Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(16) Mulai Bucin


__ADS_3

Sarah kembali melepas peluknya ia malu dengan Alan karena terus-terusan memeluk Alan.


"Kamu takut sama kecoa?"


"Bukan takut tapi geli."


"Dia kan cuma hewa kecil lagi, enggak usah takut."


Alan mengusap rambut Sarah, dan kini mereka melaju menuju rumah Sarah. Alan berhenti di sebuah supermarket. Ia menyurug Sarah untuk menunggu di dalam mobil saja. Dan ternyata Alan membelikan minuman untuk Sarah. Alan tak tega melihat Sarah masih pucat. Alan kembali ke dalam mobilnya.


Ia memberikan minuman untuk Sarah, Sarah langsung meminum minuman yang diberikan oleh Alan.


"Pelan-pelan minumnya."


Alan melanjutkan perjalanan, ia melihat Sarah sudah tidak sepucat tadi. Setelah 15 menit perjalanan akhirnya sampai di rumah Sarah. Alan hanya bisa mengantarkan Sarah sampai gang. Karena mobil Alan tak bisa masuk ke gang yang terlalu kecil.


"Aku pulang dulu ya, terimakasih."


"Sama-sama, jaga kesehatan ya sebentar lagi ujian."


"Kamu juga."


Alan masuk mobil setelah tak melihat Sarah dari padanganya. Alan tidak terkendali, cinta yang ia rasakan mengalir begitu saja. Alan jadi ingin serius menjalin hubungan dengan Sarah. Karena Sarah berbeda dengan yang lainnya. Selain cantik Sarah juga pintar, pekerja keras dan tidak matre.


"Tahan Alan kamu enggak boleh jatuh cinta dengan Sarah, ingat apa tujuanmu. Sarah bukanlah orang yang tepat untukmu." Batinu Alan.


Pikiran Alan mulai berkecamuk, hatinya ingin bersama dengan Sarah. Namun pikirannya hanya ingin mempermainkan Sarah. Entah mana yang dipercaya Sarah, hatinya atau pikiranya.


Sarah senyum-senyum sendiri, dan membuat ibunya heran. Ibu Sarah sudah mulai membaik kondisinya juga sudah sembuh.


"Lagi jatuh cinta ya? Sama siapa kok senyum-senyum sendiri?"


"Ibu apaan sih, kok bangun sih bu."


"Ibu udah sembuh sayang berkat kamu."

__ADS_1


Sarah memeluk ibunya, ia tak ingin sang ibuk sakit lagi. Sarah sangat menyayangi ibunya itu karena ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya.


"Sarah sayang sama ibu."


"Ibu juga."


Sarah duduk bersama sang ibu, mereka bergurau bersama. Keadaan yang selama ini dirindukan Sarah. Setelah lama ibunya hanya bisa berbaring, ia bahagia ketika melihat sang ibu bisa ternyum lagi. Fandy datang ke rumah Sarah, ia mendengar suara ibu Sarah.


"Bibi sudah sembuh?"


"Sudah nak, terimkasih untuk bantuanya selama ini."


"Sama-sama."


Disisi lain Alan mampir ke toko ponsel, ia membelikan ponsel untuk Sarah. Dan tujuan Alan agar ia bisa dengan mudah menghubungi Sarah. Karena susah baginya jika Sarah tak memiliki ponsel. Alan sudah membeli ponsel yang bagus untuk Sarah. Harganya cukup mahal, namun tak mejadi masalah untuk Alan. Karena Alan memiliki banyak uang.


"Semoga kamu suka, dan kamu akan segera jatuh cinta denganku." Batin Alan.


Alan kembali ke rumah, ia akan memberlikan ponsel itu esok hari untuk Sarah. Dan ternyata perasaannya menang, Alan memilih untuk membuka hatinya untuk Sarah. Karena kehadiran Sarah membuat hidupnya tak lagi sepi. Hidupnya yang dulu gelap kini mulai berwarna. Dan itu semua berkat Sarah.


Fandy menatap Sarah, Sarah nampak bahagia. Ia tahu Sarah bukan hanya bahagia karena ibunya tapi karena kekasihnya saat ini.


"Apaan sih bu, ya bukalah Fandy kan udah Sarah anggap seperti kakak Sarah sendiri."


