
..."Aku mulai berharap ada pangeran tampan dan baik hati yang datang, dan membawaku pergi ke tempat ternyaman. Dan menjauhkanku dari masalalu yang menghantuiku."...
...-Sarah-...
Pagi yang sedikit mendung Sarah terlihat buru-buru karena ada jadwal operasi dipagi hari. Sarah menyuruh Ken untuk mengantarkan Salsha. Namun Lea menawarkan diri untuk mengntarkan Salsha. Sambil menunggu Alan menjemputnya, karena kemarin Alan bilang akan menjemputnya. Sarah sudah berangkat ke rumah sakit sementara Lea masih menunggu Alan menjemputnya.
"Ken aku titip Salsha ya?"
"Siap tenang saja, Salsha aman sama aku."
Sarah berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai mobil sendiri. Ia tidak meminta supir mengantarkannya, karena hari ini Sarah sangat terburu-buru karena ada jadwal operasi. Sarah kembali teringat dengan Alan, ia merindukan Alan namun ia tak mau bertemu dengan Alan.
Di rumah sakit Sarah disibukan dengan operasi, Sarah berkerja keras untuk mengangkat sebuah tumor ganas di otak pasiennya. Sarah dengan teliti dan sangat hati-hati ketika melakukan operasi itu. Operasi berjalan sekitar hampir 2 jam, barulah operasi selesai. Sarah keluar dari ruang operasi dan ia menuju ruanganya. Sarah baru sempat sarapan, ia memilih sarapan di luar.
Sarah mengajak Fandy untuk makan bersama, karena Sarah ingin curhat tentang Alan. Tentang hidupnya yang mulai terusik lagi akan kedatangan Alan. Alan yang datang hanya ingin mengambil Salsha darinya.
Dan saat ini Sarah sudah berada di sebuah restoran ia tengah menunggu kedatangan Fandy. Fandy datang setelah kurang lebih 10 menitan.
Sarah sudah memesankan makanan dan minuman untuk Fandy. Fandy duduk sambil menatap Sarah, ia ingin tahu apa akan diceritakan oleh Sarah padanya. Fandy sudah bisa menebak pasti tentang Alan, Alan yang mulai datang kekehidupan Sarah lagi.
"Ada apa? Katakan padaku, apa dia datang lagi? Apa perlu kita bersandiwara menjadi sepasang kekasih?"
"Tidak, aku hanya ingin Salsha terus bersamaku. Dan aku tak ingin Salsha tau jika Alan adalah ayahnya."
"Bagaimana jika kamu katakan pada Salsha jika aku adalah ayahnya."
"Nanti aku pikir-pikir dulu akutnya nanti malah menambah masalah baru."
"Baiklah, tenang aku tidak akan libatkan perasaanku dalam persoalan ini. Meski sampai saat ini perasaanku masih saja sama."
Sarah terlihat begitu pusing dan sangat lelah dengan kehidupannya yang saat ini. Ketika sekolah di luar negeri semua terlihat baik-baik saja. Sarah juga sudah memiliki tabungan, karena ketika ia kuliah sambip berkerja disebuah restoran sebagai asisten koki.
"Sudahlah jangan terlalu difikirkan orang seperti Alan memang susah ditebak. Karena ia biasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku yakin Alan akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkanmu dan juga Salsha."
__ADS_1
"Iya aku tahu, apalagi saat ini Alan mendekati Lea, aku harus apa?"
"Lea adik tirimu yang kamu bilang tidak suka padamu itu?"
"Iya."
"Ku rasa ini akan membahayakanmu, bisa saja Lea akan lebih membencimu ketika tahu kenyataanya Alan adalah ayah Salsha."
"Itu yang akau takutkan, aku takut Lea semakin tak menerima kehadiranku dan juga Salsha."
"Yang sabar Rah, semua akan baik-baik saja yakinlah."
Fandy menyentuh jari jemari Sarah, seolah ingin menggegam tangan Sarah. Namun Sarah memundurkan tanganya. Ia tak mau Fandy larut dalam perasaanya, karena Sarah hanya menganggap Fandy sebagai sahabatnya saja.
