
"Turunin di sini, apa kamu mau ikut mandi?"
"Kalau boleh ya mau ikutlah."
"Dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri memangnya tidak boleh?"
Sarah terdiam, Danil menurunkan Sarah dari boponganya. Kini keduanya saling pandang, Sarah memasang wajah garangnya.
"Aku cuma bercanda, lagian kita kan hanya pura-pura menikah. Dan setelah satu tahu kita ceraikan? kita pisah?"
"Iya itu kamu ingat."
Sarah masuk ke dalam kamar mandi, ia jadi sedih karena Danil akan menceraikanya setelah satu tahun. Dan perhatian Danil selama ini mungkin hanya kehaluan Danil yang kambuh. Sarah berendam di bak mandi, ia memikirkan hubunganya dengan Danil dan juga hubungannya dengan Alan.
"Setelah perpisahan, ku masih selalu ingin tahu keadaanmu. Dan aku masih ingin tahu apakah kamu juga merasakan yang sama denganku." Batin Sarah.
Malam itu Alan sendirian di rumah, ia bersantai di dekat kolam renang. Asisten rumah tangga Alan hanya memperhatikan Alan dari kejauhan saja. Reza juga sudah pulang, karen hari ini ia tidak menginap. Alan menikmati hembusan angin yang terus menerpa tubuhnya. Membiarkan tubuhnya kedinginan terkena angin malam.
"Sedang apa kamu Sarah, apa kamu masih memikirkan aku yang buta ini." Batin Alan.
Air mata Alan tejatuh ketika mengingat Sarah dan juga penghianatan yang telah dilakukan oleh Sarah. Luka dan kenangan indah menyatu dalam pikiran Alan saat ini.
Sarah selesai mandi, karena sudah makan malam Sarah memilih untuk rebahan saja. Danil datang ke kamar dengan Salsha. Salsha memeluk mamanya, Salsha ingin dibacakan cerita mamanya. Sarah membacakan cerita untuk Salsha. Sementara Danil memijat lembut kaki Sarah.
"Seharusnya aku yang mijitin kamu bukan kamu mijitin aku."
"Aku hanya ingin jadi suami idaman seperti di youtube itu loh."
"Itu hanya hoax, enggak ada laki-laki yang bisa secare itu pada istrinya."
"Ada."
"Siapa?"
"Ya aku."
Sarah menatap Danil lekat-lekat, begitu pula dengan Danil.
"Ciee romatisnya mama sama papa."
"Apaan sih Salsha tau apa kamu."
__ADS_1
Sarah mencubit lembut pipi Salsha, Salsha tertawa begitu pula dengan Sarah dan juga Danil. Nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Semoga mama dan papa selalu tersenyum dan tertawa seperti ini ya allah." Batin Salsha.
Alan yang sudah merasa mengantuk hendak kembali ke kamarnya. Namun tak sengaja ia terpleset dan jatuh ke kolam renang. Alan nampak meminta tolong, meskipun ia bisa berenang namun ia tidak bisa melihat. Alan nampak berusaha mencari tepi kolam renang itu. Namun ia kini seperti akan tenggelem dan kehabisan nafas. Asisten rumah tangga Alan tak kunjung datang. Selang 5 menit barulah asisten rumah tangga Alan datang.
"Aduhh den, bibi juga enggak bisa berenang. Tunggu den bibi cari bantuan dulu."
Asiaten rumah tangga Alan meminta bantuan satpam untuk membantu Alan. Dan akhirnya datang juga, satpam itu langsung nyebur ke kolam renang dan membantu Alan. Alan sudah tak sadarkan diri, dan dibawa ke rumah sakit.
Alan dibawa ke rumah sakit malam itu juga, kondisi Alan belum sadarkan diri. Alan dibawa ke rumah sakit, dan rumah sakit itu adalah tempat Sarah berkerja. Alan masih dalam penanganan, asisten rumah tangga Alan terlihat cemas.
"Semoga den Alan baik-baik saja." Batin Asisten rumah tangga Alan.
Sarah tidur di ranjang dan disusul oleh Danil, Sarah menatap Danil. Seolah ia tak ingin jika Danil ikut tidur bersamanya.
