Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(44)Tak Direstu


__ADS_3

"Apa salah jika aku menginginkan bahagia, tolong biarkan aku bahagia." Batin Sarah.


Ken kini mulai menentang hubungan Sarah dan Alan, biar bagimana pun Lea adalah adik kandungnya dan tak ada yang boleh menyakitinya. Ditengah bahagianya ada hati yang terluka hidup memang seperti itu. Sarah tidur, ia berharap esok hari akan jauh lebih menarik.


Fandy termenung di bengkelnya, Sarah yang memilih bersam lagi dengan Alan adalah kenyataan yang pahit baginya. Ia yang selalu ada untuk Sarah dan selalu menemani Sarah malah tidak mendapatkan cinta Sarah. Sedangkan dia Alan yang pernah menyakiti Sarah malah Sarah pilih untuk menjadi pendampingnya. Sungguh miris, namun itulah cinta tidak bisa dipaksakan.


Sarah dan Alan akan melakukan foto prawedding berdua dan bertiga bersama dengan Salsha. Alan sudah memesankan kostum yang akan mereka pakai dan juga sudah menyewa tempat. Dengan tema serba biru dan pink warna kesukaan Salsha. Salsha sangat senang karena akan memiliki seorang papa. Dan teman-temanya tidak akan mengejeknya lagi.


Malam itu suasana kembali memanas ketika keluarga Sarah makan malam bersama. Jujur saja Sarah semakin muak dengan sikap keluarganya. Dari kecil Sarah sudah dicampakan oleh ayahnya, dan kini ketika Sarah menikmati sedikit kasih sayang ayahnya malah banyak tidak suka padanya. Sarah merasa tidak pantas menjadi bagian dari mereka. Dan kini ia ingin segera menikah dengan Alan dan pergi dari rumah ayahnya. Karena mungkin kehadirannya tidak diharapkan oleh mereka semua.


"Sarah kamu yakin mau menikah dengan Alan?"


"Yakin Yah."


"Ayah hanya takut dia mempermainkanmu, sama seperti dia mempermainkan Lea."


"uhuk-uhuk." Lea tersedak ketika namanya disebut, Ken memberikan Lea minum.


"Minum dulu, pelakor mah biarin aja."


"kalau aku bilang Salsha anak Alan, apa ayah masih setuju? Nanti anak pungut ayah ini disakiti lagi."


Semua diam, ayah Sarah menatap Sarah seperti bertanya apa benar yang diucapkan oleh Lea. Jika Salsha adalah putri kandung Alan.


"Apa benar itu?"


Sarah menelan ludahnya, ia menyuruh Salsha untuk masuk ke dalam kamar. Dan Salsha menurut, Ken mengantarkan Salsha sampai di kamar.


"Iya Yah, Alan ayah kandung Salsha karena itu aku tak setuju Alan dengan Lea. Karena Alan hanya ingin mendekati Salsha. Kareba kemarin aku melarangnya bertemu dengan Salsha."


Ayah Sarah memegangi dadanya, karena dadanya terasa sesak. Ia mulai ragu dengan Alan, ia takut jika Alan akan kembali berbuat hal serupa.

__ADS_1


"Yah, ayah kenapa?" Lea memedekati ayahnya.


"Tidak ayah tidak apa-apa, antarkan ayah ke kamar. Dan kamu Sarah ayah tak memberimu restu menikah dengan Alan."


Sontak Sarah sedih, dan ingin marah namun ia menahan amarahnya. Untuk apa ayahnya melarangnya, meski Sarah tahu pasti ayahnya cemas. Namun Sarah sudah benar-benar tek betah tinggal di rumah ayahnya itu. Di rumah yang seperti di neraka saja, semuanya panas.


Sarah masuk ke kamarnya, ia menyusul Salsha dan Salsha terus menanyakan apakah Alan benar-benar ayah kandungnya. Sarah hanya bisa diam, dan mengatakan pada putrinya jika dirinya sedang tidak enak badan dan ingin istirahat sejenak. Sarah membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. Ia berharap ayahnya merestui hubunganya dengan Alan setelah ayahnya tahu jika Salsha adalah anak Alan.


"Jangan lupa besok sayang, aku kamu dan Salsha." Sebuah pesan singkat Alan untuk Sarah.


