Aku Bukan Cinderella

Aku Bukan Cinderella
EXTRA PART ( Andri dan Gisel)


__ADS_3

"Sudah ku putuskan akan membesarkan dia sendiri" kata Gisel, dalam gendongannya terdapat bayi mungil berusia kurang dari 6 bulan, Andri menatap dengan hangat ke arah bayi tersebut.


"Kau tidak bisa menjadi ibu yang egois, dia juga anakku, darah dagingku, apa kau tega memisahkan anak dari ayahnya?" kata Andri, merasa tidak tau diri.


"Kalau memang begitu, selama ini kau kemana saja? bahkan beberapa kali ku hubungi kau tidak mengindahkannya, bahkan sebelumnya kau memberiku uang untuk menggugurkan kandungan jika aku hamil" Gisel emosi tanpa sadar dia meneteskan air matanya kembali mengingat kejadian setahun yang lalu ,yang rasanya baru kemarin.


"Yaa . . untuk waktu itu maafkan aku.. aku benar-benar tidak tau jika kau hamil dan mempertahankan nya!" ucap Andri lemah


Dipesta pernikahan Alvin dan Lella


Suasana haru bahagia menyelimuti dua keluarga, tampak seorang pria tergesa-gesa, kehadirannya tidak begitu menjadi pusat perhatian, hanya saja, kedatangan Andri membuat Dea merona karna bahagia, "Kaka datang?"


"Hmm. aku mengambil penerbangan pertama untuk sampai kesini, maaf yaa, sudah berusaha sepertinya aku masih saja terlambat!" jawabnya dengan mengusap leher belakangnya dengan menampilkan wajah lelah.


"Tidak masalah, karna kaka sudah datang mari aku kenalkan kepada keluargaku.!" kata Dea menggandeng lengan Andri


"Baiklah."


Dea dan Andri berjalan menuju tempat dimana keluarga Dea duduk, disana terlihat Pak Jaya, Bu ketty dan Giska selain kedua org tuanya . memandang sekilas kaka nya yang tampan sedang menaruh perhatian ke gadis yang baru saja di peristrinya, "Ceh . itu kakak ku! yang laki-laki!" kata Dea


Andrie mengangguk,


"Mami, papi, om Jaya, tante Ketty, Giska, ini kenalkan teman Dea ,Andri!" Dea memperkenalkan Andri kepada Semua lalu ikut duduk disana,


Andri terlihat canggung , Giska menatap tajam ke arah pria di samping Dea itu, Giska tau, Andri pernah dekat dengan kakanya, terakhir dia sering melihat dari balkon kamarnya, kakanya diantar dan dijemput oleh Andri, Andri lah pria terakhir yang dekat dengan kakanya, sebelum kakanya memutuskan menetap di Jogjakarta.


"Nak Andri kerja dimana?" kata mami merry


"Iya tante, saya kerja di Ibu kota, kebetulan dari kemarin saya ingin kesini, namun pekerjaan tidak bisa ditinggal, jadi maaf terlambat menghadiri acaranya!" kata Andri


"Hmm.. tidak apa-apa nak, terimakasih sudah datang kesini jauh-jauh.." jawab mami merry dengan senyum lembutnya.


"Oia Ket, gimana Gisel, katanya dia menetap di Jogja?" Tanya Mami merry kepada ketty.


"Iya, entahlah, aku sebenarnya tidak tega Mer, karna aku pernah mengalami hal sepertinya " ucap Ketty lesu.


"Memang kau tidak bisa melacak siapa org terakhir yang dekat dengan Gisel Ket?" kata Rio menimpali, dan itu tidak terjadi dengan Jaya, sikap Jaya terhadap Ketty tidak sehangat dulu, sejak kelakuan Ketty terhadap Lella diketahuinya.


"aku juga bingung Rio, mau menelusuri darimana? karna Gisel sendiri kalo ditanya hanya menangis!" kata Ketty,


Giska menatap tajam menatap dengan tatapan membunuh ke arah Andri yang sedang sibuk makan buah yang disediakan di meja bundar tempatnya kini duduk.


" Semoga ayah dari bayi itu ketemu ya ket, kasian Gisel!" kata Mami merry.


DEG


ayah??


apa Gisel hamil?


Pertanyaan itu terlintas di kepala, memang akhir-akhir ini banyak pesan yang masuk dari nomor Gisel, namun tidak satupun pesan atau tlp yang dia balas.


"Permisi, saya ke toilet sebentar!" ucapnya kepada semua orang disitu.


"Kenapa ka, ka Andri pucat gitu?" kata Dea


"Aku mules De, ke toilet dulu ya!" ucapnya dengan selingan nyengir


"Iisshh.. dasar, !" kata Dea menonjok bahu lelaki itu.


Giska melihat dengan jijik, melihat lelaki yang sudah mencampakkan kakanya dengan menghamili dan meninggalkan kakanya merasakan kesedihan sendiri dengan membawa anak dari lelaki sialan itu. dasar lelaki tidak bertanggungjawab. gumam Giska yang matanya tidak berpaling ke arah Andri.


