
Dion benar-benar mengantar gue ke rumah Lisa, terlihat rumah 2lantai bercat putih yang sangat sepi, mungkin penghuni nya hanya Lisa dan Neneknya makanya sepi.
Gue berdiri didepan pagar rumahnya, "Sepi Di! loe yakin Lisa dirumah?" gue kembali menatap rumah 2lantai didepan gue saat ini.
Dion hanya mengangguk, tangannya dengan cepat memencet bel.
klik
Suara pintu gerbang otomatis terbuka, "Dii.. kok kebuka sendiri!" gue heran sekaligus ajaib, gue kira pintu-pintu otomatis gini cuma ada di filem-filem, bahkan pintu rumah gue aja masih harus dibukain sama sekuriti.
"Ayo masuk?" ajak Dion kembali ke mobil saat pintu gerbang benar-benar terbuka. Kami pastikan mobil terparkir sempurna, kemudian turun menuju pintu utama, rumah dengan gaya klasik terpampang begitu menyenangkan bagi siapapun yang melihat.
Ceklek..
Pintu terbuka, Lisa berdiri di balik pintu mempersilahkan masuk. Gue sama Dion duduk disofa besar dengan aksen bunga, di pojok ruang tamu terdapat guci berukuran besar berukir hewan Naga.
__ADS_1
Setelah memastikan gue sama Dion duduk, Lisa kembali ke dalam, feeling gue dia ke dapur, ngambil minum apa cemilan gitu..
Benar dugaan gue, sepersekian menit gue sama Dion hanya lirik lirik manja, Lisa datang dengan membawa nampan berisi minuman berwarna kuning dan toples berisi kue kering yang biasa ada dimeja saat hari raya.
"Ada apa kemari?" tanya Lisa, tentu bukan kepada Gue, tapi kepada Dion, gue heran gaes, mereka memang udah kenal dari kecil, apa mereka sangat dekat? gue hanya menyimak percakapan mereka yang terkesan dingin.
"Gue nganter Alka, kenalin.. !" kata Dion menepuk bahu gue, dan menyadarkan gue dari lamunan gak berfaedah ini.
Gue sontak mengulurkan tangan kanan, "Alka..!" gue menampakkan gigi gigi putih.
Diom bangkit, kemudian berpamitan."Al, gue balik dulu ya, ntar kalo udah selesai langsung kerumah gue aja, !" kata Dion beranjak dari sofa duduknya.
Gue melongo, Terus gue ditinggal gitu? isshh.. Dion itu sungguh terlalu..
"Ya.. ntar gue kerumah loe, loe masih punya tanggungjawab untuk nganter gue pulang juga kan Di!" gue menjawab seolah-olah gue pria lemah gaes, pulang aja minta anterin temen.
__ADS_1
Sepeninggal Dion dari rumah Lisa, gue canggung. Lisa hanya membuka kembali buku yang ia pegang, judulnya Bussiness woman begitu kira-kira.
Tenggorokan gue lama-lama kering, sekering hati gue yang berada di kecanggungan ini
"Sa. gue minum ya!" gue mencoba mencairkan situasi, Lisa hanya mengangguk. tak ada kata satupun yang keluar dari mulut cantiknya
Gue perhatiin wajah Lisa lekat, Perhatian gue berhenti di kelopak matanya bengkak, Apa dia abis nangis? gue mengeryit, walau tidak ada obrolan lagi setelah gue minum, gue tetep sabar menunggunya membuka suara.
Tak lama ia menutup buku itu, gue meliriknya, saat ini ditangan gue hanya ada ponsel, gue menstalking beberapa akun teman tampan gue, senyum sekilas terlihat, karna gue merasa konyol dan lucu melihat tingkah mereka.
"Sudah lama kenal Dion?" Suara Lisa terdengar, gue mengalihkan pandangan ke arahnya, dia sudah menutup dan meletakkan bukunya diatas meja dengan sempurna.
"Hmm.. pas Ospek!" gue jawab singkat aja deh pikir gue, sambil memancing pertanyaan selanjutnya.
Lisa kembali diam, sampai gue pamit, dia hanya menemani gue duduk dan minum air berwarna kuning itu selama 1jam.
__ADS_1