"Sudah dulu ya, lain kali kita bertemu lagi. Aku ada jadwal operasi sebentar lagi."
"Hati-hati di jalan, jangan lupa tengok kanan kiri. Ini di Indonesia jadi banyak pengendara ugal-ugalan."
"Siap bos, kamu juga hati-hati."
"Perasaanku masih sama Rah, aku masih saja mencintaimu. Meski sudah beberapa kali kau katakan padaku jika cintamu bukan untukku." Batin Fandy.
Alan tengah disibukan dengan pekerjaannya karena ada kasus yang harus ia tangani. Sepulang mengantarkan Salsha dan Lea ia langsung berangkat ke rumah keliennya. Kasus pembunuhan, Alan sudah menyarankan kepada keliennya untuk menyerahkan diri saja agar hukumannya tidak terlalu lama. Karena barang bukti dari pihak pelapor sepertinya sangat kuat.
..."Biarlah hening menyapa, dan sepi menemani. Sedang? merasa sepi dan sendiri meskipun dikeramaian."...
...-Sarah-...
Siang itu selesai dengan pisau bedahnya Sarah makan siang di kantin rumah sakit. Karena hari ini ayahnya libur maka ayahnya yang menjemput Salsha. Sarah malas keluar rumah sakit hanya untuk makan siang saja. Sarah makan bakso dan juga jus alpukat kesukaanya itu. Tak diduga Alan datang dan duduk di depanya ketika Sarah tengah menyantap bakso
"Mau aku suapin kayak dulu? Kita ulang lagi semuanya."
"Tidak yang perlu diulang lagi, sekarang pergi dari sini."
__ADS_1
"Tenang Sarah aku hanya ingin bicara sedikit denganmu."
Alan meraih tangan Sarah dan mengenggam lembut tangan Sarah. Namun Sarah menarik tanganya ia tak mau terhanyur dalam rayuan maut Alan. Alan tersenyum dan menatap Sarah.
"Jangan pegang-pegang, semua telah berakhir setelah dulu kamu memaksaku untuk aborsi."
Alan kembali tersenyum dan kini tangan jahilnya mengusap rambut Sarah. Sarah semakin naik darah, ia ingin marah namun karena dikeramaian ia tak mau marah-marah.
"Tapi masih ingat rasanya kan? Bahkan sampai saat ini aku tak bisa lupa."
Sarah hendak pergi namun tangan Alan kembali menarik Sarah. Dan mau tidak mau Sarah kembali duduk lagi. Dalam situasi yang sama sekali tak diinginkan oleh Sarah. Dihadapkan dengan Alan yang kini semakin kurang ajar padanya. Alan yang tak pernah memikirkan perasaanya itu.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"
"Sudah duduk lagi, lanjutkan makannya. Dan nanti akan aku katakan apa yang aku inginkan."
Sarah menurut saja ia kembali makan bakso, ia berharap hari ini segera usai dan ia tak bertemu lagi dengan Alan. Alan memperhatikan Sarah yang tengah makan, ia membayangkan saat-saat terindah di dalam mobil bersama dengan Sarah.
"Aku ingat ketika di dalam mobil, apa kamu juga suka menginggatnya. Dan apa kamu juga ingin mengulangnya lagi?"
"Aku bukan pelac*r, jadi tak mungkin ada keinginan untuk mengulang lagi. Dan kejadian itu adalah sebuah kesalahan fatal yang pernah ku lakukan. Hal paling bodoh yang pernah aku lakukan. Sekarang katakan apa yang kamu inginkan?"
"Aku punya penawaran untukmu."
"Apa?"
"Aku aka tinggalkan Lea, tapi kamu kembali padaku. Jika tidak aku akan buat Lea jadi jal*ngku. Sama sepetimu dulu."
Sarah terpaku ia tak tahy harus menjawab apa karena ini adalah pilihan yang sulit untuk Sarah.
-Bersambung-
Baru bisa upp ya, makasih yang masih setia baca
__ADS_1
jangan lupa VOTE, LIKE, RATE, KOMENTAR dan juga LOVE.
Karena itu semua adalah semangat Author untuk up.