Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(43) Acara Lamaran


__ADS_3

..."Hatiku tahu di mana harus berlabuh, dan hatiku juga tahu kemana untuk kembali. Pada akhirnya hatiku memilih dirimu, dirimu yang pernah hadir dihidupku."...


...-Sarah-...


Pagi itu Sarah bangun dari tidurnya, ia menyapa Salsha. Sarah menyuruh Salsha bangun karena sebentar harus berangkat ke sekolah. Sarah sudah menyiapkan pakaian Salsha dan juga menyi


apkan roti isi untuk Salsha dan juga yang lainnya. Salsha selesai mandi, dan sudah dipakaikan baju oleh pembantu Sarah.


"Udah cantik anak mama."


"Iya dong ma."


Suasana meja makan jadi hening, keluarga yang tadinya agak hangat kini menjari semakin dingin. Hanya ayah Sarah yang tak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Selesai sarapan Sarah mengantar Salsha ke sekolah. Ken pergi ke kantor dan Lea pergi ke kampus.


"Tunggu pembalasanku, aku tak akan membiarkanmu bahagia, karena kamu sumber hilangnya bahagiaku." Batin Lea.


Siang itu Alan sudah bersiap untuk melamar Sarah, Sarah juga sudah selesai dari salon. Ia menggunakan jasa salon untuk tampil sempurna dihari yang sangat spesial untuknya. Sarah terlihat sangat cantik, terlihat masih seperti gadis. Meski ia pernah melahirkan seorang putri di luar nikah.


"Cantik sekali, pasangan nona sangat beruntung."


"Bisa saja mbaknya ini."


Sarah pulang ke rumah, ia memberi tahu Ken jika siang nanti Alan akan melamarnya. Sarah sudah memesan makanan untuk acara lamaranya. Meski kedua orang tua Alan tidak bisa hadir dan diwakilkan oleh om dan tante Alan. Lea yang mendengar kabar jika siang nanti Alan akan datang untuk melamar Sarah semakin merasa panas saja.


Alan menuju rumah Sarah bersama dengan keluarganya. Alan datang dengan membawa seserahan dan juga yang lainnya. Masih sama Alan masih sangat tampan dan juga menawan. Sampailah rumah Sarah, orang rumah dikagetkan atas kehadiran Alan. Karena memang Sarah tak memberitahu jika Alan akan datang untuk melamarnya. Karena mereka tahunya Alan itu dekat dengan Lea bukan Sarah.


Alan dipersilakan masuk, Sarah keluat dari kamarnya. Sarah sangat cantik dengan gaun warna peace senada dengan kemeja Alan. Pembantu Sarah menghidangkan makanan yang telah dipesan oleh Sarah. Alan menaruh seserahan yang ia bawa.


"Maksud kedatangan saya kemari karena saya ingin melamar Sarah. Dan akan segera menikahi Sarah."


"Bukanya kamu dekat dengan Lea?"


"Tidak, itu karena saya ingin dekat dengan Salsha putri Sarah."


"Kalau om terserah Sarahnya saja."

__ADS_1


Alan menatap Sarah, begitu pula dengan Ken serta ibu Lea. Lea tak hadir karena ia terlalu sakit jika melihat Alan dengan Sarah. Alan yang mendekatinya, dan Alan juga yang meninggalkannya. Rasa sakit itu sangat nyata dirasakan oleh Lea.


"Aku izikan Alan menjadi ayah Salsha."


Andai saja Salsha sudah pulang dari sekolahan pasti ia sangat senang karena Alan akan menjadi Papanya. Alan memberikan kalung berlian untuk Sarah, Alan memakaiankan kalung berlian itu di leher Sarah. Sarah senang begitu pula dengan Alan.


"Pesan om untuk kamu Lan, jaga Sarah baik-baik om yang baru bertemu dengan Sarah melepaskan tanggung jawab om pada kamu. Tolong jaga, sayangi anak om seperti ibunya menyayanginya waktu kecil. Dan jika suatu hari kamu tak lagi cinta denganya, jangan katakan itu padanya tapi katakan saja pada om. Biar om yang akan mengambilnya dan mencintainya." ucap ayah Sarah.


"Saya akan menjaga Sarah, dan akan membuat bahagia Sarah. Saya berjanji tidak akan membuat Sarah menangis."


