
Agung menghentikan mobil di salah satu Vila yang berjejer dengan pemandangan gunung dan bukit hijau disekitar,
"Waaahhh... akhirnyaaa!" gue merentangkan tangan lebar-lebar setelah turun dari mobilnya Agung.
"Woyyy.." teriak Bayu, saat Dion mencoba menyelak untuk melihat pemandangan itu juga.
"Gung.. loe emang jempol!" gue mengacungkan dua jempol milik tangan gue kepadanya.
Agung hanya senyum smirk yang membuat jengkel orang bagi yang melihat, "ceh.. sembunyikan wajah menyebalkan loe itu Gung!" kata Bayu.
Gue dan mereka memasuki Vila yang ada disitu, "Nih Vila punya siapa Gung?" gue penasaran, soalnya Vila yang nampak terawat, namun terlihat sangat privasi.
"Ini Vila punya nenek gue, diwarisin ke cucu satu-satunya, yaitu gue, Agung Hinanta" ucap Agung membuat kami merasa jengah, iya memang begitulah, Agung.. cowok tajir melintir, dia keturunan ketiga dari keluarga Hinanta, bahkan mamanya divonis tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkannya, padahal kekayaan keluarga Hinanta sangatlah banyak. Tapi gak disitu gaes gue selalu liat temen-temen gue, walau mereka tajir, asal merakyat gue suka.
"Gung.. ada minuman apa makanan gitu!" celetuk Dion, Dion jarang sekali.bicara, ia hanya memperhatikan jika kami berempat ngumpul, tapi Dion itu punya sisi lain gaes, contohnya di Vila ini, dia orang yang pertama pergi ke dapur, mengecek stok bahan makanan, gue curiga, jangan-jangan dia salah masuk fakultas deh, soalnya di cocok menjadi master chef karna hobi nya itu.
"Ckckck.. udah kayak mami gue loe Di, datang-datang nanyain stok makanan!" kata Agung tapi berjalan juga ke arah belakang, gue perhatikan ia menghampiri wanita parubaya, kemudian membiacarakan sesuatu, lalu wanita itu mengangguk sambil membungkukkan badan. Agung berjalan lagi kearah kami,
"Ntar Di, sabar, lagi dibelanjain sama Bi Ning." kata Agung yang kini mendudukan diri di salah satu kursi Bar.
"Gue baru tau Gung, loe punya Vila seAsri ini!" kata Bayu, dia menatap ke arah luar jendela, memang pemandangan cukup ASRI bagi kami yang biasa dengan hiruk pikuk padatnya kota.
__ADS_1
"Kita bisa agendakan buat kesini,!" jawab Agung santai sambil menyesap minuman kaleng yang baru saja ia bagikan.
Jangan tanya gue gimana sekarang ya, karna jawabannya gue masih oleh, ckckck...
Gue membuka lagi komputer lipat yang selalu ada didalam ransel,
"Ngapain Al?" tanya Agung "Simpen aja dulu, besok lagi!" lanjutnya.
Namun gue gak menggubris bisikan setan tersebut. "Gue cuma mau lebih cepat kerumah Lisa " gue bicara tapi yang melotot itu si Dion..
"Loe serius sama Lisa Al?" pertanyaan Dion kali ini membuat gue mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Iyaa Di, gue serius..!" gue berkata dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Bang Al?" Bunda selalu berkata manis dan lembut, itu yang membuat gue begitu menghargai wanita, gue selalu melihat sosok Bunda gue.
"Iya Bund... Abang dengar!" namun gue sering sibuk sama urusan perkamaran gue
"Abang gak niat cari pacar bang!" Bunda mah gitu orangnya to the point, tapi gue suka, makanya gue juga suka to the point, mungkin nurun dari sifat Bunda kayaknya.
"Belum bund, Abang mau kuliah dulu, bantu perusahaan Ayah dan Opa, terus baru deh nyari mantu buat nemenin Bunda." Gue selalu jawab dengan memeluk bahu Bunda atau membuat Bunda merasa disayang.
__ADS_1
"Gapapa Bang, kalo mau dicari sekarang," Bunda gue selalu bisa kalo menggoda, padahal dulu kata Ayah, Bunda paling Jaim sama cowok, apalagi soal goda menggoda, bahkan Bibi Dea juga bilang gitu
"Sabar ya Bund, Bunda doain, semoga Abang dapat ngasih Bunda mantu idaman!" gue memeluk Bunda gue, dan Bunda selalu mengusap kepala gue layaknya anak Balita.
Sejak itulah, gue serius juga mencari ilmu dan mencari mantu buat Bunda.
Gue sih maklum gaes, sejak kedua kakak kembar gue dibawa suami, Bunda merasa sepi dirumah, bahkan gue aja jarang dirumah, kayak sekarang.
Acara di Vila berlanjut,
Setelah Agung mendapatkan pesanan, gue liat dia dan Bayu menyiapkan beberapa alat bakar, dan gue sudah geleng-geleng kepala gaes melihat tingkah mereka, konyol.
Gue juga liat Dion mengenakan celemek Apron, yang biasa di pake chef chef gitu, membawa beberapa nampan berisi ikan, sepertinya dia baru saja melumuri ikan itu dengan bumbu.
Terus gue liat lagi Dion berjalan ke dapur, membuka magic com yang mengepul,."Kapan masak nasinya? udah ngepul aja!".
Bau Nasi menggoda perut gue untuk segera memerintahkan tangan menutup komputer lipat di hadapan gue sekarang.
"Ceh.. emang yaa. liburan tetep liburan, tugas besok aja, gue cuma.bergumam kecil tersenyum.mentah melihat tugas gue yang belum bertambah tingkat selesainya itu.
"Jelas aja, melamun terooos!" Bayu mendudukan diri di samping gue, seolah mengejek.
__ADS_1
"Deadline masih besok, ntar malem gue lanjut" gue bener-bener menyimpan benda keramat itu di ransel, dan bangkit untuk bergabung bersama Dion.
"Barangkali dapat angin segar lagi kan yaa!" gue terkekeh konyol.