Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(28)Kecelakaan Nayla


__ADS_3

..."Penyesalan hanya datang diakhir saja, dan saat ini aku benar-benar menyesal. Menyesal telah meninggalkanmu dan juga buah hati kita."...


...-Alan-...


Alan meratapi kepergian Sarah ia hanya diam dan terpaku di sana. Meksi dalam hatinya yakin jika sampai saat ini Sarah masih mencintainya. Dari sorot mata Sarah masih terlihat cinta dihati Sarah.


^^^"Aku masih sangat yakin masih ada cinta di hatimu, aku yakin suatu saat nanti kita akan bersama." batin Alan.^^^


Alan meninggalkan tempat kejadian dan kembali ke tempat kerjanya. Alan akan kembali lagi, dan ia ingin menemui Salsha esok hari. Alan sangat yakin jika anak kecil yang bersama dengan Sarah adalah anak dengan Sarah. Kejadian di mobil 5 tahun silam masih memberkas di hati Alan. Ingin rasanya Alan mengulang hal indah bersama dengan Sarah.


Alan kembali ke tempat ia berkerja, di jalan ia masih memikirkan Sarah. Ponsel Alan berdering dan itu adalah telfon dari Nayla. Nayla meminta Alan untuk segera melamarnya. Meski mereka tidak pernah pacaran, dan hanya kelihatan dekat saja. Nayla menganggap jika dirinya dan Alan adalah sepasang kekasih. Dan Alan hanya menganggap Nayla sebagai teman saja.


"Melamar? Apa?"


"Kenapa? Bukanya kita ini dekat dan kenapa kita tidak segera menikah saja."


"Kita perlu bertemh dan bicara."


Alan meluncur ke tempat Nayla, ia ingin meluskan tentang hubunganya dengan Nayla. Ia yang hanya menganggap Nayla sebagai sahabat saja. Alan sama sekali tak memiliki niatan untuk menikah dengan Nayla. Karena dalam hati Alan masih ada Sarah.


Alan dan Nayla bertemu disalah satu cafe, Nayla sudah datang sedangkan Alan masih di jalan. Nayla tak sabar Alan datang dan membawakanya cincin lalu melamarnya. Bayangan Nayla melayang-layang sampai kemana-mana. Agan yang terlalu besar bisa saja malah jadi kecewa yang ia dapat.


^^^"Kita akan bersama untuk selamanya, karena kamu adalah milikku. Dan kamu harus jadi milikku, meskipun aku tahu masih ada rasamu yang tertinggal untuk Sarah." Batin Nayla.^^^


Alan sampai di cafe, ia menemui Nayla. Dan kini mereka duduk berhadap-hadapan. Nayla sudah memesankan minuman untuk Alan. Nayla menatap Alan dalam-dalam dengan senyum manisnya itu. Alan menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nafasnya.


"Nay, kita memang dekat dan orang tua kita ingin kita bersama. Namun dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih cinta dengan Sarah. Kamu cantik dan baik Nay, aku yakin akan ada laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Dan yang pasti mencintai dirimu."


Nayla meneteskan air matanya, hampir 5 tahun bersama menemani Alan dan ternyata malah seperti ini. Semua ini tak sesuai dengan angan-angan Nayla, angan-angan untuk bisa bersama dengan Alan. Menikah dengan Alan, memiliki anak dan menua bersama.

__ADS_1


Alan mengusap air mata Nayla ia tak ingin Nayla menangis. Karena tangisnya juga tidak akan membuat perubahan apa-apa. Cinta tak bisa dipaksakan, karena cinta datang begitu saja dan mengalir seperti air.


"Sudah jangan menangis, ini kenyataanya aku tak bisa bersama denganmu."


"Kenapa apa kurangnya aku dibanding pelac*r itu?"


"Jangan katakan dia pelac*r, Sarah bukan pelac*r."


"Lantas apa kalau tidak, bahkan dia mau melakukan itu denganmu. Tanpa kamu bayar pula, mending pelac*r sekali kencan dapat uang banyak."