Kedua belah pihak kini merembuk acara pernikahan mereka, pernikahan yang akan dilakukan 2 minggu lagi. Sarah dan Alan sangat senang sekali, bahagia yang mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Acara ditutup dengan makan bersama, Alan juga mengatakan setelah menikah nanti ia akan membawa Sarah dan Salsha ke rumah baru mereka.


Lea baru saja datang dan acara selesai, tinggal makan-makan saja. Lea tak selera makan dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia seperti marah besar hingga mengobrak-ngabrik isi kamarnya itu. Ia marah akan semua yang tidak berpihak kepadanya. Semua bahagianya sirna begitu saja, dan tak tersisa sama sekali.


"Jika aku tak bahagia kamu juga tidak boleh bahagia. Karena sakitku harus kamu rasakan juga." Batin Lea.


Salsha pulang dari sekolahan, Sarah menyuruh Fandy untuk menjemput Salsha. Fandy juga baru tahu jika Alan dan Sarah hari ini lamaran. Fandy patah hati untuk keseskian kalianya. Sarah yang ia cintai kedua kalinya lebih memilih Alan dari pada dirinya.


"Selamat ya Rah, Lan kalau begitu aku pamit dulu."


Fandy dan Sarah saling pandang, Sarah mengucapkan terimakasih pada Sarah. Fandy pergi meninggalkan rumah Sarah. Sarah tahu saat ini hati Fandy terluka, karena dirinya tidak bisa membuka hati untuknya.


"Apa dia masih mencintaimu? Dia itu Fandykan? Apa kalian masih sering bertemu?"


"Aku investor di bengkel mobil Fandy, dan kami masih bertemu tapi tidak sering. Aku hanya menganggapnya kakakku sendiri. Kalau perasaan Fandy padaku, aku tidak tahu."


"Jangan dekat-dekat denganya, nanti aku cemburu."


Acara selesai keluarga Alan dan juga Alan pamit pulang, Salsha senang karena yang akan menjadi ayahnya adalah Alan. Sarah masuk kamarnya, ia membersihkan make up dan juga ganti baju.


"Katakan padaku ma, kapan mama bertemu om Alan. Dan kapan kalian saling jatuh cinta."


"Sudah lama, sayang masih kecil juga bicara tentang cinta."


Lea mengetuk pintu kamar Sarah, ia mengatakan pada Sarah ada sesuatu hal yang penting yang ingin Lea bicarakan. Sarah menyuruh Salsha untuk istirahat di kamar dan jangan keluar. Sarah mengikuti Lea, ia penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Lea sebenarnya.

__ADS_1


"Ada apa, katakan padaku."


"Bangga ya kamu bisa mendapatkan Alan? Ini yang kamu bilang mau selamatin aku dari Alan."


"Posisinya beda Lea, Alan mengancamku."


"Tapi nyatanya kamu bahagiakan? Dasar jal*ng, Pelac*r kamu."


..."Plakk.."...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lea, Sarah tak sanggup lagi dihina seperti itu dengan Lea.


"Berani ya kamu!"


"Sudah cukup ya Lea, aku tahu kamu tak suka denganku dan Salsha. Sebentar lagi kita kan pergi."


Kenb datang dan menghentikan perdebatan Lea dan juga Sarah. Ken menatap Sarah, ia seperti marah dengan Sarah. Ken juga menatap sejuk Lea, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.


"PLAK"


Sebuah tampatan mendarat mulus di pipi Sarah, tampatan dari tangan besar milik Ken.


"Itu untuk apa yang telah kamu lakukan pada adikku Lea, sudah cukup aku baik padamu tapi ini balasanmu."


Sarah memegangi pipinya itu, Sarah pergi meninggalkan Lea dan juga Ken. Ken memeluk Lea, dan kini Lea mendapatkan Ken kembali. Lea masih ingin mendapatkan Alan juga.


--Bersambung--


Haii Nay datang lagi, bagaimana hari ini sehat bukan? Mari kita bersyukur.


"Dan hari ini masih sama, aku masih merinduknnya. Karena rindu itu curang tak mau berkurang malah bertambah."


-Nay-


Authoe bucin yang udah mahmud hehhe

__ADS_1


__ADS_2