After One Night Mistake

After One Night Mistake
Kamu menyukainya?


__ADS_3

"Sudah sampai."


"Hah?" Aina yang sempat terhanyut dalam lamunan mendadak kebingungan karena tiba-tiba saja mereka sudah di halaman toko. "Ah benar, sudah sampai." Aina kembali menoleh menatap sang suami. "Kalau begitu aku turun dulu."


"Aku Ikut turun, Al sudah ada didalam 'kan?" tanya El sambil membuka sabuk pengaman. "Hari ini aku akan membawa Al bersamaku."


"Bagaimana bisa, kamu bukannya ada rapat di luar?" tanya Aina balik.


"Tidak apa-apa. Aku belum pernah menghabiskan waktu bersamanya." El tersenyum lalu keluar dari mobil mendahului sang istri. Saat dia keluar, terlihat Al sudah berada di ambang pintu toko bersama Yuna.


"Papa!" Al meninggalkan Yuna, berlari kearah sang Papa yang merentangkan tangan untuk menyambutnya dengan pelukan.


"Jagoan Papa wangi sekali." El Barack melepaskan pelukannya menatap bocah kecil itu. "Hari ini ikut Papa, mau?"


"Waw, mau Pa mau!" Al terlihat begitu antusias sampai melompat-lompat kegirangan. Bocah kecil itu seolah memang mengharap bisa menghabiskan waktu bersama sang Papa.

__ADS_1


"Al jangan nakal ya, jangan pergi kemana-mana saat Papa kerja dan jangan--"


"Iya Ma, Al anak baik kok," sahut El-barack sambil menggendong sang putra. "Nanti di tempat rapat ada Boril dan juga para staf siap mengawasi Al. Kalau begitu kami pergi dulu." El mendekat mendekat mencium kening sang istri. "Sampai jumpa nanti sore."


"Bye Mama," ucap Al sambil melambaikan tangannya.


Aina hanya tersenyum, memandangi suami dan anaknya yang berlalu pergi. Jika dulu hanya Al yang paling berarti dalam hidupnya, makan sekarang hati dan pikirannya pun kompak mengatakan bahwa El-barack adalah pria kedua yang begitu berarti dalam hidupnya.


"Waw kalian semakin romantis saja, bahkan dia mencium kamu sebelum pergi," sahut Yuna yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Aina.


"Sekarang dia orang yang kamu cintai, benarkan?" tanya Yuna lalu tekekeh sendiri.


Bukannya menjawab, Aina malah ikut terkekeh. "Ayo kita masuk, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan."


"Kenapa kebetulan sekali, aku juga ingin cerita sesuatu," ucap Yuna sambil melangkah beriringan bersama Aina masuk kedalam toko kue dengan desain estetik itu.

__ADS_1


***


Di tempat berbeda, Albert baru saja sampai di depan mansion. Bukannya masuk melalui pintu utama dia malah melangkah kesamping. Ya, hari ini dia sudah berjanji akan datang menemani Antonio memancing di danau buatan di belakang mansion mewah tersebut.


"Selamat siang, Tuan Albert. Tuan besar sudah menunggu Anda dibelakang," ucap seorang bertubuh kekar seraya menyerahkan satu set alat pancingan.


"Baiklah, terima kasih." Albert meraih perlengkapan pancing itu lalu menaiki mobil golf menuju danau buatan.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya dia sampai ke tempat tujuan. Di tepi danau dia bisa melihat sang paman duduk santai sambil menunggu ikan memakan umpan.


"Sepertinya ikan tidak akan memakan umpan siang ini," ucapannya saat duduk disamping Antonio.


"Ck, kau ini. Jangan remehkan pamanmu. Baru satu bulan lalu danau buatan ini di sisi bibit ikan, sekarang waktunya mereka berakhir di panggangan," ucap Antonio seraya melirik Albert.


"Haha, paman bisa saja." Albert juga ikut beraksi, melemparkan tali pancing ke air danau. "Ada apa lagi kali ini, sudah begitu lama sejak terakhir kali paman mengajak aku memancing?"

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2