
5Hari sudah Putra pulang, selama itu pula ia dilayani oleh pelayan rumah karna memang lengannya yang patah belum pulih, untuk sekedar memegang sendok ia masih kesulitan, sang Papih harus kembali ke luar negri karna urusan perusahaan.
Putra merasa Deliza semakin jauh, bahkan seharian ia tak lupa mengabari, namum gadis itu sekalipun tak membalas pesan darinya. Pernikahan yang seharusnya akan dilaksanakan minggu depan, harus di undur sampai waktu yang belum ditentukan, karna kondisi Putra yang belum pulih sepenuhnya.
"Za.. bisa kerumah hari ini?" Pesan singkat dikirim ke nomor gadis tercinta oleh Putra, namun centang dua yang menandakan pesannya terkirim tak kunjung berubah warna menjadi biru.
Putra menjadi dilema, terakhir ia bertemu Deliza, gadis itu sudah tak lagi memakai cincin pertunangannya, dan saat ditanya Deliza hanya berdalih sedang ingin saja.
"Huft... " Putra menghela nafasnya kasar, dia pun tak diizinkan sang papih keluar rumah tanpa supir atau pengawal, "Kenapa semua menjadi seperti ini!" ucapnya.
ceklek.
Pintu kamar terbuka, terlihat wajah usil sang sepupu Aisya disana, "Eh. Sya.. masuk!" kata Putra, Putra menuju sofa mendudukan diri disana, Aisya masuk membawakan beberapa buku tugas untuk Putra.
"Gimana sekolah hari ini Sya?" tanya Putra, namun pertanyaannya terdengar ambigu.
"Maksudnya Deliza?" ledek Aisya
Putra hanya diam saja,
"Doi baik - baik saja Put, doi sedang sibuk menghibur temannya yang masih dirawat, kabarnya hari ini dia sudah siuman." kata Aisya
Jadii karena dia. . gumam Putra
"Udah sih, Deliza tadi sebenarnya mau nganter buku-buku ini, cuma terakhir pas denger kabar temannya sadar, ia menitipkan semuanya sama aku." kata Aisya.
__ADS_1
"Dia juga nitip salam, dan minta maaf, besok dia kesini!" kata Aisya lagi.
Putra hanya memandang ke arah buku yang dua pegang, namun.. pikirannya tak disana.
**
Dalam ruangan VVIP milik rumahsakit dimana Bayu dirawat, gempita menyambut sadarnya sahabat tersayang menjadi moment yang tidak bisa ditinggalkan oleh Deliza dan Alka.
Sepulang sekolah, mereka sudah melesat kesana, kini mereka bertiga berkumpul, melihat senyum di wajah pucat Bayu, membawa kelegaan tersendiri.
"Welcome Bay.." ucap Deliza
"Selamat datang kembali bro!! gimana mimpinya? indah kah? sampe-sampe lo gak mau bangun-bangun!" kekeh Alka
Bayu hanya tersenyum, menatap satu persatu wajah sahabat yang sangat ia sayangi, matanya menatap wajah Deliza yang terasa canggung, namun ia tetap menikmati momen kebersamaan mereka.
"Diiihh.. ngadu ngadu. kumat mulut ceweknya!" kata Deliza berdecak.
Bayu masih menanggapi dengan senyuman.
"Bayu, mama sama Papa keluar dulu, kamu ditemani Alka sama Deliza dulu yaa . . Alka.. Deliza tante keluar sebentar, mau cari sesuatu, titip Bayu yaa.! ucap tante Mira.
"Oke deh tante, tenang aja, Bayu kalo nakal nanti aku jewer kupingny!" kekeh Deliza.
Bayu tetap diam, senyum yang sulit diartikan.
__ADS_1
Saat semua sudah keluar, Alka pamit ingin ke kamar mandi,.
"Za.. gw ke toilet bentar!" kata Alka..
"Bay, tinggal dulu ya, ada Deliza kalo lo butuh sesuatu." kata Alka lagi kepada Bayu.
Bayu hanya mengangguk.
"Bay.. lo mau apa!? minum? gw ambilin yaa . . " ucap Deliza
Saat hendak beranjak dari pinggir ranjang, Bayu mencengkram lengan Deliza kuat.
"Za . . sini aja, jangan kemana-kemana!" kata Bayu dengan nada lemah
Deliza tersenyum, "Gw disini Bay, gw gak kemana-mana!"
"Za . . bener.. lo mau merit?" tanya Bayu langsung.
Lengan yang tadi dicengkran seketika dilepas oleh Bayu, dia melihat perubahan wajah sahabatnya itu, nafasnya terdengar berat.
"Lo kata siapa?" tanya Deliza
"Alka yang bilang,!" kata Bayu
"Ceh, jangan didengerin omongan Alka mah, udah sekarang lo sehat dulu aja, jangan mikir yang enggak-enggak!" kata Deliza
__ADS_1
Entah mengapa hati Deliza menjadi sulit untuk menerima kenyataan bahwa memang ia telah dijodohkan dengan Putra.
Kenapa sama aku? kenapa aku jadi lemah begini... batin Deliza kemudian tersenyum saat Bayu masih menatapnya tanpa berkedip.