Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(50) Pisah


__ADS_3

Alan dibawa pulang oleh keluarganya, Alan masih dalam kondisi buta. Seakan karma akan apa yang ia lakukan dulu kepada Sarah mendapat imbasnya sekarang. Alan sangat sedih karena Sarah menikah dengan orang lain dan bukan dirinya. Padahal saat ini dirinya sudah benar-benar berubah dan ingin hidup bahagia dengan Sarah.


Alan teringat beberapa minggu yang lalu ia dan Sarah mengulang dosa yang terindah yang pernah mereka lakukan dulu. Alan kembali membuat tanda cinta dengan Sarah. Sungguh bisa-bisanya Sarah meninggalkannya setelah apa yang telah mereka lakukan bersama. Hati Alan sakit, namun ia tak bisa apa-apa, karena pasti dulu Sarah merasakan hal yang sama ketika ia menyuruh Sarah untuk menggugurkan kandungannya.


"Sarah apa ini balas dendammu padaku, apa ini caramu? Sungguh ini sangat menyakitkan untukku. Dunia kini gelap dan aku juga tak dapat melihatmu dan juga anak kita." Batin Alan.


Pagi itu Sarah sarapan dengan keluarga kecilnya, nampak seperti keluarga yang harmonis. Meski itu hanya sebuah kepura-puraan di depan Salsha. Sarah tak mau terlihat tak bahagia di depan anaknya. Dan Danil juga tak ingin Salsha tahu jika sebenarnya ia tak cinta dengan ibunya. Danil menyuapi Salsha, sedangkan Sarah makan dengan memegang ponselnya. Karena sepertinya ada operasi darurat yang harus ia kerjakan.


"Mama berangkat dulu ya, ada nyawa yang harus ditolong."


"Hati-hati ma."


"Aku berangkat dulu mas." Sarah mengecup punggung tangan Danil layaknya suami istri pada umumnya.


"Nanti biar Salsha sama papa berangkat ke sekolahnya."


"Iya pa."


"Sekarang makan dulu dan habiskan."


Sebenarnya bukan karena ada jadwal operasi mendadak, namun Sarah mendengar kabar jika Alan sudah sadarkan diri. Maka dari itu ia bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alan. Alan tak boleh tahu jika dirinya sudah menikah. Karena pasti hal itu akan membuat Alan semakin terluka dan menganggu metal Alan. Dan akan menghambat kesembuahan Alan jika Alan banyak pikiran dan merasa sedih.


Sampai di rumah sakit ternyata Alan sudah dibawa pulang oleh keluarganya. Orang tua Alan yang dulunga cuek dengan Alan kini berubah menjadi sangat perhatian. Mereka juga akan mencari donor mata untuk Alan. Kedua orang tua Alan siap membayar mahal untuk pendonor mata Alan. Sarah bertanya kepada petugas piket siapa suster yang jaga semalam.


Setelah mendapat jawabannya Sarah ingin tahu apakah suster Ani memberitahu Alan jika dirinya sudah menikah. Pikiran Sarah dipenuhi dengan rasa bersalah pada Alan. Apalagi ia tahu kondisi mata Alan yang buta. Sarah masuk toilet, ia membasuh mukanya untuk menyamarkan air mata yang turun membasahi pipinya.


Sarah hendak ke rumah Alan untuk menjelaskan semuanya. Namun tehalang oleh jadwal operasi yang harus ia tangani. Sesuai sumpahnya menjadi dokter maka ia akan menyelamatkan nyawa orang terlebih dahulu. Sarah berharap Alan bisa mengerti semua ini, dan menerima jika takdirnya mereka tak bisa bersama. Meski mereka saling mencintai satu sama lain.

__ADS_1


Danil mengantarkan Salsha, Salsha senang memiliki seorang ayah. Karena pastinya ia tidak akan diejek lagi oleh teman-temanya. Danil meninggalkan Salsha di seskolahan, dan ia menuju kantornya. Ia masih ingat apa yang ia lakukan dengan Sarah tadi malam. Ia merasa jika Sarah adalah Cantika. Sebelum ke kantor Danil mampir ke makam Cantika untuk minta maaf.


