
Seorang wanita paruh baya ditemani dua orang anak gadisnya berjalan menyusuri komplek perumahan cluster yang terbilang elite dikawasan Kota S, masing-masing dari mereka menggeret kopernya, sang kakak berdumel kenapa sang mama, selama perjalanan dari rumah besar menuju rumah mereka kini. yaa mereka adalah Bu Ketty dan kedua putrinya Gisel dan Giska.
"Ini semua gara-gara gadis bodoh itu! klo dia gak kerja segala gak mungkin mama marah sama dia kan, dan gak mungkin papa Jaya ngusir kita dari rumah besar itu!" kata Gisel
"Ini semua gara-gara kakak, kalo kakak bisa lebih bijak mengadukan hal yang tidak penting ke mama, mama gak akan marah sama Ka Lella dan papa Jaya tidak akan menyalahkan kita!!" kata Giska.
"Jadi kamu nyalahin kaka?" kata Gisel
"Iya!!" Giska menantang kakanya
Terlihat bu Ketty hanya diam saja melamun tidak menghiraukan kedua anaknya yang ribut itu, "ma.. dimana rumahnya, sudah setengah jam kita berjalan dikomplek ini tapi blm sampai juga!" ucap Giska.
Dalam komplek itu berderet rumah yang di desaign sama setiap rumahnya, bercat kuning soft dan berlantai dua dengan balkon menghadap jalan, didepan rumah masing-masing dipasang pagar tinggi berwarna hitam.
Langkah bu Ketty. berhenti menatap nomor rumah yang kini ada di hadapannya "No. 49, ini rumah kita sekarang!" ucap bu Ketty lemas tak berdaya.
"Ayo kita masuk ma," kata Giska
Bu Ketty mengarahkan kunci ke dalam pintu minimalis di depan setelah masuk gerbang, mereka melihat sekeliling, luas rumah itu kurang lebih 1/5 dari rumah besar yang dulu mereka tempati yaitu rumah pak Jaya.
Setelah pintu terbuka mereka masuk, didalam rumah itu sudah disediakan perabotan yang mana mereka hanya tinggal merapikan saja.
"Mulai hari ini kita bagi tugas lagi, karna tidak memungkinkan untuk kita menyewa pembantu saat ini, uang yang diberikan pak Jaya sudah mama atur untuk membuka usaha dan untuk biaya sekolah kalian sampai kalian lulus, jadi selama itu kalian harus hemat dan tidak boleh memakai uang tanpa izin mama." ucap bu Ketty.
"Jad aku gak bisa lagi ke mall atau nongkrong sama temen-temen donk ma??" tanya Gisel
"Sementara ini tahan dulu ya ka, kita harus tetep up walau kondisi kayak gini, ini resiko yang kita terima ka, tapi ini lebih baik, pak Jaya tidak benar-benar menelantarkan kalian, nyatanya biaya pendidikan dsb masih ditanggung beliau, hanya untuk biaya hidup kita cari sendiri." kata bu Ketty lagi.
Mereka duduk di ruang tengah yang mirip dengan ruang makan karna posisi nya dekat dengan dapur. Mereka saling menguatkan satu sama lain, saling menyusun rencana kedepannya. bu Kettt hanya meminta anak-anaknya tidak mengganggu Lella lagi, ini semacam hukuman bagi ketty karna Jaya sangat kecewa, tapi ketty sangat yakin Jaya masih peduli dengannya.
"Ma.. boleh Giska kerja parttime?" kata Giska
"Kalo memungkinkan boleh aja dek, karna memang saat ini mama gak bisa menjamin apapun untuk kamu, kecuali sekolah." ucap Bu ketty
"Gayamu dek mau kerja!" ledek Gisel
"Ma. . Nanti Gisel nyoba nanya temen yang punya usaha biar Gisel bisa join, Gisel boleh minta modal kan ya ma?" kata Gisel lagi kepada Bu Ketty
"Saat ini kaka cari modal sendiri ya, uang ini mama mau pake untuk buka usaha mama untuk biaya hidup kita bertiga." kata bu Ketty
Gisel yang mendengar jawaban bu kety cemberut dan tidak bersemangat., sedangkan Giska mulai menanyai teman2 nya lowongan parttime.
__ADS_1
*apa aku coba di cafe ka Lella aja yaa, hmm sepertinya bukan ide yang buruk, aku coba tanya sama ka Lella deh. batin Giska
📲*
Ka Ella.. Giska minta maaf atas nama mama dan kaka Gisel. maafin kita ka..
Lella
Dek, ka Ella sudah maafkan kalian, maafkan kaka juga, kaka gak tau kalo ayah sampai semarah itu, sekarang kalian tinggal dimana dek?
Giska
kami dirumah pemberian papa Jaya ka, sekarang mama mulai membuka usaha.
Lella
Bagus kalo begitu, kamu bagaimana dek? bagaimana sekolahmu?
Giska
Sekolah lancar ka, papa Jaya masih menanggung biaya sekolah kami sampai kami lulus
Lella
Giska
sebenarnya Ika mau nanya masalah kerja parttime ka.
Lella
kamu mau kerja dek?
Giska
iya ka, buat nambah-nambah penghasilan bantu mama
Lella menghembuskan nafasnya secara kasar, ia tidak tau kenapa kehidupan ibu tirinya menjadi sesulit itu..
Lella
Nanti kaka infokan ya dek, sekarang kamu istirahat ya..
__ADS_1
Giska
terimakasih ya ka, Aku sayang kaka
Lella
kaka juga sayang Ika ya.. jaga mama ya dek..
Giska memandang ponselnya, Giska sangat sedih kenapa mamanya sebenci itu dengan ka Lella pdahal nyata nya ka Lella sangat menyayangi mamanya itu.
***
pikiran Lella masih bimbang antara menerima Alvin atau menolaknya lagi, selain hati nya memang belum mencintai laki-laki itu sepenuhnya, Namun karna desakan dari ayah Jaya membuat ia harus memikirkan lagi matang-matang.
flashback on
"Gimana Ella? apa kamu mau menerima Alvin sekarang?" tanya pak Jaya, suasana hening terlihat dari wajah- wajah yang berharap jawaban dari putri semata wayang Jaya itu.
"Sebenarnya Ella belum yakin ayah.. tolong beri Ella waktu lagi.!" ucap Lella sambil menunduk menghindari tatapan mata alvin yang menajam ke arahnya.
untuk kedua kalinya Alvin kecewa atas penolakan Lella. tapi wajah laki-laki itu sangat pandai menutupinya.
"Gapapa La, kamu berhak memikirkan ini matang-matang, karna ini adalah tentang masa depanmu! aku siap menunggu La!" jawan Alvin
"Maafin Ella ya ka.!" ucap Lella kepada Alvin
"Its. okay La.." jawabnya
"Baiklah, untuk kali ini ayah tidak memberi waktu yang lama ya sayang sampai akhir semester 1 ini, kamu harus sudah ngasih jawaban pasti sama ayah!"kata Jaya tegas
Jaya khawatir akan masa depan putrinya.. dia sangat berharap Alvin yang menjadi pendamping bagi putri nya, namun semua tidak mau dia lakukan tergesa gesa,
"Baik ayah." jawab Lella.
flashback off
*sudah tinggal 2bulan lagi yaa, aku harus membuat keputusan itu, ya Tuhaaan, apa yang harus aku lakukan, aku sungguh bingung. gumam Lella
-
-
__ADS_1
bersambung*