
...Jika waktu dapat diputar, dan jika waktu dapat diulang....
...Aku tak ingin melakukan hal itu denganya....
...Kini hanya sia-sia, dan tak ada gunanya lagi....
...Penyesalan hanya datang diakhir saja, dan kini aku menyesalinya....
...-Sarah Shakilah-...
Alan mengajak Sarah pulang karena saat ini fikiranya sangat kacau sekali. Ia tak mau semakin marah-marah dan emosi meledak-ledak. Intinya Alan ingin Sarah menggugurkan janinya. Namun Sarah kekeh ingin mempertahankan janinya itu. Ia tak mau melalukan dosa untuk yang kedua kalinya. Janin yang tak berdosa itu berhak untuk melihat indahnya dunia.
"Aku tunggu besok pagi, dan kita akan segera pergi. Dan masalah akan terselesaikan. Aku mencintaimu Sarah." Alan mengecup kening Sarah dan kemudian pergi meninggalkan Sarah.
Sarah masih teediam menatung di depan rumahnya itu, ia tak tahu kenapa Alan menyuruhnya untuk aborsi. Selain dosa, tapi juga bahaya karena bisa saja nyawanya yang ikut terancam karena aborsi itu. Sarah masuk ke dalam rumah, ia masuk ke kamarnya. Sarah mulai meratapi kesalahan yang ia perbuat. Seharusnya ia tak melakukan kesalahan sefatal itu.
Sarah meneteskan air matanya, gadis yang biasanya tegar kini menangis. Sarah mengusap air matanya ketika ibunya datang. Ia tak ingin ibunya tahu kondisinya saat ini. Karena pasti ibunya akan sangat kecewa. Karena dirinya tak mampu menjaga kehormatanya itu.
"Kenapa sayang? Kamu habis menangis, ada apa? Katakan pada ibumu ini, siapa tahu ibu bisa bantu."
__ADS_1
"Tidak ibu aku tidak sedang menangis, mungkin hanya mengantuk lalu menguap dan mengluarkan air mata."
"Ya udah tidur sana, kalau ada apa-apa panggil ibu ya."
"Iya bu."
Ibu Sarah keluar dari kamar Sarah, kini Sarah memejamkan matanya ia berharap esok Alan sadar dan tak jadi menyuruhnya untuk aborsi. Karena Sarah tak mau melakukan hal itu. Yang dia inginkan adalah menikah dengan Alan dan menjalani semua dari awal lagi. Sarah terlelap dalam tidur, yang mungkin saat ini telah mimpi indah.
Sementara Alan tak bisa tidur, di sisi lain janin itu adalah anaknya. Namun ia juga tak bisa mengorbankan masa depanya demi menikah dengan Sarah saat ini. Alan ingin menikah dengan Sarah tapi 4 atau 5 tahun lagi dan bukan saat ini. Alan bingung memikirkan semuanya. Mana mungkin ayahnya akan mengizinkankanya menikah dengan Sarah.
Pasti ayahnya juga akan menyuruh Sarah aborsi, demi masa depan Alan dan juga Sarah. Karena Alan dan Sarah masih kecil untuk menjadi seorang ayah. Alan sudah bertekat besok pagi akan mengantarkan Sarah untuk aborasi saja. Mungkin itu adalah jalan yang terbaik yang dipilih oleh Alan.
Pagi itu Sarau bangun tidur, ia menahan rasah mual yang ia rasa. Ia tak ingin ibunya curiga, ibu Sarah sudah berangkat berjualan kue putu. Sarah mandi dan mutah-mutah. Perut Sarah sakit, karena ia tak nafsu makan. Ia seharusnya pergi ke dokter untuk mendapatkan vitamin malah Alan mengajaknya ke klinik aborsi.
