
Malam itu Sarah nampak sangan cantik, makan malam romantis bersama dengan Danil suaminya. Salsha di rumah bersama asisten rumah tangga mereka. Danil nampak kagum melihat kecantikan Sarah. Mereka berangkat, dan saat ini tengah berada di dalam mobil. Danil menyetel musik dengan nuansa romantis, sedangkan Sarah terlihat sangat canggung dengan suasana seperti ini.
"Kamu sangat cantik malam ini, istriku." ucap Danil.
"Jadi biasanya tidak cantik mas?" tanya Sarah.
"Canti, tapi malam ini kamu cantik sekali." ucap Danil.
Danil mengentikan laju mobilnya, Sarah nampak bingung karena Danil menepikan mobil di jalan.
"Ada apa mas?" tanya Sarah.
Danil malah hanya menatap Sarah, dan kini ia menarik nafasnya.
"
y.Aku ingin memandang wajahmu sekejab saja, aku mencintaimu Sarah." ucap Danil.
Sebuah ciuman mendarat di kening Sarah, Sarah nampak malu. Kini Danil melanjutkan perjalanan, dan mobil mereka kini telah melaju di jalan.
"Jika kamu tahu aku berkhianat apa yang akan kamu lakukan padaku mas? Apa kamu masih bisa tetap manis seperti ini." Batin Sarah.
Sarah tak yakin jika Danil akan tetap seperti ini jika ia tahu jika dirinya berkhianat. Namun cinta tak bisa dipaksakan, Sarah masih saja tetap cinta dengan Alan. Karena sampai saat ini Sarah masih belum yakin jika janin yang ada dikandunganya itu adalah anak Danil. Karena ia telah mengulang dosa besar bersama dengan Alan sebelum ia menikah dengan Danil.
Mia menelfon Reza, ia menanyakan tentang keadaan Alan. Reza tahu jika Mia mencintai Alan, karena kedatangan Sarahlah Mia jadi milih mundur saja. Reza mengatakan pada Mia jika Alan baik-baik saja. Namun perban mata Alan belum di buka. Itulah yang dikatakan Reza pada Mia.
"Kamu perempuan baik Mia, memang lebih baik kamu mundur saja. Karena kisah cinta Alan dan Sarah itu rumit. Dan sepertinya Alan adalah orang yang rumit." Batin Reza.
Sampailah di rumah makan yang dituju Danil, dan ternyata Danil sudah membooking restoran itu agar tidak ada orang selain mereka. Restoran itu juga dihias dengan lilin-lilin, menambahkan romantia suasana. Sarah jadi gugup, ia tak tahu jika seorang Danil bisa seromantis ini. Bahkan jauh lebih romantis dari Alan, Sarah menatap Danil begitu pula dengan Danil.
"Ada apa sayang?" tanya Danil.
"Tidak, bukankah ini berlebihan? Ini terlalu mewah." ucap Sarah.
"Aku baru saja mendapat bonus, jadi bisalah aku menyenangkan istriku tercinta ini." ucap Danil.
__ADS_1
Sarah hanya tersenyum, Danil menuntun Sarah dan menggandeng tangan Sarah. Mereka duduk di meja yang sudah dihias. Seorang pelayan membawakan makanan dan juga minuman untuk Sarah dan Danil. Musik klasik diperdengarkan untuk mereka. Sungguh sangat romantis, ingin rasanya saat ini Sarah berdansa dengan Alan. Namun kenyataanya yang di sampingnya adalah Danil dan bukan Alan.
"Suapin." ucap Sarah spontan yang membayangkan jika Danil adalah Sarah.
"Manja sekali istriku ini, tapi tidak apa-apa. Karena aku memang ingin kamu seperti ini." ucap Danil sambil menyuapi Sarah makanan.
Namun malah membuat Sarah blepotan karena Danil tak bisa pas ketika menyuapi Sarah. Danil mengambil tisu dan mengusap bibir Sarah.
"Padang aku seperti ini untuk beberapa saat." ucap Danil.
Sarah terpaku, mereka saling padang satu sama lain hingga Danil selesai mengusap bibir Sarah. Kini keduanya makan bersama, Sarah dan Danil nampak menikmati semua ini. Danil mengajak Sarah untuk berdansa, namun sebelum berdansa Danil memberikan hadiah untuk Sarah. Danil membelikan anting berlian untuk Sarah, yang mungkin harganya ratusan juta.
