Aku Bukan Cinderella

Aku Bukan Cinderella
Season 2 Curahan Hati


__ADS_3

Putra mengambil ponselnya didalam saku, ia mengetik beberapa kata disana.


Putra,


"Ais, kamu udah pulang?"


beberapa detik kemudian terlihat Aisya mengetik sesuatu


Aisya


"Iya sudah, ada apa Put?"


Putra,


"Aku kerumahmu!"


Aisya


"Oke"


Putra kembali keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, hingga mr. Santo yang kini berada di teras sedang menikmati kopi sambil bekerja pun tak ia hiraukan.


"Mau kemana lagi anak itu?" ucap mr. Santo setelah dilewati begitu saja oleh anaknya.


Putra mengendarai motor, karna ia malas mengeluarkan mobilnya kembali dari garasi, motor matic yang dikendarai hanya mengitari komplek perumahan saja, hingga ia tiba di Gang rumah Aisya sepupunya. Putra memarkirkan motornya dengan sempurna, kemudian masuk seperti biasa.


"Assalamu'alaikum" ucap Putra.

__ADS_1


Terlihat Ibu dan ayah Aisya yang sedang mengobrol di teras sambil sang ayah mengelap mobil clasic miliknya.


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka bersamaan.


"Paman.. Bibi.. Aisya didalam kan?" kata Putra menyalimi ibu dan ayah Aisya


"Iya, masuk aja Put." kata Bibi atau ibunya Aisya.


Putra masuk, sebelum sampai di kamar Aisya ternyata Aisya sedang duduk di kursi makan.


"Heeh.. ngapain kamu malem-malem begini!" kata Aisya sambil meminum wedang jahe buatannya sendiri.


Putra putar arah menghampiri Aisya dan kini mengambil duduk di hadapan sepupunya itu


"Ada sesuatu yang mau aku ceritakan!" kata Putra, sambil meraih gelas isi wedang jahe milik Aisya.


"Udah deh, jangan ngeledek, mau gak dengerin, aku sekalian mau minta pendapat kamu Sya.." kata Putra.


"Seperti nya serius banget, okelah, kita ngobrol ditaman belakang saja ya." kata Aisya.


Putra hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu daripada Aisya. Aisya hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah mereka duduk,.Putra memposisikan diri di atas ayunan, sedang Aisya duduk di kursi santai.


"Begini Sya, barusan Papihku ngajakin aku bertemu sama anaknya rekan kerja Papih." ucap putra sendu


"Lalu?" kata Aisya yang menunggu cerita selanjutnya.

__ADS_1


"Aku bingung, aku mulai pendekatan sama Deliza, tapi malah disuruh begini, dan kata Papih, pernikahan aku akan dilangsungkan jika kami berdua cocok," Putra menghela nafas berat.


"Menurut kamu, aku mesti gimana? aku pengen memilih pasanganku sendiri, dan aku juga gak mungkin menikah saat ini, sedang kita saja masih sekolah." kata Putra, " Tapi aku gak mau ngecewain Papih!" ucapnya lagi.


Sejenak mereka terdiam, hal rumit menurut Aisya, karna Ia sangat mengenal Paman Santo, kakak dari ibu nya Aisya ini terbilang keras, walau diawal dia mengatakan akan mempertimbangkan perasaan anaknya, tapi disisi lain dia akan memiliki beribu cara untuk tetap menjalankan rencana awalnya, dan itu sudah diketahui sejak memutuskan memindahkan Putra satu sekolah dengannya, karna Paman Santo pikir akan lebih mudah memantau pergaulan putra semata wayangnya melalui Aisya sepupunya.


"Hati kamu bilang apa Put?"kata Aisya


Putra hanya menggeleng, bingung.


"Begini aja, kalo memang hatimu gak sejalan dengan apa yang menjadi rencana Paman Santo, lebih baik tolak dari sekarang !" kata Aisya


"Kalo memang hatimu memiliki firasat baik, lanjutkan, ikuti apa yang Paman Santo Inginkan Put."


Putra hanya memejamkan mata menikmati ayunan yang sudah dia kayuh sejak tadi, ia meresapi, bagaimana isi hatinya, apa dia akan maju, atau dia memilih untuk menolak dari sekarang, tapi alasannya apa? Putra pusing sendiri, jika hubungannya dengan Deliza sudah pasti, Putra tidak akan sepusing ini, apalagi diminta sang papih untuk menikah muda, karna statusnya yang anak semata wayang, setelah menikah, ia akan langsung memegang 50% saham di perusahaan milik sang papih dan menggantikan sang papih dalam mengkoordinir perusahaan.


"Baiklah.. sudah kuputuskan Sya!" ucap Putra setelah beberapa menit mengayunkan diri.


"Semoga pilihanmu menjadi yang terbaik untuk dirimu, dan tidak menimbulkan penyesalan kelak ya Put, semangat!" ucap Aisya.


"Ya sudah, aku pulang dulu, terimakasih Sya!" ucap Putra berjalan menuju pintu keluar.


"Paman bibi, Putra pamit pulang!" katanya di hadapan kedua orangtua Aisya.


"Hati-hati Put, sudah malam!" kata Sang bibi.


Putra melajukan kembali motor matic miliknya, ia memutuskan akan berbicara dengan Deliza saat ini juga, tapi ia akan pulang dulu untuk mengganti pakaian dan ia memutuskan membawa mobil saja.

__ADS_1


__ADS_2