Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(55)Mual


__ADS_3

"Jadi seperti ini rasanya harus diam-diam seperti ini agar aku bisa dekat denganmu." Batin Sarah.


Alan minum air dengan bantuan Sarah, yang ia kira adalah Mia.


"Gerimis Mia?"


"Iya pak, apa mau pulang?"


"Tidak, aku ingin hujan-hujan."


"Nanti sakit, mamanya bapak marah sama saya."


"Kamu tenang saja Mia, sudah berapa kali jangan panggil saya bapak. Panggil saja Alan, atau mas Alan."


"Iya mas Alan."


Sarah sedih karena Alan begitu manis pada Mia, dan Alan malah bersikap kasar padanya. Alan mengusirnya dan tak mau menerima penjelasan darinya. Sarah meneteskan air matanya, kini ia merasa hidup dalam kesunyian. Hujan semakin deras, Sarah menuntun Alan untuk berteduh. Namun Alan menolaknya karena ia ingin hujan-hujanan.

__ADS_1


Alan ingin menceritakan rasa sedihnya pada hujan. Hujan yang menyamarkan air matanya, air mata seorang laki-laki adalah air mata yang sangat tulus. Alan hujan-hujan, sementara Mia berteduh dan Sarah ikut membiarkan dirinya kehujanan seperti Alan.


"Mia kamu harus rasakan ini, ini sangat menyenangkan."


"Tidak mas Alan, hujan itu menyakitkan bagiku."


Sarah memberi kode untuk membiarkannya hujan-hujan bersama dengan Alan. Sarah masih Alan anggap Mia, mereka hujan-hujan bersama. Membiarkan air hujan membasahi tubuh mereka. Seakan kini mereka manyatu dengan hujan. Alan mengajak Mia menari di bawah guyuran air hujan. Dan sebenarnya Sarah yang ia ajak menari.


Sarah bahagia karena pagi-pagi ia sudah bisa menari bersama dengan Alan. Namun waktunya tidak banyak lagi ia harus pergi ke rumah sakit karena itu adalah kewajibannya. Hujan reda Alan mengajak Mia untuk pulang, Sarah juga pergi ke rumah sakit. Sebelum pulang ia mengucapkan terimakasih pada Mia. Karena Mia ia bisa dekat dengan Alan.


Mia jelas melihat cinta di mata Sarah, dan ia juga melihat rindu dari gerak Alan. Alan yang mencoba untuk mengusir Sarah. Namun hatinya berkata lain, itulah cinta Alan dan Sarah saling mencintai namun tak bisa menyatu. Tugas Mia selesai, dan akan digantikan oleh Reza. Mia pamit dengan Alan setelah mereka sampai rumah.


"Hati-hati Mia, terimakasih untuk hari ini."


"Sama-sama mas Alan, Mia pamit besok ke sini lagi."


Alan mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Mia juga sudah menuju tujuannya, karena Mia harus kuliah juga. Sementara itu Sarah masih mampir toko baju untuk membeli baju karena bajunya basah kuyup seperti itu. Ia tak mungkin ke rumah sakit dengan kondisi seperti itu.

__ADS_1


"Aku tahu kamu merindukanku Lan, aku bisa merasakanya." Batin Sarah.


Fandy penasaran seperti apa Danil, ia akan berkunjung ke rumah Sarah sore nanti. Sudah lama juga ia tidak bertemu dengan Salsha. Andai saja dirinya yang jadi ayah Salsha pasti Fandy akan sangat bahagia. Kini ia tengah menikmati secangkir kopi di bengkelnya. Kehidupan ekonomi Fandy sudah membaik hingga Fandy bisa menguliahkan dan menyekolahkan adik-adiknya. Dan ini semua berkat Sarah, dan untuk itulah Fandy masih menunggu Sarah.


Danil tidak bisa konsentrasi ia masih memikirkan Sarah. Entah ada getaran aneh yang kini menjalar di tubuhnya. Danil sama sekali tak ingin menghianati Cantika, namun kini sepertinya cinta Danil mulai berkhianat. Diam-diam benih-benih cinta itu tumbuh di hati Danil. Danil ingin mendapatkan cinta Sarah. Dan ingin mulai hidup baru dengan Sarah dan juga Salsha.


Sarah merasa tak enak badan, ia mual-mual di toilet rumah sakit. Sarah berfikir jika dirinya masuk angin karena tadi hujan-hujanan dengan Alan. Namun ia juga takut jika dirinya hamil. Ia tidak tahu itu buah hatinya dengan Danil atau dengan Alan. Karena sebelum kecelakaan Sarah dan Alan mengulangi dosa yang pernah mereka buat.


Sarah panik namun ia berusaha untuk tenang, Sarah berusaha berfikir jika dirinya hanya masuk angin. Sarah tak yakin jika itu anak Danil, jika hamil Sarah lebih yakin jika itu adalah buah cintanya dengan Alan untuk ke dua kalinya.


Sarah kembali ke ruangannnya hari ini jadwal operasinya tidak terlalu padat. Jadi Sarah bisa sedikit bersantai, namun santai malah membuatnya semakin kepikiran dengan mual-mual yang ia rasakan. Sarah makan siang di kantin rumah sakit.


Danil menatap foto cantika, Cantika cinta sejatinya hingga Cantika pergi bersama dengan calon jagoan kecilnya. Danil terus menatap foto Cantika sepertinya ia meminta izin pada Cantika untuk mencintai Sarah.


"Aku tahu ini salah, tapi yakinlah aku masih tetap mencintainya." Batin Danil.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2