Ditoilet Andri mengecek semua pesan masuk dari Gisel. Dia mengusap wajah nya kasar, membasuh nya dengan air keran, menatap diri dicermin "apa aku sebrengsek itu!!!"


"Aaaarrghhhh.. sialan, kenapa malam itu aku tidak bisa mengendalikan diriku, padahal aku hanya ingin bermain-main dengannya, aku tidak tau kalo aku telah merampas kehormatan, bahkan sekarang dia hamil anakku!!! Anakku!!" Andri menonjok-nonjok dinding kamar mandi, saat ini dia hanya sendiri disana.


Andri keluar toilet, dia berpapasan dengan Giska, ditariknya lengan gadis itu,


"Katakan.. dimana Gisel sekarang!" kata Andri


"Kenapa? kenapa kau baru bertanya sekarang?" kata Giska

__ADS_1


"Apa kau tau bagaimana menderitanya kakaku??"


"Iiyaa.. maafkan, maafkan aku, aku akan menyusulnya, katakan dimana dia?" kata Andr i frustasi


"Ceh,. setelah semua terjadi kau baru menyadarinya, laki-laki tidak bertanggungjawab!" umpat Giska


"Kau cari sendiri kakaku, aku tidak akan memberitahu dimana dia!" ucap Giska sambil berlalu meninggalkan Andri dalam kebingungannya.


Kembali ke meja,


"kenapa ka?" kata Dea "Ayo makan dulu"


"De, ada pekerjaan darurat, aku harus pergi, tidak masalah kan?" kata Andri


"Tidak, tidak masalah, ayo aku antar kaka ke depan," kata dea


setelah berpamitan dengan semua, andri benar-benar keluar dari ruangan megah tersebut, terselip perasaan kecewa dihati Dea, namun Dea tidak punya hak menahan pria itu, karna hubungan mereka juga belum ke arah sana.


"Hati-hati ya ka!" kata Dea melepas Andri


"Hmm.. maafkan aku ya De, aku harus pergi!" kata Andri mengusap kepala Dea


Dalam hati andri, maafkan De, aku harus mengejar Gisel, wanita pertama yang membuatku sadar dan betapa berartinya dia untukku,


Selama beberapa bulan Andri melanglang buana, menjejaki langkahnya di Jogjakarta, namun kesempatan yang dimiliki seolah hilang, beberapa kali dia menelpon dan mengirim pesan kepada Gisel, namun gadis itu tidak membalasnya.


"Gisel, maafkan aku, dimana kamu! dimana kamu dan anakku!" kata Andri.


drrt. drrt drrt


.ponsel Andri berdering


" ya.. apa sudah ada kabar?" katanya


"___"


"Baiklah,. kerja bagus, terimakasih"


panggilan ditutup.


Sampai didepan rumah sederhana, dia berdiri, menatap dengan sedih, menatap keberadaan Gisel, ditempat ini Gisel menghabiskan waktu hamilnya, melahirkan anaknya dan mengurus segala sesuatunya sendiri, Gisel terlihat menggendong seorang bayi, hendak keluar rumah, Andrin menatap dengan tatapan penuh sesal, sebelum Gisel menyadari bahwa Andri memperhatikan, Gisel keluar menggunakan payung untuk melindungi bayi yang digendongnya dr sinar matahari, saat Gisel mengangkat wajahnya, seketika langkah kaki nya melemah, airmata mulai menetes.


Langkah gontai menyertai langkah kaki Andri, dia cukup lelah mencari keberadaan Gisel, walau pada akhirnya dia menemukan mereka, kini posisi mereka saling berhadapan.


"Untuk apa kau kemari?" kata Gisel


"Untuk membawamu dan anak kita keluar dari rumah ini!" kata Andri


"Ceh, sadar kah kau dengan ucapanmu?"


"Yaa.. aku sadar, aku datang untuk menjemput kalian!"


"Kenapa?"


"Karna dia anakku!"


"Bukan.."


"Maafkan aku gisel, aku bersalah menelantarkanmu, aku pikir kau akan menggugurkan dia sejak dulu, maaf jika aku sama sekali tidak menghiraukanmu! pasti kondisi mu saat itu sangat berat!" Andri mulai menyesali setiap perbuatan acuhnya ke Gisel


"Silahkan pergi dari sini!" Gisel membalik badannya hendak pergi meninggalkan Andri, Andri menahan dengan memegang tangan Gisel.


"Tolong.. jangan seperti ini!" kata Andri


"Aku sudah berusaha mengajakmu bicara sejak dia dikandunganku, tapi tidak ada tanggapan apa-apa darimu, sejak saat ini aku memutuskan untuk membesarkannya sendiri tanpamu.. Dengan menekan ucapan Tanpamu Gisel menatap tajam ke wajah Andri, Andri mulai frustasi atas penolakan yang dilakukan Gisel,


"Silahkan pergi!!" kata Gisel lagi


Kali ini dia masuk kembali ke dalam rumah dan meninggalkan Andri.


