Aku Bukan Cinderella

Aku Bukan Cinderella
Season 3 Tekad Alka


__ADS_3

"Katakan sesuatu Al!" sudah kesekian kali, Lisa memaksa gue buat ngomong, tapi gue masih dalam dilema, gue bener-bener bingung, dikala hati sudah mantap, harus terhalang oleh restu sang Ayah, bagaimana gue bisa menyakinkan ayah kalo gue bisa membuat gadis ini bahagia.


Gue masih menatap wajah Ayu nan Lembut yang mirip dengan wajah teduh milik Bunda gue, gue suka dia, karna memang bunda menyukainya juga, "Ahh.. gue bener-bener dilema!"


"Lisa..?" tenggororkan gue tercekat, kata-kata hendak keluar namun masuk lagi ke otak gue, gue kembali menyeruput es kelapa pesanan kami sebelum memulai perbincangan tadi, Lisa masih menatap bingung..


"Ini tentang pernikahan kita!" Lisa tersenyum, dia masih belum tau kalo apa yang mau gue sampaikan mungkin akan menyakitkan hatinya, padahal gue udah janji mau ngebahagiain dia.


"Kapan?" Lisa bertanya seolah itu yang mau gue bicarakan, padahal enggak.


"Begini.. !" gue ceritakan semua obrolan gue sama Ayah kemarin, gue katakan semua tanpa ada yang di sembunyikan, Lisa hanya terdengar menghela nafas, namun tetap tenang.


"Lalu sikap kamu selanjutnya gimana?" tanya Lisa masih dengan sikap tenang, ini yang membuat gue suka sama dia, bener-bener tenang dekat sama dia, nyaman banget, gue gak mau kehilangan dia Tuhaan.


"Gue bakal pindah kuliah di Luar Negri, Gue udah tekad akan menyelesaikan studi gue di dunia barat sana, sambil mengemban tanggung jawab perusahaan alm. Opa gue!" gue menatap wajahnya masih tenang, tidak ada terbesit kecewa atau sedih, "Ahh. ini sepertinya tidak seberapa dengan apa yang dia alami selama ini!" gue berpikir seperti itu, setelah gue tau seluk beluk kehidupannya.


"Berapa lama?" Lisa menanyakan ini, mempertimbangkan dia bisa menunggu gue,,

__ADS_1


Gue menatap dalam wajah teduhnya lagi. "Gak lama kok, sampai tamat S1 bisnis gue, gue langsung bawa loe ke pelaminan! " gue berucap pasti, gue bener-bener gak mau kehilangan dia Tuhaann.. Oh My God . . gue meracau dalam hati.


"Baik.. aku tunggu." senyum mengembang disana, "Aku tunggu kamu kembali Al!" ucap Lisa kemudian menghela nafas, "tapii jika sampai tiba waktunya kamu tidak datang Al, maaf aku akan menerima jodoh dari nenekku!" katanya lagi dengan wajah tanpa beban, entah begitu pandai dia menyembunyikan semua wajah sedihnya.


"Gue akan terus menghubungi loe dari sana!" gue memastikan bahwa gue gak akan melepas dia sama sekali.


"Itu tidak perlu Al, kamu fokus saja, kalo waktunya tiba segera temui aku!" ucapnya lagi..


Gue mengeluarkan benda kotak bludru biru dari saku, "Ini....!" gue serahin kepada Lisa,


Lisa menerima nya, kemudian tersenyum..


Gue pakein deh ke jari manisnya, "Cantik.. !" ucap gue menatap jemari yang kini tersemat cincin berlian yang tempo hari gue beli setelah mendapat pembagian hasil cafe, diluar dugaan, ketiga temen tampan gue sangat pengertian, mereka menyerahkan semuanya kepada gue,


"Yeeaayy . akhirnya setelah beberapa bulan cafe ini berjalan, kita bisa merasakan hasilnya!" ucap Bayu yang memang memegang managemen keuangan disana.


"Mau dipake apa nih? mau nyewa vila mana kita? apa mau traveling ke eropa?" kata Agung semangat, dengan cengengesannya yang telihat menyebalkan..

__ADS_1


"Tanya sama Alka tuh, doi perlu gak?" Dion masih dengan ponsel ditangannya dan earphone di telinga kanan, semua melihat kearah gue, gue cuma nyengir..


"Gue perlu, mau beli cincin.." dengan cengiran yang gak banget deh . .


Mereka bertiga sepakat memberikan semua hasil cafe bulan ini ke gue, yang mana hasil bulan ini itu merupakan keuntungan kita selama membuka cafe.


"Kalian serius kan!" gue menatap uang yang berada dal genggaman, mungkin jumlahnya berkisar dua sampai tiga puluh jutaan lah,


"Iya Al.. loe pake aja ini.. kan masih ada keuntungan kita bulan depan!" kata Bayu memastikan bahwa mereka yakin atas keputusannya.


"Gue terima.. " gue bahagia punya temen kayak kalian, bukan cuma tampan, tapi solidaritas yang kalian miliki melebihi saudara kandung. gue hampir menangis, namun Agung secepat kilat mengubah suasana haru itu menjadi konyol.


"Al.. ayo .. kita anterin pilih cincinnya, kan itu duit kita bersama, jadi pilih cincinnya bersama, terus.. Aww.... sakit !' Agung meringis, kepala nya diketok pakai pulpen oleh Bayu,, Bayu tau arah pembicaraan Agung kemana. "loe kebanyakan ngoceh Gung!" kata Dion menimpali.


Gue yang sudah hampir menangis, tertawa melihat tingkah konyol mereka.


***

__ADS_1


"Kapan kamu berangkat?" Lisa masih berada dihadapan gue.. kilasan cerita tadi membuat gue melamun lagi.


"Lusa ..!" Lisa hanya mengangguk, kemudian mengajak gue kesuatu tempat.


__ADS_2