
El-barack terus melihat jam di pergelangan tangannya, hari ini ada saja penghalang hingga dia tidak bisa sampai ke tempat Aina tepat waktu.
Seperti saat ini, dia dan Boril terjebak macet, hal ini membuat El-Barack tidak tenang hingga beberapa kali mengendurkan dasinya. "Apa jarak dari sini ke toko masih jauh? Aku ingin menemui Aina secepatnya, dia pasti sedih aku tidak ada disampingnya di saat-saat seperti ini."
Boril bisa mengerti kegelisahan hati sang atasan. Apalagi saat ini dia tahu jika El dan Aina sedang dalam fase saling membuka hati satu sama lain. "Maaf, Tuan. Saya juga tidak menyangka jika jalanan akan sepadat ini."
"Aahk!" Saking kesalnya, El sampai memukul kaca mobil dengan kuat. "Kenapa harus disaat seperti ini. Tadi malam saja aku tidur diruang kerja, aku rasa malam ini dia tidak akan membiarkan aku masuk ke kamar."
Sontak saja Boril langsung melirik kebelakang saat mendengar ucapan El-barack. Dia berharap hanya salah dengar saja. "Seorang El-barack Alexander tidur diruang kerja? Wah Nona Aina berhasil menaklukkan anda, itu sebuah prestasi yang luar biasa."
"Hah?" El terlalu kesal sampai tanpa sengaja mengucapkan hal yang seharusnya tidak dia ucapkan. "Ehm, bukan begitu. Aku malam tadi lembur jadi aku tidur diruang kerjaku. Haha, jangan salah tanggap dulu."
__ADS_1
"Iya Tuan, maaf." Boril lebih memilih untuk mengalah dibanding harus memperpanjang perdebatan. Padahal dia tahu jika El-barack hanya gengsi mengakui semua itu.
***
Ditempat berbeda, saat didalam toko pembeli sedang ramai. Aina dan Merry sedang duduk berhadapan di balkon lantai dua. Aina terlihat diam saat mendengarkan semua cerita Merry tentang masa kecil El-barack.
"Kamu tahu, saat ibu El meninggal Tante yang merawat dia. Tapi semakin dewasa dia semakin tidak menganggap keberadaan Tante. Sebenarnya sedih tapi ... mau bagaimana lagi."
"I-iya Tante." Aina tersenyum, meski dia merasa ada yang janggal dari cerita Merry. Namun sebagai orang baru di keluarga Alexander, dia tidak mau berburuk sangka.
Sikap Merry saat ini memang jauh dari biasanya. Tutur katanya terdengar lembut, perlakuannya terlihat tulus, namun dibalik semua itu ada sesuatu yang sudah dia rencanakan.
__ADS_1
Wanita ini benar-benar membuatku muak, sok polos dan baik. Lihat saja nanti, aku akan memberikan kamu pelajaran berharga, agar dia sadar bahwa tikus itu tempatnya di got, bukan di istana, batin Merry.
"Oh ya, Aina. minggu depan, di rumah tante ada arisan, jadi Tante mau pesan kue di toko kamu. Sekalian Tante juga mengundang kamu untuk datang, bisa ya?"
Aina yang belum terlalu mengenal Merry dengan baik merasa kurang nyaman dan juga ragu, tetapi jika dia menolak, itu sama saja dia tidak menghargai keluarga El-barack.
"Bisa Tante, saya usahakan," ucap Aina yang tidak bisa menolak.
"Syukurlah, kalau begitu berikan nomor ponsel kamu," Merry mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan langsung diberikan kepada Merry.
Tak jauh dari sana Albert sedang memantau sang Mama dari kejauhan. "Kenapa Mama bersikap begitu baik dengan Kak Ai, padahal beberapa waktu lalu Mama terlihat tidak senang," gumam Albert.
__ADS_1
Bersambung 💕🙏