"Iya bi, enggak mungkinlah karena Fandy."


Fandy pamit pulang karena adiknya memanggilnya. Sarah mengantarkan Fandy sampai depan rumah. Fandy mengucapkan selamat pada Sarah karena sudah memiliki kekasih. Sarah mendoakan Fandy agar segera mendapatkan kekasih juga.


Pagi itu Sarah berangkat ke sekolah, dan ternyata Alan sudah menunggunya di gang. Ibu Sarah sudah kembali berjualan kue putu, dan itu meringankan beban Sarah. Kini Sarah hanya berkerja sebagai kurir makanan saja. Dan malah hari Sarah sudah bisa beristirat.


"Alan, ngapain ke sini sih, nanti mobilmu kotor."


"Kotor bisa dicuci, ayo naik."


Alan membukakan pintu mobil untuk Sarah, dan kini Sarah masuk ke dalam mobil Alan. Alan menatap Sarah, ia memberikan ponsel yang ia beli kemarin untuk Sarah.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Ponsel buat kamu, biar aku mudah untuk menghubungimu."


"Tapi ini terlalu mahal."


"Terima saja atau aku akan marah."


"Terimakasih."


Akhirnya mereka sampai di sekolahan juga, Alan dan Sarah turun dari mobil mereka berjalan beriringan. Bahkan Alan menggandeng tangan Sarah. Dan Sarah membiarkan hal itu karena ia juga menikmatinya. Keduanya saling jatuh cinta satu sama lain.


Nayla dan Rendi kesal melihat kemesraan Sarah dan Alan. Namun Nayla lah yang lebih terlihat mencolok kekesalannya. Ditambah bagaimana bisa Sarah keluar dari kamar mandi. Nayla mulai berfikir apakah Alan yang telah membantu Sarah. Karena kamarin Alan yang menunggu Sarah.


Alan dan Sarah masuk ke dalam kelas, mereka duduk satu bangku. Alan menatap Sarah keduanya kini saling tatap menatap satu sama lain.


"Sarah ada yang ingin aku katakan padamu."


"Apa katakan saja."


"Aku benar-benar jatuh cinta denganmu, lupakan pacaran kontak kita dan lupakan persaingan ketika ujian. Aku sudah tidak peduli lagi."


"Benarkah? Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu."


Alan menggenggam erat tangan Sarah, keduanya terlihat sangar bahagia sekali. Cinta Sarah dan Alan kini mulai menyatu, cinta yang selama ini diam-diam dikubur oleh Alan. Dan disembunyikan oleh Sarah.


"Terimakasih tuhan aku aku sangat bahagia sekali." Batin Sarah.


Nayla memiliki ide untuk menyebarkan kertas kontrak pacaran Alan dan Sarah. Ia ingin Sarah malu, dan marah dengan Alan karena mengira Alan hanya mempermainkannya saja. Karena pastinya Sarah tahunya hanya Alan yang tahu akan perjanjian kontrak pacaran mereka. Dan kertas itu ada di Alan satu dan didirinya satu.


Nayla sudah menyuruh orang rumah untuk mengcopy kertas kontrak pacaran Alan dan Sarah. Dan jika sudah jadi siap untuk disebarkan. Dan pasti Sarah akan sangat marah dan benci dengan Alan setelah itu. Ide busuk Nayla, yang tak pernah diketahui oleh Alan. Karena Nayla ingin Alan menjalankan rencananya dulu, bukan malah jatuh cinta dengan Sarah.


Jam istirahat Nayla mengambil copyan kertas kontrak itu. Ia menyuruh orang untuk membagikan kertas kontrak itu. Ia tak mau Alan tahu jika dirinya yang menyebarkan kertas kontrak itu. Nayla tersenyum sinis, ia akan menang lagi saat ini. Itulah yang ada dalam fikirannya, karena Alan hanya akan jadi miliknya.


"Lihat apa yang bisa aku lakukan, ini belum seberapa bisa lebih. Makanya jangan main-main dengan Nayla." Batin Nayla.

__ADS_1


Surat kontrak itu sudah menyebar entah apa yang akan terjadi sebentar lagi. Setelah semua siswa tahu jika hubungan Alan dan Sarah hanya settingan saja.


-tbc-


__ADS_2