^^^"Maafin mama sayang, mama enggak bisa pertahanin kamu. Mama ingin kamu tetap bersama mama, mama enggak iklas kamu dibunuh oleh alat-alat medis itu." batin Sarah.^^^
Sarah telah siap, Alan menarik tangan Sarah dan kini mereka berada di depan mobil. Dan mereka sempat berdebat, dan perdebatan mereka tak sengaja didengar oleh Fandy.
"Aku mau mempertahankan janin ini Lan, dia kita masa kamu tega."
__ADS_1
"Enggak bisa Rah, kita harus tetap lalukan ini demi kebaikan kita."
Alan menyuruh Sarah masuk ke dalam mobil, Sarah menangis dalam perjalanan. Namun Alan hanya diam saja ia membiarkan Sarah yang terus menangis. Bahkan saat ini Alan tidak peduli dengan calon anaknya dan juga Sarah. Karena baginya saat ini yang penting adalah masa depanya. Ia masih ingin menjadi pengacara handal, dan juga masih ingin menikmati masa mudanya.
Alan belum siap mejadi ayah, dan masih ingin bersenang-senang. Meski sampai saat ini perasaanya pada Sarah masih sama. Ia masih sangat mencintai Sarah. Alan masih bisa menerima Sarah tapi ia tidak bisa menerima janin yang ada di kandungan Sarah. Akhirnya sampai juga di klinik aborsi yang dituju oleh Alan. Alan membukakan pintu mobil dan menyuruh Sarah untuk turun.
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja." Alan mengusap rambut Sarah.
Sarah hanya mengangguk saja, ia tak tahu apa yang akan terjadi nanti di dalam sana.
^^^"Bagimana kamu bisa bilang semua akan baik-baik saja? Aku tidak sedang baik-baik saja saat ini apa kamu tahu? Aku takut, bahkan aku tak mau janin ini gugur." Batin Sarah.^^^
Perlahan Sarah memasuki klinik itu, mereka masih antri karena banyak yang melakan aborsi. Kebanyakan adalah hamil di luar nikah. Ada juga yang aborsi karena kehamilan yang tidak direncanakan. Suhu tubuh Sarah naik drastis, ruangan yang ber Ac kini terasa panas baginya. Sarah takut, ia sangat takut ingin rasanya ia segera pergi dari klinik itu.
Alan menggenggam tangan Sarah, tangan Sarah yang terasa dingin namun tubunya berkeringat. Alan tahu jika saat ini pikiran Sarah sedang beradu. Namun Alan tak mau tahu aborsi harus segera dilakukan. Dan keputusan Alan sudah bulat, meski Sarah terus memberi saran. Sarah pamit keluar sebentar cari angin, dan Alan mengizinkan.
Sarah keluar dari klinik itu, tujuannya yang sebenarnya bukan cari angin tapi ia ingin kabur. Ia tak mau mengggugurkan buah hatinya itu. Fandy yang sedari tadi mengikuti Alan memanggil Sarah. Fandy meminjam motor tentangganya. Sarah datang ke Fandy, dan mereka pergi meninggalkan klinik itu. Fandy yang tahu Sarah cekcok dengan Alan sebelum berangkat memilih untuk mengikuti Sarah.
Sarah menangis dalam boncengan Fandy, Fandy membiarkan tangis Sarah. Fandy tahu jika Sarah hamil karena tempat yang dituju adalah klinik aborsi. Fandy membiarkan tangis Sarah agar Sarah tenang. Dan setelah tenang barulah ia akan berhenti dan meminta penjelasan dari Sarah.
__ADS_1
Alan marah karena Sarah kabur, karena tak bisa memakai cara baik-baik. Esok hari Alan akan datang lagi ke rumah Sarah bersama dengan anak buahnya untuk menyeret paksa Sarah untuk aborsi. Alan kesal seharusnya hari ini janin itu sudah gugur, dan Sarah hanya mengulur waktu saja. Alan masih ingin tetap bersama dengan Sarah namun tanpa janin yang ada di kandungan Sarah.
-tbc-