"Kenapa? Apa tidak boleh? Bagaimana kewajibanmu sebagai seorang istri?"
Sarah kembali menatap Danil, namun seketika ia menunduk lagi. Danil tahu jika saat ini Sarah belum siap. Dan Danil pastinya akan menunggu sampai Sarah siap, baru Danil akan melakukan apa yang ia inginkan.
"Maafkan aku, sampai saat ini aku belum siap melakukan hal itu. Tunggu sampai anak kita lahir."
"Kenapa? Bukanya kalo menjelang lahiran harus banyak hubungan ya? Cari jalan buat debaynya, eh buat jalan maksudnya."
"Apa dia bukan bayi kita? Apa dia bukan darah dagingku? Apa kamu main gila dengan Alan?"
"Apa yang kamu katakan."
Danil emosi, ia teringat dengan omongan Lea, jika Alan dan Sarah masih sering berhubungan. Dan mereka juga masih saling mencintai.
"Kamu bertemu denganya kan kemarin?
Danil bertanya dengan nada kasar, Sarah terdiam. Butiran bening dari matanya hampir turun, entah karena sedih atau karena ia takut.
"Kenapa hanya diam saja, jawab aku Sarah, apa kamu masih menemuinya?"
Sarah menunduk jujur saja ia masih bertemu dengan Alan meski itu harus diam-diam. Sarah hampir menteskan air matanya antara ia takut atau sedih.
"Jawab Sarah, apa kamu masih menemui laki-laki itu?"
"Iya aku masih menemuinya."
"Plakk.."
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sarah, Sarah memegangi pipinya sakit karena ditampar Danil. Sarah menangis ia menyuruh Danil pergi. Danil merasa bersalah karena menampar Sarah.
"Pergi.."
"Maaf Sarah aku tidak sengaja."
"Pergi kamu."
Danil memeluk paksa Sarah, Sarah meronta mencoba untuk melepaskan pelukan Danil. Namun sia-sia saja tenaga Danil jauh lebih kuat darinya.
"Lepaskan."
"Aku akan melepaskanmu jika kamu tenang, ibu hamil tidak boleh stres apalagi emosi."
"Baiklah aku akan tenang."
Danil melepaskan pelukannya, ia menyuruh Sarah untuk rebahan. Danil memijit lembut kaki Sarah, mencoba untuk membuat Sarah tenang.
"Kamu harus tenang, aku minta maaf."
Danil mengulurkan tanganya itu, Sarah meraih tangan Danil. Tanda jika ia memaafkan Danil, dan Sarah tak ingin Danil melakukan hal itu.
"Kenapa kamu menemuinya? Apa kamu merindukanya?" Danil bertanya pada Sarah dengan nada lembut.
"Aku hanya ingin tahu keadaanya, kamu tahukan aku meninggalkanya dalam kondisinya yang seperti itu? Aku hanya ingin tahu apa dia baik-baik saja."
"Tetap saja aku harap kamu tidak menemuinya lagi."
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah milikku dan aku ingin memilikimu sepenuhnya."
Di sisi lain Alan masih dalam kondisi kritis, Alan banyak meminum air. Paru-paru Alan penuh dengan air, para dokter berusaha untuk mengeluarkan air dari paru-paru Alan. Keluarga Alan belum ada yang datang, karena mereka masih dalam perjalanan dari luar negeri. Kesepian adalah hal yang biasa bagi Alan. Reza juga datang untuk melihat keadaan Alan. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Alan.
Kembali lagi ke Sarah dan Danil yang masih saling pandang satu sama lain.
"Apa kamu yakin?"
"Aku ingin bertanya padamu, apakah janin yang ada dirahimmu benar darah dagingku? Apa janin itu anak Alan? Apa kamu melakukan hubungan terlarang itu lagi dengan Alan?"
Sarah terdiam, ia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Danil. Keduanya saling pandang satu sama lain.
-Bersambung-
__ADS_1
JANGAN LUPA KOMEN YA TINGGALKAN JEJAKMU HEHEH BIAR AKU SEMANGAT GITU.