
Sesampainya dirumah Dion, gue merebahkan diri di kasur didalam kamar lelaki dingin namun menyegarkan itu.
"Gimana?" kata Dion, dia berjalan masuk dengan membawa minuman kaleng.
"Kembung gue Di, di Lisa gue minum, disini loe kasih minum lagi." tapi gue ambil juga sih. ckckck..
"Lisa tuh susah banget dijamahnya!" gue mengucap tanpa melihat raut wajah Dion yang berkenyit..
Gue melempar bantal ke arah wajah Dion yang gue pikir menyebalkan.
"Maksud gue, susah di ajak ngobrolnya!" Dion kembali ke wajah semula.
"Emang loe tadi nanya apa?" Dion menyelidik gue,
"Malah gak ngomong apa-apa gue, saking bingungnya,!" gue kembali merebahkan diri, memejamkam mata sejenak.
"Ceh .." terdengar kata Ledekan dari Dion, lelaki itu tersenyum tipis, gue sempet melirik ke arahnya dengan mata elang gue...
"Terus mau lanjut?" kata Dion lagi, seolah gue denger pertanyaannya mengandung arti ledekan gaes. Gue malas menanggapinya.
"Gimana selanjutnya?" kata Dion, dia benar-benar penasaran dengan hubungan gue dan Lisa kedepannya.
"Langsung gue lamar aja kali ya!" kata kata gue membuat Dion tersedak, melotot ke arah wajah gue,
__ADS_1
"Gue serius!" gue berucap dengan keyakinan.
"Dah ahh.. gue balik, ayo anterin gue ..!" Dion hanya diam sejak gue menyatakan akan melamar Lisa, dan menyatakan keseriusan gue.
Dia keluar kamar menyusul gue dengan mengenakan kaos panjang dan jeans, tak ketinggalan earphone di telinganya
"Loe harus cek THT deh kayaknya!" Dion mengedikkan bahu.
"Telinga loe itu kesumbat lama-lama kalo lie pake earphone sepanjang hari.." gue berkata karna gue peduli sama Dion..
"Emang loe lagi dengerin apaan sih?" gue merebut earphone itu, dan segenap tenaga Dion merebutnya kembali, dia menonjok bahu gue tapi gak bikin gue sakit atau berdarah, dia hanya bercanda
"Ayo gue anter, cepetan, gue masih ada urusan abis ini!" kata Dion.. gue mengeryit.
Dion hanya terkekeh konyol.
***
Kembali kerumah, gue tidur sepanjang perjalanan, Dion tetap sibuk dengan earphonenya gue meliriknya diseparuh perjalanan, saat itu gue merasakan ponsel gue bergetar.
"Iyaa bund.. ini lagi dijalan, ada apa?" ternyata bunda gue yang telpon, gue berbicara dengan wanita yang melahirkan gue, yang gue lihat tercantik didunia dan menempati hati gue secara khusus itu mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan, gue hanya mengangguk kemudian.
"Siap bund.. pokonya bunda tenang aja ya!" gue menutup panggilan itu, gue melirik Dion masih fokus ..
__ADS_1
"Di . . anter gue ke toko kue Bakery itu ya,!" Dion hanya mengangguk dan memutar stir nya kembali,
Toko Bakery
Gue membeli semua titipan bunda tercinta gue, katanya mau ada kakak gue yang datang menginap dirumah, jadi bunda pasti masak enak dan gue.. sangaaat suka..
Kembali masuk mobil, masih dengan kondisi yang sama, Dion melirik gue, "Banyak amat!" komentarnya.
"Titipan Bunda!" gue memberikan Dion sekaleng minuman isotonik karna memang kita belum minum sejak dari rumahnya.
1jam perjalanan, gue nyampe juga dirumah, Dion ikut masuk ke dalam, menyalimi bunda gue, dan langsung masuk ke kamar gue dilantai 2, gue merasa aneh aja sama anak itu lama-lama, semakin tertutup.
Gue memberikan pesana bunda, "Bang Al, nanti kaka Lila datang sama Suami dan Keponakannya suami nya lhoo..!" bunda mengucapkan itu dengan semangat.
"Ntar kamu kenalan ya!" Tambah bunda lagi menasehati aku yang memang suka cuek,
"Jam berapa datangnya bund? Abang biar istirahat dulu dikamar," gue duduk memandang wajah cantik bunda gue, rasanya gue pengen banget punya istri yang memiliki sifat dan wajah teduh kayak bunda..
"Sekitar jam 7 malam deh, Itu Dion mau nginep?" tanya bunda.
"Iya kayaknya bund, biarin deh, kasian dia nyetir tadi Abang tidur!" gue terkekeh kena jitakan sayang darinya.
"Ya sudah bund, Abang naik dulu ya!" gue melangkahkan kaki keatas menuju kamar,
__ADS_1
Sayup - sayup gue denger suara orang mengobrol, Dion berbicara serius dengan ponsel di hadapannya, tetap memakai Earphone, dia melakukan video call, entah dengan siapa..