"Mas, pasti ini mahal ya?" tanya Sarah.
"Enggak kok sayang, disimpan nanti buat biaya kuliah Salsha. Anggap itu investasi kitakan tidak tahu nanti kedepannya seperti apa." jawab Danil.
"Makasih mas." ucap Sarah.
Danil mengulurkan tangganya, dan Sarah meraih tangan Danil. Kini mereka berdansa bersama. Berdansa mengikuti alunan musik. Sarah terpana akan keromantisan Danil, apa lagi Danil ternyata juga memikirkan masa depan Salsha. Dan sebenarnya Danil adalah ayah sambung indaman. Setelah selesai berdansa mereka kembali menyatap makanan dan juga makanan penutup barulah mereka pulang.
"Apa kamu senang sayang?" tanya Danil.
Selesai makan Danil tak langsung mengajak Sarah pulang, Danil mengajak Sarah jalan-jalan terlebih dahulu. Sarah dan Danil sama-sama senang. Mereka menikmati malam terakhir sebelum Danil pergi ke luar kota.
"Jaga janin kita, saat aku jauh esok. Aku akan cepat kembali, ini demi keluargamu." ucap Danil.
"Kok demi keluargaku? Memangnya kenapa?" tanya Sarah.
"Karena jika nanti aku berhasil dengan proyek ini, ayahku bakalan baliki semua saham yang ia tarik dari perusahaan ayah kamu. Dan juga akan membantu suntikan dana untuk mereka." jawab Danil.
Sarah memeluk Danil, dan mengucapkan terimasih pada Danil. Danil dan Sarah keluar restoran, dan saat ini mereka berada di dalam mobil.
"Andai saja aku bisa jatuh cinta padamu mas, kamu sangat baik sekali. Tapi entah kenapa aku tidak bisa jatuh cinta padamu." batin Sarah.
Mereka tak jadi jalan-jalan karena teringat dengan Salsha. Mereka membawakan cemilan untuk Salsha, pasti Salsha juga sudah menunggu mereka.
__ADS_1
"Kalau aku keluar kota besok, kamu jaga hati ya. Jangan ingat-ingat Alan lagi." ucap Danil.
Sarah terdiam sejenak, ia bingung harus menjawab apa, karena ia masih sering bertemu dengan Alan. Dan punya niatan untuk kembali lagi.
"Iya mas." jawab Sarah lirih.
Kini mereka sudah sampai rumah, dan ternyata benar Salsha belum tidur. Dan ternyata Salsha menunggu Danil dan juga Sarah.
"Akhirnya papa sama mama pulang juga." ucap Salsha.
"Ini aku buat cemilan buat Salsha." ucap Danil.
"Makasih papa." jawab Salsha.
Danil mengantarkan Salsha ke kamar, dan menyuruh Salsha untuk makan cemilan itu besok. Danil pamit jika esok ia akan keluar kota. Salsha jadi sedih dan minta ditemani tidur Danil. Danil menemani Salsha tidur dan membacakan cerita untuk Salsha. Setelah Salsha tidur barulah Danil pergi meninggalkan Salsha.
"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah. Aku mencintaimum" ucap Danil sambil mengecup kening Salsha.
Danil menuju kamarnya, dan melihat Sarah belum tidur. Danil menuju kamar mandi untuk gosok gigi, setelah itu ia menyusul Sarah tidur di ranjang.
"Kamu pasti nunggu aku ya?" ucap Danil.
"Apaan sih kamu mas." jawab Sarah.
"Jujur saja, merah tu pipinya." ucap Danil.
Danil mengecup pipi Sarah dan kini Sarah makin jadi salah tingkah. Danil gemas melihat ekpresi Sarah yang seperti itu. Danil malah terus menggoda Sarah, hingga Sarah sedikit marah.
"Ayolah sayang kita lalukan sekarang, sebelum aku keluar kota." ucap Danil.
"Aku kan sudah bilang mas nanti kalau anak kita sudah lahir." ucap Sarah.
Dan kini keduanya saling pandang satu sama lain.
-Bersambung-
__ADS_1
Haii Readers aku mencintaimu...
Jangan lupa mampir terus dilapak mahmud ini