdiam menatap sejenak sebuah benda pipih yang ada ditangannya. Sepertinya dia terlihat tidak asing dengan benda tersebut. "Ini bukannya buku yang sudah lama hilang, siapa yang mengirimnya kemari."
Beberapa saat El-barack nampak terus berpikir, hingga akhirnya dia yang tak mau ambil pusing, meletakkan buku tersebut begitu saja diatas meja, kemudian kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
***
Malam harinya, Reynald yang sudah selesai bersiap-siap untuk pergi menemui El-barack segera bergegas keluar dari dalam kamar, melangkah menghampiri Lin yang sedang duduk di ruang TV. "Lin, aku pergi sebentar ya."
Lin segera berdiri, menghampiri sang suami. Ya, sang suami sudah memberitahu jika malam ini dia akan pergi menemui El-barack di suatu tempat dan baginya itu bukan masalah. "Baiklah, sampaikan salamku ke El Barack ya."
"Iya." Reynald mengecup pipi sang istri. "Kamu kalau mau tidur silakan saja, jangan tunggu aku. Sepertinya El akan mengajak aku mengobrol lama. Kalau begitu aku pergi dulu."
Lin mengantar Reynald sampai ke depan, lalu melambaikan tangan saat mobil sang suami melaju pergi, Lin segera berbalik kembali keruang TV dan langsung meraih ponselnya diatas meja untuk menelpon Alex.
"Hallo, apa kamu dirumah sekarang?"
***
__ADS_1
Boril yang baru saja selesai mandi, melangkah santai dari kamar mandi. "Astaga." Tiba-tiba dia terperanjat kaget saat melihat El-barack sedang duduk santai di ruang tamu.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, Boril melangkah menghampiri sang atasan. "Sejak kapan anda datang, lalu bagaimana bisa anda masuk, seingat saya pintu terkunci."
"Kamu lupa, siapa yang membelikan unit ini?" El-barack kembali meraih botol minuman kalengnya, "Salah sendiri. Kenapa kamu tidak mengubah passwordnya."
"Ah benar juga, oh iya Tuan Reynald mana?" tanya Boril seraya menoleh kanan kiri, siapa tau saja Reynald juga sudah berada di apartemennya.
"Sebentar lagi dia akan datang," ucap El-barack.
Hingga detik selanjutnya, bel pintu tiba-tiba saja berbunyi. Membuat El dan Boril menoleh kearah pintu.
Tanpa menunggu lama Boril segera bergegas membuka pintu dan benar saja, Reynald lah yang datang. Karena jarak antara gedung apartemen tempat Boril tinggal dan rumah Reynald cukup dekat jadi untuk datang ketempat itu, tidaklah membutuhkan waktu yang lama.
"Selamat datang, Tuan silakan masuk." Boril melirik kebelakang, dimana sang atasan berdiri. "Sejak tadi dia dia sudah disini, menunggu Anda datang. Saya sampai kaget melihat dia tiba-tiba sudah diruang tamu."
Ucapan Boril berhasil membuat Reynald terkekeh. "Haha, sepertinya kamu benar-benar tidak sabar bertemu denganku, El?"
__ADS_1
El Barack mengangkat kaleng minumannya. "Aku sudah menghabiskan satu keleng saat menunggu, Kakak ipar. Masuklah."
Boril segera membuka pintu lebih lebar agar Reynald bisa leluasa masuk.
***
Pukul delapan malam, setelah makan malam bersama dengan menu yang dipesan langsung dari restoran berbintang. Ketiga pria itu kembali duduk santai di ruang tamu.
"El, aku tahu berlebihan rasanya jika kamu mengajak aku bertemu hanya karena rindu. Aku yakin kamu punya sesuatu untuk dikatakan, sejak tadi aku menunggu tapi kamu terlihat ragu, katakanlah," sahut Reynald tiba-tiba.
Sejenak El-barack kembali terdiam, dia menoleh menatap Boril yang duduk disampingnya. Boril pun menganggukkan kepalanya, untuk memulai apa yang seharusnya selesai sejak tadi.
"Ehm." El-barack menegapkan posisi tubuhnya. "Seharusnya Aina yang duduk dihadapan kamu sekarang tapi aku memutuskan untuk mengantikan dia."
Helaan napas El mengisyaratkan jika hal yang akan dia sampaikan sekarang begitu berat, mengingat Reynald sangat mencintai istrinya, Lin. "Satu bulan terakhir, saat kamu pergi keluar kota. Lin, ... dia sudah mengkhianati kamu, Rey."
Reynald mendadak beku, dia seperti kesulitan untuk mencerna ucapan El-barack. "Apa maksud kamu?"
__ADS_1
"Istri anda berselingkuh dengan pria bernama Alex," sahut Boril.
Bersambung 💕