
Sarah menatap Alan, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak ingin Alan mempermainakan Lea, tapi ia juga tak mau kembali dengan Alan. Alan yang sepertinya sudah berubah, Sarah melihat Alan sebagai orang yang penuh dengan ambisi dan juga amarah. Disamping itu Alan juga berubah menjadi kasar. Dapat dilihat dari cara bicara Alan. Alan yang berani mengatakan jika Sarah adalah pelac*r.
"Jawab Sarah sayang."
"Jam makan siangku habis, kita bicarakan lagi besok. Tapi aku harap kamu tidak mengangguku lagi, karena aku sudah bahagia sekarang."
"Benarkah? Bukanya setiap malam kamu masih memikirkanku?"
"Tidak, tidak pernah sama sekali."
"Jangan bohong aku bisa baca pikiranmu, dari gerak-gerikmu."
Sarah sudah malas mendengar ocehan Alan, ia meninggalkan Alan karena ada operasi yang harus ia tangani. Nyawa seseorang lebih penting dari pada harus mendengar ocehan tidak jelas Alan. Alan menatap kepergian Sarah, hingga Sarah hilang dari padanganya.
"Aku tahu Sarah kamu pasti akan memilih kembali padaku." Batin Alan.
Alan meninggalkan rumah sakit karena ia juga harus kembali ke tempat kerjanya. Alan sangat yakin jika Sarah pasti tak mau saudara tirinya menderita. Dan memilih kembali bersama denganya.
^^^"Aku tidak tahu apa alasanmu ingin kembali lagi denganku, atau hanya karena ambisimu atau memang kamu masih mencintaiku." Batin Sarah.^^^
Sarah kembali dihadapkan dengan pisau bedah, ia mencoba tenang karena nyawa orang adalah taruhanya. Menyelamatkan orang adalah tujuannya, karena ibunya dulu tak selamat karena rumah sakit menolaknya. Karena tak mampu membayar biaya rumah sakit. Sarah menyisihkan gajinya untuk orang-orang tak mampu yang membutuhkan biaya perawatan.
Sore itu Sarah mampir membeli martabak manis kesukaan Salsha. Ia yakin Salsha pasti sangat senang, karena jarang-jarang Sarah membawakan makanan untuk Salsha. Sarah lebih sering membelikan buku cerita dan juga mainan untuk Salsha. Setelah membeli martabak barulah Sarah pulang. Sampai di rumah Sarah langsung mandi. Ia tak ingin ada virus yang menempel di tubuhnya menginfeksi Salsha.
Dalam masa pandemi seperti ini Sarah harus lebih sering cuci tangan dan juga mandi. Wabah yang menyerang dan belum ditemukan vaksinya. Wabah yang sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya asal imum orang yang terjangkit itu memiliki imun kuat. Sarah selesai mandi, ia masuk ke kamar Salsha dan memberikan martabak untuk Salsha.
"Salsha, mama bawa martabak buat Salsha."
"Hore..akhirnya boleh makan yang manis-manis."
"Boleh, tapi tidak boleh sering-sering nanti giginya bolong dimakan ulat. Ulat suka manis tau."
"Iya ma."
Sarah menatap Salsha yang tengah lahap memakan martabak. Salsha sama seperti Alan suka dengan martabak dan juga makanan manis. Sarah menyuruh Salsha untuk pelan-pelan makan martabaknya.
Sarah melihat Lea lewat kamarnya, ia memanggil Lea. dan Lea pun berhenti, mereka kini berhadap-harapan. Terlihat Ken dari kehajauhan memperhatikan Lea dan juga Sarah.
"Ada apa?"
"Jauhi Alan, dia bukan laki-laki baik-baik."
__ADS_1
"Dia baik, apa kamu tidak melihat dia sangat baik dengan Salsha."
"Jauhi dia jika tidak kamu akan menyesal."
"Menyesal? Tidak mungkin, apa kamu iri dengaku karena tak ada laki-laki yang mendekatimu karena kamu hamil duluan?"
Sarah hanya terdiam, Ken datang ia menyuruh Lea untuk masuk ke kamarnya. Dan Ken ingin bicara dengan Sarah. Ken ingin tahu kenapa Sarah melarang Lea dekat dengan Alan. Ken dan Sarah masuk ke kamar Sarah.