Seharusnya ini jadi hari-hari bahagia Sarah namun semua malah seperti ini. Seharusnya ayahnya tak perlu tahu jika Alan adalah ayah Salsha. Orang yang menghamili Sarah lalu meninggalkan Sarah, parahnya Alan dulu menyuruh Sarah untuk aborsi. Dan kini Alan ingin menikahi Sarah, seorang ayah pasti tak akan setuju jika kisahnya seperti itu.


Pagi itu Sarah terbangun dari tidurnya, ia bersiap-siap mandi karena ada jadwal operasi jam 8 pagi dan jam 11nya Sarah dan Alan akan melakukan foto prawedding. Sarah dan yang lainnya Sarapan, tak ada tawa atau suara hanya hening dan juga tegang sekali.


"Sarah, ayah mau kamu hentikan pernikahanmu dengan Alan. Ayah rasa Alan tak pantas untukmu."


"Tapi yah aku tidak bisa, aku dan Alan saling mencintai."


"Bosan itu wajar ayah, tapi aku yakin Alan akan jadi ayah yang terbaik. Ini semua demi Salsha."


"Jika kamu masih menikah dengan Alan tinggalkan rumah ini dan ayah tidak mau mengenalmu lagi."


"Tapi aku ingin restu ayah, karena ayah yang akan menjadi waliku."


"Aku akan tetap menjadi walimu karena itu adalah kewajibanku."


Sarah meninggalkan rumah karena ia harus ke rumah sakit. Salsha tidak bersekolah karena kondisinya belum sehat benar. Sarah bingung harus bagaimana lagi karena ia ingin mendapat restu ayahnya. Dan ia juga ingin menikah dengan Alan, Alan adalah cinta sejatinya.


Alan membeli bunga untuk Sarah, bunga aster kesukaan Sarah. Dirangkai dengan sangat indahnya, Alan masih di toko bunga. Ia juga menuliskan kata-kata romantis untuk Sarah. Alan meninggalkan toko bunga, dan ingin ke rumah Sarah untuk mengantarkan bunga sekaligus mengajak Sarah untuk foto prawedding.


"Bunga aster kesukaanmu, semoga kamu suka. Aku mencintaimu." Batin Alan.

__ADS_1


Ken melihat keadaan Salsha, Ken mempengaruhi Salsha untuk tidak suka dengan Alan. Ken tak mau Lea terluka, karena Ken tahu Lea masih mencintai Alan. Dan saat ini hati Lea pasti sangat terluka karena dipermainkan oleh Alan. Dan paling parah Alan akan menikah dengan Sarah, kakak tiri Lea.


"Salsha suka dengan om Alan? Salsha benar-benar mau om Alan yang jadi ayah Salsha?"


"Iya dong, om Alan kan baik."


"Om Alan itu jahat, kalau dia baik dia tak akan mungkin membuat tante Lea sedih."


"Jadi tante Lea sedih marah-marah itu karena om Alan?"


"Iya begitulah."


"Nanti Salsha bilang ke mama buat cari ayah lain."


"Lihat opa juga tidak suka kan dengan Alan, tadi aja opa marah sama mama Salsha."


"Iya, Salsha mau ayah yang lain saja."


Alan hampir sampai rumah Sarah, ponsel Alan berdering telfon dari mamanya. Alan mengangkat telfon itu, mamanya mengatakan jika akan pulang dalam waktu dekat. Alan sangat senang sekali, karena mamanya akan pulang. Dan bisa melihatnya menikah dengan Sarah, dan bisa bertemu Salsha cucunya.


Saking senangnya Alan tak melihat jika lampu rambu lalu lintas berwarna merah. Kecelakaan tak bisa dihindari mobil Alan bertabrkan. Dan sepertinya Alan terluka parah. Dan saat itu Sarah merasakan getaran aneh, ia merasa akan terjadi hal buruk. Alan masih di dalam mobil dengan kondisi luka parah dan penuh dengan darah.


-Bersambung-


Haii kemarin ada yang komen kapan Alan kecelkaan dan sekarang terjadi hehe.


--Jangan lupa tinggalkan jejak-


9 dino meneh rasane sue, aku kangen sliramu mas, curhat sitik yo para pembaca. Kangen mbi bojo ceritanw wkwk, koyo abg jek kangen2nan maklum pejuang Ldr.


-Salam jawa timur-

__ADS_1


__ADS_2