Namun usaha Andri tidak sampai disitu.. sejak dia mengajak Gisel kembali padanya, Andri terlihat berdiri di teras rumah sederhana milik bibi Fanny, adik dari bu Ketty yang memang sudah kosong dan ditempati Gisel sementara. Andri menyelidik apa ada orang selain gisel disana, ternyata tidak, Gisel tinggal disana sendiri, dibelakang rumah itu ada rumah dari nenek Gisel, yang sekarang ditempati oleh Om Hary yaitu kakak dari Bu ketty, Andri masih tetap menunggu Gisel.

__ADS_1


Hingga malam tiba..


ceklekk. (pintu dibuka)


Andri menatap pintu "Gisel?"


"Kenapa kau masih disini?" kata Gisel


"Ayo pulang bersamaku!" kata andri


"Tidak, ini rumahku!"


"Kumohon gisel, sudah cukup kau siksa anakmu dengan tinggal disini, dan jauh dariku.!"


"ceh.. anakmu??" sejak kapan kau mengakui dia anakmu?" aku yang mengandung dan melahirkannya"


"Aku minta maaf Gisel, sungguh,, aku minta maaf.." Andri menangis berlutut dihadapan Gisel memohon agar gadis itu merubah keputusannya.


"Masuklah, kita bicara didalam, tidak enak dilihat orang!" kata Gisel akhirnya luluh


Didalam rumah, mata Andri menatap sekeliling, rumah berukuran 10x40 dengan kamar satu dan dapur yang langsung terlihat dari ruang tamu menjadi tempat tinggal Gisel setahun belakangan.


Dilihatnya dengan tersenyum gisel membawa minum untuknya,


"Dimana dia?" kata Andri


"Dia tidur, "ucap Gisel seakan paham siapa yang ditanya oleh Andri


"minumlah, apa kau sudah makan?"


Andri menggeleng, sebentar aku buatkan makanan.. Andri menarik tangan Gisel membuat gadis itu tertarik dan duduk disebelahnya.


"Duduklah disini, jangan kemana-mana, aku tidak lapar, aku hanya ingin cepat membawamu pulang." kata Andri.


"Pulang?" ini rumahku" apa kau lupa?" kata Gisel


"Tidak, rumah kalian bersamaku." kata Andri


"Baiklah, terserah kau saja." Gisel mengalah, lagipula sudah malam dia malas berdebat dengan laki-laki di hadapannya ini


"Sudah malam, apa kau tidak pulang?" tanya Gisel


"Tidak, Malam ini aku akan menemani kalian!" jawab Andri


"Terserah kau saja, yang jelas rumah ini hanya memiliki kamar satu" ucap Gisel sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya, menemani putra kecilnya yang tertidur nyenyak.


Gisel memandang hangat wajah bayinya, dengan perasaan ragu, akhirnya dia menuruti kemauan Andri, setelah ini dia akan mensahkan ikatan mereka ke jenjang pernikahan, setelah lama berdebat tadi, Gisel menyetujui pernikahannya di selenggarakan di Ibu kota tempat keluarga Andri.


Semoga keputusan mama tidak salah ya nak!! dan kau mendapatkan hakmu.


***


Pagi menjelang, mereka bersiap untuk berangkat ke Ibukota, dengan berpamitan kepada kerabat disana, Gisel membawa tas koper dan ransel kecil, sedangkan Putranya digendong oleh Andri..


"Oh iya aku lupa, siapa namanya? apa kau sudah memberinya nama?" kata Andri


"Hmm.. namanya Angga, Airlangga Saputra," jawab Gisel


"Aku tambahkan Maulana dibelakang namanya, Airlangga Saputra Maulana, bagaimana?" kata Andri


"Terserah kau saja!" jawab Gisel


Tatapan mata Andri begitu hangat menatap wajah mungil anaknya, rasa sesal yang memuncak menyesakkan dada nya seketika, dia melirik Gisel yang terlelap dikursi samping tempat dia duduk, saat ini mereka mengendarai mobil dengan supir, Andri meletakkan kepala Gisel di bahunya,


"Maaf, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." seketika mengecup kening Gisel yang tertidur .


10Jam kemudian, mereka sampai di Ibukota, diluar dugaan, ternyata Andri lebih dulu menghubungi keluarga, dan meminta agar keluarganya menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya dengan Gisel, semua sedang menanti kedatangan mereka, disaat sedang mengobrol satu sama lain, bunda Jessy yaitu mama dari Andri, tersenyum melihat kedatangan mobil Andri yang masuk pelataran rumah mereka, dengan konsep garden party, acara pernikahan akan dilangsungkan besok.


***


"Terimakasih Gisel, kau telah memberiku kesempatan kedua, aku janji akan menjagamu dan anak-anak kita, aku takkan meninggalkan mu lagi apapun yang terjadi."

__ADS_1


Andri berbicara dihadapan Gisel setelah acara pernikahan mereka, dan saat ini mereka berada dikamar memandang nyenyak nya buah hati mereka yang tertidur pulas.


-🤗-


__ADS_2