"Ada apa? Apa kamu kenal dengan Alan."
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu melarang Lea dekat dengan Alan, bukanya lebih baik seperti ini Lea jadi ceria dan juga baik dengan Salsha."
Sarah meneteskan iar matanya, Ken jadi bingung karena Sarah menangis. Sarah tak bisa bicara apa-apa lagi.
"Ada apa Sarah katakan yang sebenarnya."
"Alan.."
"Iya kenapa dengan Alan."
"Benarkah?"
Sarah menangia tersedu-sedu, Ken tak ingin Salsha mendengar tangis Sarah. Ken mencoba menenangkan Sarah, akhirnya Sarah sedikit tenang. Ken tahu betapa pedihnya hati Sarah saat ini.
"Jangan kasih tahu Lea tentang ini, aku takut Lea tidak bisa menerima semua ini. Dan semakin marah padaku."
"Tenanglah."
"Dan tujuan Alan mendekati Lea adalah untuk mengambil Salsha dariku."
Ken keluar dari kamar Sarah, ia jadi bingung harus bagaimana. Karena ia juga tak mungkin membiarkan Lea masuk jebakan Alan. Apalagi Alan adalah ayah dari Salsha dan belum tentu Lea percaya begitu saja jika Alan adalah ayah Salsha.
^^^"Aku tak tahu kenapa orang-orang tak membiarkanku bahagia. Baru saja aku menemukan setitik kebahagiaan , dan kini ada saja yang mengusik kebahagiaan itu." Batin Lea.^^^
Lea bingung karena Sarah mengatakan jika Alan bukan orang baik-baik. Lea berfikir apakah Sarah kenal dengan Alan. Dan apakah benar yang dikatakan oleh Sarah, Lea memilih berendam di bak mandi. Ia ingin menyegarkan fikiranya dan tidak mau terlalu banyak berfikir.
Makan malam, suasan hening menyelimuti hanya celoteh Salsha yang terdengar. Lea enggan menatap Sarah meski Sarah terus Lea. Sarah berharap Lea sadar jika Alan bukan laki-laki baik-baik.
"Jangan menatapku seperti itu, sudah ku katakan resikonya akan ku tanggung sendiri. Aku akan tetap bersama dengan Alan, karena dia adalah bahagiaku."
__ADS_1
"Jangan menyesal nantinya jika tahu sebenarnya, dan siapa Alan yang sebenarnya."
"Memang sebenarnya Alan siapa? Penjahat? Jelas-jelas dia adalah seorang pengacara."
"Lebih baik kamu cari tahu dulu, latar belakang Alan."
"Sarah kakak tiri aku yang hamil duluan, kamu aja enggak bisa jaga diri sok-sok ngasih tahu aku. Ini hidupku apapun yang terjadi bukan urusanmu."
Lea yang tak nafsu makan akhirnya kembali ke kamarnya. Ken bingung harus berbuat apa, ia masih tak yakin jika Alan adalah ayah Salsha. Ken juga masih ingin cari tahu kebenaran yang sesungguhnya seperti apa. Sarah menyuapi Salsha, ayah dan ibu mereks juga baru saja turun dari kamar atas.
"Mana Lea?"
"Di kamar bu."
"Kenapa tidak ikut makan."
"Tidak tahu bu."
"Ya udah ibu mau panggil Lea dulu."
Ibu memanggil Lea, Lea tengah menangis di kamarnya karena Sarah menyuruhnya untuk melupakan Alan.
"Lea sayang ada apa, ayo makan."
"Tidak mau bu."
"Kenapa cerita pada ibu."
"Aku ingin Sarah dan Salsha keluar dari rumah ini."
"Sabar sayang, jika Sarah menikah pasti dia keluar dari rumah ini atau kita singkirkan dia dengan cara lain."
"Cara apa bu?"
"Kita kasih racun kemakanan mereka, dan mereka akan pergi selamaya. Harta ayah nanti cuma untuk kamu dan Ken."
"Ide bagus, kapan kita lakukan hal itu?"
"Pelan-pelan saja sayang."
-Bersambung-
__ADS_1