
..."Jiwaku seperti melayang, ragaku terasa ringan. Mataku mulai terpejam semua terasa gelap, dan tak tersisa cahaya."...
...-Alan-...
Alan diangkat dari mobilnya kondisinya luka parah, salah satu seorang warga menelfon ambulan. Mobil Alan mengeluarkan asap. Alan di bawa ke rumah sakit, kandas sudah harapan Sarah untuk prawedding hari ini. Mungkin inilah pentingnya restu dari orang tua, Alan tidak sadarkan diri. Alan telah sampai di rumah sakit, ia langsung ditangani oleh para dokter.
Mama Alan panik karena mendengar benturan ketikan ia bertelfonan dengan Alan. Dan tiba-tiba saja telfon Alan mati, dan itu membuat mamanya Alan jadi panik. Sarah telah selesai di rumah sakit, ia segera ke rumah untuk bersiap-siap foto prawedding. Sarah yakin Alan sudau menunggunya, senyum Sarah mengembang.
Sarah telah sampai di rumah, ia mandi dan bersiap-siap. Sarah tengah merias wajaynya di depan cermin, dan ponselnya berdering. Sarah mengangkat telfon dari Alan, yang ternyata itu dari kantor polisi.
"Saudara Alan kecelakaan dan saat ini ada di rumah sakit."
Sekita hancur sudah hati Sarah, ponsel Sarah terjatuh, ia tak jadi memakai gaunya dan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alan. Sarah sangat cemas, ia sangat takut kehilangan Alan. Air matanya tak bisa dibendung, Sarah menangis.
"Kenapa tuhan, kenapa semua tak adil bagiku. Bahagiaku mana bahagiaku?" Gerutu Sarah.
Sarah sampai rumah sakit, Alan masih ditangani oleh para dokter ahli. Dan ia hanya bisa menunggu dengan harap-harao cemas. Sarah yakin keadaan Alan tidaklah sedang baik-baik saja. Karena banyak dokter yang menangani Alan.
"Tetaplah hidup, dan ingat janju kita tuk selalu bersama." Batin Sarah.
Ken yang mendapat kabar jika Alan kecelakaan jadi kasihan dengan Sarah. Sejak kecelakaannya tempo lalu, Ken jadi anek kadang ia baik dengan Sarah dan kadang ia benci dengan Sarah. Sepertinya ada sedikit masalah di otak Ken karena kecelakaan kemarin.
"Jika kamu segera bangun akan ku katakan pada Salsha jika kamu adalah ayah kandungnya, maka cepatlah bangun." batin Sarah.
Para dokter yang menangani Alan telah keluar, Alan telah melewati masa kritisnya namun Alan belum sadarkan diri. Kaki Alan mengalami kelumpuhan yang bersifat sementara. Dan juga mengalami cedera ringan di otak kecilnya. Sarah melihat keadaan Alan, Alan masih belum sadarkan diri. Dokter juga mengatakan jika mata kiri Alan terkena serpihan kaca, sehingga harus diperban. Belun diketahui apakah Alan mengalami kebutaan atau tidak.
Sarah menangis seakan takdir tak membiarkannya bahagia. Seakan takdir terus saja menamparnya, seperti tak tersisa bahagia untuknya. Saran menenyentuh jari-jari Alan, jari yang terasa dingin itu. Sarah meninggalkan Alan karena ia harus menjemput Salsha. Salsha pasti sedih jika tahu Alan kecelakaan dan acara pernikahan ibuya ditunda.
Sarah pulang ke rumah setelah ia menjemput Salsha, Sarah menunggu Salsha ganti baju dan akan membawa Salsha ke rumah sakit. Sarah belum memberitahu Salsha jika Alan kecelakaan, jadi tahunya Sarah akan mengajaknya jalan-jalan dengan Alan
"Bahkan aku mulai takut menghancurkan perasaan buah hatiku." Batin Sarah.
Ayah Sarah memanggil Sarah, Sarah masuk kamar ayahnya. Ayahnya meminta tolong Sarah untuk membantunya minum obat. Sarah mengambilkan air putih dan obat. Ayah Sarah meminum obat dengan dibantu oleh Sarah.
"Ayah mau bicara sama kamu."
__ADS_1
"Katakan ayah apa yang mau ayah bicarakan?"