Danil berada di depan makam Cantika mantan istrinya itu. Danil membersihkan daun kering yang jatuh di makam istrinya itu. Ia juga membacakan doa untuk istrinya dan juga anaknya yang belum sempat lahir di dunia ini. Danil meminta maaf pada Cantika karena telah bermalam bersama dengan Sarah.


"Maafkan aku sayang, yakinlah cintaku masih untukmu dan akan selalu untukmu. Karena aku adalah milikmu untuk selamanya." ucap Danil di depan makam sang istri.


Danil meneteskan air matanya, setelah itu barulah Danil melanjutkan perjalanan menuju kantor. Tak lupa ia mengucapkan selamat tinggal untuk Danil. Danil memang sangat sering mampir ke makam istrinya. Meski sudah bertahun-tahun cinta Danil untuk istrinya masih tetap ada sampai saat ini.


Sarah selesai dengan operasinya, ia segera ganti baju dan akan segera ke rumah Alan. Ia ingin memastikan jika Alan baik-baik saja. Karena cintanya masih untuk Alan meski ia menikahnya dengan Danil. Dan semalam ia berbuat hal nekat dengan Danil. Dan jika nanti ia hamil ia tak tahu itu anak Danil atau Alan. Karena sebelum menikah dengan Danil Sarah melakukan hal itu lagi dengan Alan.


Sarah tak lupa juga mampir sebentar ke bengkel Fandy untuk meminta mendapat Fandy. Karena saat ini Sarah benar-benar merasa kacau. Ia juga dihantui rasa bersalah pada Alan. Fandy membuatkan minuman untuk Sarah. Sedangkan Sarah duduk di kursi kerja Fandy.


"Minum dulu, dan tenangkan pikiranmu. Tapi ini masih panas jangan terburu-buru, katakan ada apa?"


"Alan siuman, dan aku tak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana pada Alan."


"Jelaskan saja pelan-pelan, Alan pasti akan mengerti."


Fandy terdiam sejenak ia seperti memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu tak memilih bersama denganku saja, jika tidak dengan Alan? Kenapa harus dengan orang lain." Batin Fandy.


"Emm..sebaiknya kamu temui Alan."


Sarah pamit pergi kerena ia akan pergi ke rumah Alan dan menjelaskan pada Alan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah sekitar 15 menitan Sarah sampai depan pintu rumah Alan. Sarah memencet bel, dan Art Alan yang membukakan. Dan Mama Alan yang keluar bukan Alan.


"Mau apa kamu kemari? Cepat pergi Alan tidak butuh penghianat seperti kamu."

__ADS_1


"Tante biar saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, panggilkan Alan sekarang."


"Yang terjadi kamu menikah dengan orang lain dan meninggalkan anak saya yang sedang koma."


Sarah terdiam, namun kemudian ia berteriak memanggil nama Alan. Alan yang mendengar teriakan Sarah berusaha mencari sumber suara. Alan berlajan agak pincang, dan juga buta sungguh malang hidup Alan.


"Sarahhh mau apa kamu kemari?"


Suara lantang Alan terdengar dari luar rumah Alan. Ternyata Alan dibantu oleh pembatunya untuk sampai di depan pintu.


"Alan..aku bisa jelaskan semua ini. Aku terpaksa."


"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan, aku buta aku pincang dan aku tak pantas untukmu."


"Bukan seperti itu."


"Cepat pergi, aku tak mau ada kamu di sini, karena hanya membuat hatiku semakin terluka."


"Aku minta maaf."


"Maafmu diterima, tinggalkan tempat ini."


Sarah meninggalkan rumah Alan, ia tahu Alan tak memaafkanya dengan tulus. Sarah akan kembali lagi nanti untuk menemui Alan. Sampai Alan benar-benar memaafkanya..


-Tbc-


Setelahnya author minta maaf karena belum up ya. Dikarenakan suami pulang 4 hari jadi ya gitu menghabiskan waktu bersama suami dulu hehe. Maklum ldr sejak pacaran hehe.

__ADS_1


Semoga terhibur, jangan lupa jempolnya. Votenya. komenya, Ratenya.


tq ya


__ADS_2