Alan meninggalkan Nayla ia tak mau lagi mendengar apa yang diucapkan oleh Nayla. Sedangkan Nayla marah-marah tidak jelas, seperti orang yang tak sadarkan diri. Nayla keluar dari cafe itu dan menuju mobilnya. Nayla tancap gas mengikuti Alan yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Kenapa Lan, kenapa bukanya aku ini cantik. Aku sudah berusaha seperti Sarah." Batin Nayla.


Nayla pergi dari cafe itu setelah membayar, lalu menuju mobilnya dan kemudian melaju. Di jalanan mobil Nayla terlihat melaju tak beraturan. Nayla stres berat karena Alan ternyata masih mencintai Sarah. Apalagi sekarang Sarah hadir lagi, Sarah yang terlihat lebih cantik dan juga sekarang menjadi seorang dokter.


"Jika aku tak bisa memiliki Alan maka Sarah juga tak boleh memiliki Alan." Suara Nayla terlihat sangat parau sekali.


Alan yang mendengar kecelakaan Nayla langsung datang ke rumah sakit untuk memastikan apakah yang kecelakaan adalah Nayla. Menurit napol mobil yang diinformasikan memang benar mobil Alan. Pikiran Alan juga kacau, ia merasa bersalah atas kecelakaan Nayla. Nayla yang baru saja ia tolak cintanya itu.


"Nay maaf, karenaku kamu jadi begini."


Sampailah di rumah sakit, Alan langsung menuju ruang jenaza. Alan melihat jenaza yang ada di depanya, dan kini mulai membuka kafan yang menutupi tubuh jenaza itu. Air mata Alan jatuh ketika tahu itu adalah Nayla, Alan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang di alami Nayla.


"Tenang di alam sana Nay, maaf jika aku yang membuatmu seperti ini. Maaf sekali lagi maaf, karena cinta memang tak bisa dipaksakan. Hati Alan masih untuk Sarah, dan Alan masih ingin menebus dosanya pada Sarah. Alan menyesal karena dulu malah menyuruh Sarah untuk mengugurkan janinya itu.


Sarah pulang dari rumah sakit, ia mampir ke bengkeazpmilik Fandy. Usaha Fandu yang di modali oleh Sarah kini semakin maju. Kehidupan Fandy mulai membaik, dan tak seperti dulu lagi.


"Gimana Fan lancarkan?"

__ADS_1


"Iya dong."


Fandy menyuruh Sarah untuk duduk, sedangkan Fandy menyuruh motirnya untuk membuatkan minuman untuk Sarah dan juga untuk dirinya.


"Tumbem mampir, kangen sama aku ya?"


"Aku ke sini cuma mau mampir saja, aku cuma mau curhat."


"Curhat aja kaya sama siapa."


"Aku bertemu lagi dengan Alan."


Mendengar kata Alan, Fandy terlihat kesal. Ia kesal karena sampai saat ini Sarah masih ingat dengan Alan. Dan Sarah masih tak bisa melupakan Alan, padahal Fandy berharap Sarah segera melupakan Alan dan Sarah bisa melihat kearahnya namun nyatanya tak bisa mencintai Fandy.


"Apa dia menyakitimu?"


"Tidak tapi dia ingin bertemu dengan Salsha."


"Lalu? Apakah kamu mengizinkanya?"


"Tidak, dia tidak pantas bertemu dengan Salsha, karena dulu dia tidak menginginkan kehadiran Salsha."


Minuman yang dibuatkan oleh montir Fandy datang, Fandy menyuruh Sarah untuk minum dulu. Fandy menarik nafasnya dalam-dalam seperti ada hal perting yang akan dikatakan oleh Fandy.


"Apa kamu sampai saat ini masih mencintainya? ķ masih ada Alan di hatimu?"


"Jujur iya, perasaan ingin kembali juga ada. Tapi aku terlalu takut untuk sakit hati lagi."


---Bersambung--

__ADS_1


Hai baru up lagi ini, karena banyak obrasan pasca melahirkan membuat author baru up.


__ADS_2