
Sudah pukul 22.00wib, Aisya dan Bundanya sudah kembali kerumah untuk istirahat, sedangkan Deliza yang menemani Putra, kini duduk disebelah ranjang kesakitan., tangan Deliza menggenggam jemari Putra yang tidak di infus, terlihat perban putih dikepala Putra dan gips yang terpasang di lengan kanan lelaki itu.
Dalam alam bawah sadar, dia bermimpi bertemu dengan wanita cantik yaitu ibunya, Putra merasa sangat haus kasih sayang, ia tidur dipangkuan sang ibu sambil merasakan lembutnya belaian tangan ibu.
"Ma.. apa aku boleh disini saja sama mama!" kata Putra menatap ke arah wajah ibunya yang tersenyum.
"Jangan nak, disana sudah menunggu seorang gadis, dia akan menjadi jodohmu kelak." kata sang ibu.
"Tapi aku masih merindukan mama!" kata Putra membenarkan posisinya menjadi terduduk.
"Hmmm.. kau harus kembali nak, lanjutkan hidupmu, temani papa!" kata Mama Jenita.
"Ma, kapan kita akan ketemu lagi?" kata Putra semakim berat melepas sang mama
"Suatu hari kita akan berkumpul bersama lagi sayang, tapi tidak saat ini, sudah ada gadis yang menunggumu nak, kembalilah!" kata sang mama.
Cahaya putih menyilaukan, menghilangkan bayangan sang mama, Putra berdiri, berputar kemudian berteriak memaanggil ibunya, tanpa sadar dia menggerakkan jemari kembai ke alam sadarnya.
Deliza yang menyadari Putra sudah sadar, menekan darurat tombol, tak lama beberapa perawat dan dokter jaga menghampirinya.
__ADS_1
"Tadi jari-jarinya bergerak dok!" kata Deliza dengan suara cemas..
Dokter hanya tersenyum, ",Dia sudah sadar, sebentar lagi dia akan membuka matanya, nanti kita lihat perkembangan selanjutnya." ucap dokter lagi sambil tersenyum dan mengusap bahu Deliza.
drrttt.. drrrtt...
"Hallo..?" kata Deliza
"____"
"Iya ma, sudah sadar, tapi belum membuka mata, kata dokter kemungkinan sebentar lagi!"
"hmmm.. iya ma, nanti kaka kabari!"
"____"
"Hmm.. wa'alaikumsalam"
Deliza menyimpan kembali ponselnya didalam tas, tanpa dia ketahui bahwa ada sepasang mata yang sudah memperhatikan sejak tadi,
__ADS_1
"Put... kamu sudah sadar?" tanya Deliza
"Hmmm . kamu siapa?" tanya Putra
Deliza tampak terkejut, ia tak menyangka, benturan dikepala Putra berakibat demikian, Deliza mundur teratur, memanggil perawat, dia lupa jika bisa memanggil dengan button emergency.
Dokter yang memeriksa, hanya menggelengkan kepala kemudian menatap Deliza lagi, "benturan dikepala nya mengakibatkan dia amnesia, tapi kamu tenang saja, dia masih mengenal siapa dirinya, berarti ia hanya menderita amnesia sesaat atau lebih dikenal dengan istilah short term memory lost syndrom, ingatannya akan pulih, seiring berjalannya waktu, sering-seringlah berinteraksi dengannya ya!" jelas dokter kembali, Deliza hanya menganggukkan kepalanya.
Dokter keluar ruangan, Deliza kembali mendekati Putra, "Put, kamu butuh apa bilang ya, aku Liza, tunangan kamu! mungkin saat ini kamu lupa, tapi selama kamu disini aku yang akan nemenin kamu, nih liat kita punya cincin yang sama kan?" tunjuk Deliza kepada cincin yang menjadi bandul kalung Putra dengan yang dia pakai, Putra hanya tersenyum, ingatannya belum pulih, namun ia merasa bahagia melihat Deliza disana.
Dengan telaten, Deliza memenuhi kebutuhan Putra, sesekali perannya digantikan oleh sang Bibi, Aisya yang sudah mulai membaik juga kadang ikut serta kesana, guna mengembalikan ingatan Putra, semua berusaha, Mr. Santo kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan urusannya, dia langsung menuju kamar rawat, sebelum masuk, dilihatnya Deliza yang sedang menyuapi makan Putra, Senyum terbit dibibirnya.
Haruskah ku nikahkan kalian saat ini juga? batin Mr. Santo
Jika kalian suka dengan ceritanya, tekan Like yaa.. beri Vote juga supaya akooh lebih semangat..
Beberapa chapter selanjutnya masih kisah Deliza yaaa gaees.. karna untuk cerita Alka dimulai setelah mereka lulus SMA.
Stay tune!!!!
__ADS_1
Happy reading, Happy people