"Ayah mau kamu menikah dengan anak teman ayah, ayah tidak ingin kamu menikah dengan Alan."
Sarah terdiam mana mungkin ia bisa menikah dengan orang tidak ia kenal. Dan bagaimana ia bisa meninggalkan Alan. Sarah tak mungkin bisa melakukan itu semua.
"Aku mau menikah dengan Alan, bukan yang lain. Lagian Sarah juga tidak kenal dengan anak teman ayah."
"Bisa diatur nanti ayah akan atur untuk kalian bertemu."
"Terserah ayah."
Sarah meninggalkan kamar ayahnya itu, ia menuju tempat Salsha. Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Salsha heran karena mamanya hanya tampil biasa saja.
"Ma kok enggak ndandan cantik?"
"Mamakan udah cantik."
"Hehehe iya ma, kita mau ke rumah papa ya? Om Alan maksudnya."
Sarah hanya tersenyum saja, sampailah Sarah di rumah sakit. Salsha bingung karena mamanya membawanya ke rumah sakit.
"Om Alan kecelakaan."
Salwsha dan Sarah melihat keadaan Alan, Alan terbaring di ranjang rumah sakit. Alan dinyatakn koma, entah kapan Alan akan bangun dari komanya. Dan pilihan Sarah hanya bisa menunggu saja.
"Cepatlah bangun." batin Sarah.
"Om Alan ayo bangun kita ke mall lagi, aku mau es krim, boneka dan juga mainan." ucap Salsha dengan polosnya.
Tak ada pergerakan dari Alan, Alan masih diam saja. Alan tidak bangun, Salsha bingung dan Sarah mengajak Salsha untuk keluar. Karena ia tak sanggup lagi melihat keadaan Alan yang penuh dengan alat bantu. Orang tua Alan belum juga datang, hanya om dan tante Alan yang ada di sana.
Ayah Sarah akan menjodohkan Sarah dengan orang yang ia rasa layak untuk Sarah. Dan esok Sarah dan orang yang akan dijodohkan dengan Sarah akan bertemu. Mereka akan langsung membahas pernikahan bukan lagi pertunangan dan tak perlu lamaran langsung saja menikah.
Lea senang karena ayahnya menjodohkan Sarah, dan itu tandanya ada kesempatan untuknya bisa mendapatkan cinta Alan.
__ADS_1
"Dunia terasa kembaki jingga dan hampa tanpa hadirmu." Batin Sarah.
..."Aku ingin bangun dan memelukmu, namun tak bisa. Serberkar cahaya yang kelihatanya nyata namun hanya semu saja."...
...-Alan-...
Ponsel Sarah berdering dan itu adalah telfon dari ayahnya. Sarah disuruh untuk segera pulang, Sarah akhirnya pulang. Sampai di rumah ia dikejutkan dengan jamuan makan siang. Entah apa yang direncanakan oleh ayahnya.
"Itu dia putri saya Sarah."
Sarah memperkenalkan dirinya, dan menjabat tangan para tamu.
"Sarah ini Danil, dia yang akan menjadi calon suamimu."
Sarah terdiam sejenak, ia tak mengerti dengan ayahnya itu. Karena ayahnya tak tahu apa yang sebenarnya bisa membuatnya bahagia. Danil adalah duda namun tak memiliki anak, istrinya meninggal karena kanker darah. Danik bukan duda tua, Danil masih muda, hanya lebih tua 2 tahunan dari Sarah.
"Danil."
"Sarah."
Keduanya berjabat tangan, tak ada perasaan apapun dan mereka akan segera dinikahkan. Sarah pamit ke kamar, Salsha juga mengikuti Sarah.
"Jadi om itu ayah Salsha Ma?"
"Salsha diam, mama mau istirahat dulu."
"Kan ada tamu ma, ada ayah juga."
"Kamu keluar dulu sayang, nanti mama nyusul."
Salsha menurut ia keluar dari kamar Mamanya dan kembali ke ruang tamu.
..."**Ayah orang yang baru aku temui kurang lebih baru 6 tahun terakhir, kini malah menghancurkan hidupku. Dan mematikan rasaku, perjodohan yang tak ku inginka."...
...-Sarah**-...
__ADS_1
-Bersambung-
Salam dari Nay, mahmud yang kurang kerjaan ini.